Sumber : 
http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/14/percayalah-buku-mbah-surip-yang-ini-lain/
<http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/14/percayalah-buku-mbah-surip-yang-ini-lain/>

Bila ada pembaca mau lihat 4 (empat) buah gambar menyertai postingan,
silakan klik saja tautan yang telah saya sediakan di atas.


SEKURANG-kurangnya sudah ada lima buah buku yang diterbitkan mengenai sosok
dan kiprah Mbah Surip semenjak penyanyi nyentrik berambut gimbal dengan tawa
khas itu meninggal pada Selasa 4 Agustus 2009 lalu. Di *Toko Buku
Gramedia *Cijantung
Jakarta Timur, saya sempat mencatat (sekaligus diijinkan memotret, makasih
supervisor TB Gramedia) kelima buku yang telah diterbitkan tersebut.
Masing-masing: 1). *Mbah Surip I Love You Full* karya HM Siradj, 2). *Mbah
Surip Kesaksian dari Seberang Jalan* karya Achmad Mufid AR, 3). *Mbah Surip
I Love You Full* karya Riten Literatur, 4). *Tawa & Air Mata Mbah Surip
Mengungkap Rahasia Terdalam Mbah Surip* karya Hernawan Harnanto, dan 5). *Mbah
Surip We Love You Full…* karya Jodhi Yudono.

Empat buku pertama yang saya sebutkan di atas, telah saya *skimming *(teknik
baca cepat untuk mengidentifikasi ide pokoknya). Sedangkan buku ke-5, *Mbah
Surip We Love You Full..* karya Kompasianer Jodhi Yudono, telah saya baca
semenjak diluncurkan berbarengan dengan Perayaan Ulang Tahun ke-1 Kompasiana
pada 22 Oktober lalu di Marios Place Cikini Jakarta Pusat.

Ada yang perlu saya garisbawahi dari pernyataan singkat oleh Jodhi Yudono
pada peluncuran bukunya *Mbah Surip We Love You Full *tersebut*. *Ia
tidak semata-mata
mengharap keuntungan secara pribadi atas penerbitan bukunya itu. Ada misi
sosial didalamnya. Bila pembaca tertarik dengan isi buku yang pada
bagian-bagian berikut nanti saya ungkapkan, perlu diketahui bahwa 50 % dari
keuntungan atas royalti buku yang terserap oleh pasar akan disumbangkan
penulisnya kepada ahli waris Mbah Surip. Menurut Jodhi Yudono, hal itu telah
dibicarakan dengan ahli waris Mbah Surip. Lho kok bisa?

Inilah barangkali nilai plus dari misi penerbitan buku karya Jodhi Yudono
ini. Sementara itu, pembaca pasti akan dibuat tercengang manakala tahu
hubungan perkawanan yang sudah lama terjalin antara Jodhi dengan Mbah Surip
semenjak tahun 2003. Bahkan kala Mbah Surip belum apa-apa dan bukan
siapa-siapa, pada 2004, sebagai wartawan, Jodhi telah menuliskan profil Mbah
Surip di *Kompas Cyber Media* yang ia kemas dalam format percakapan (halaman
122).

Buku Jodhi ini nyaris menjadi biografi resmi Mbah Surip yang bernama resmi
Urip Achmad Ariyanto. Di Bab “Riwayat Buku Ini”, Jodhi juga menuturkan bahwa
gagasan membuat biografi Mbah Surip telah disepakati semenjak setahun
sebelum kepergiannya. Beberapa penerbit yang ditawari calon buku Mbah Surip,
rata-rata menjawab sama, “Siapa Mbah Surip?”

“Ternyata, segala ketertarikan saya terhadap Mbah Surip sebagai pribadi yang
unik dan penuh semangat yang layak diketahui publik, tidak cukup mampu
menggugah minat para penerbit untuk mengangkatnya ke dalam sebuah buku,”
ujar Jodhi.

Baru setelah lagunya seperti “*Tak Gendong*“, “*Bangun Tidur*“, “*Melody
Security*” meledak, dan Mbah Surip muncul tiap hari di pangung hiburan musik
dan wawancara televisi serta disusul oleh kematiannya yang mendadak,
penerbit besar dan kecil ramai merilis biografi Mbah Surip.

***

Buku yang tengah kita bahas ini banyak mengangkat obrolan-obrolan kecil
Jodhi dengan Mbah Surip dan kawan-kawannya yang acap nongkrong di Warung
Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan. Keseharian Mbah Surip yang selama ini
jarang diungkap, bisa ditemukan pada halaman-halaman buku ini.

Soal di atas, Jodhi menuturkannya dengan santai, “Status saya sebagai
wartawan sungguh menguntungkan buat saya. Itu artinya, saya lebih leluasa
dibanding kawan-kawan lainnya untuk bertanya-tanya kepada si Mbah.
Kawan-kawan lain boleh saja lebih lama mengenal si Mbah, tetapi urusan
mengorek “jeroan” si Mbah, bisa jadi saya lebih banyak kesempatan dan
alasan.”

Umpamanya mengenai asal usul jargon *I love you full*. Menurut Jodhi, kisah
lahirnya jargon terkenal Mbah Surip tersebut bermula ia berada di Belitung.
Kala itu, salah satu warung kopi yang menjadi favoritnya adalah warung kopi
milik Maryati Cui. Bukan lantaran kecantikan Maryati Chui yang membuatnya
betah berlama-lama di warung perempuan berdarah Cina itu. Melainkan kopi
bikinan Maryati yang menurut Mbah Surip, “Kopinya, itu loh… *buket*,* gandem
*, dan… *nuiiiikmat*.”

Lantaran rasa kopi bikinan Maryati Chui yang nikmat itulah, yang *buket *itulah
maka spontan dari mulut Mbah Surip yang hitam oleh nikotin, muncul jargon
spektakuler: *I love you full.*

Dibagian lain, Jodhi menceritakan kisah mengenai “Mbah Surip Nemu Setan.”
Melalui tulisan ini, kita disadarkan hal-hal manusiawi dari seseorang yang
memiliki rasa empati besar pada kejadian-kejadian kecil yang dialaminya.
Tentang apa yang dibicarakan Mbah Surip saat menemukan “setan”, silakan saja
pembaca cari di buku yang tengah kita bahas ini.

Yang sudah jelas pasti, pembaca tidak akan rugi membaca dan mengoleksi buku
karya Jodhi Yudono ini. Banyak hikmah tersembunyi yang akan pembaca
dapatkan, pun sebelum menyelesaikan halaman-halaman akhir buku ini. Pembaca
juga disuguhi lirik-lirik lagu Mbah Surip, yang apabila dihayati memiliki
filosofi hidup sangat mendalam. Penyajian yang segar dan menggelitik dari
buku karya Jodhi ini, hemat saya, menjadi kekuatan tersendiri dari buku ini.

Percayalah, buku Mbah Surip yang ini lain….

*****

*Biografi Singkat Jodhi Yudono*

Dilahirkan di Cilacap pada 16 Mei 1963. Mulai menulis tahun 1989 dimuat
beberapa media di Semarang, Jakarta dan Yogyakarta. Tahun 1990 menjadi
wartawan di Tabloid *Citra*, tahun 1996 bergabung di Majalah *
Jakarta-Jakarta*, dan tahun 2000 hingga kini bekerja sebagai wartawan di *
Kompas.Com*.

Selain menulis, Jodhi juga serius bermusik yang ia awali saat di Semarang
pada tahun 1980-an. Kala itu, selain sebagai ilustrator musik teater, juga
membuat musikalisasi puisi karya sendiri dan karya beberapa penyair
Semarang.

Tahun 1990 pindah ke Jakarta. Pernah menggarap ilustrasi musik sinetron
Lelaki dari Tanjung Bira (TVRI-1993), konser di beberapa tempat (Jakarta,
Serang, Bandung, Purwokerto, Wonosobo, Bali dan Salatiga).

Pernah membuat album kompilasi berjudul  “Satu Hati” (2006) bersama Iwan
Fals, Toto Tewel, Doel Soembang, Franky Sahilatua, Trie Utami, dan beberapa
nama lainnya. Album ini diniatkan untuk menyumbang para korban bencana alam.


Ikut terlibat dalam album kompilasi “Musikalisasi Angin pun Berbisik” (2008)
bersma Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Nino (RAN), Endah and Reza, dan
Dody-Rico-Christian (Tiket Band).

Musik yang dibawakannya bergaya balada dengan titik perhatian pada tema-tema
kemanusiaan dan lingkungan.

Belakangan ini, selain bernyanyi di panggung-panggung bersama kelompok
Kwartet on the Street, juga menjalankan program musik penghiburan untuk para
orang tua dan teman-teman yang sedang sakit.

####


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke