Obama tidak Mampir ke Indonesia
Memang tidak ada sesuatu yang harus diangap penting bahwa Presiden Amerika 
Serikat Barack Obama tidak mampir ke Indonesia dalam perjalanannya menghadiri 
Pertemuan Para Pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Singapura. 
Namun terasa janggal, negeri yang pernah ikut membentuk dirinya dan bahkan 
dalam pidato pelantikannya dikatakan sebagai salah satu negara sahabatnya, 
tidak disinggahi padahal hanya tinggal satu jam penerbangan saja untuk bisa 
sampai ke Jakarta dari Singapura.
Masih ingat ketika di awal pembentukan pemerintahannya, Obama mencoba 
berkonsentrasi terlebih dahulu ke dalam. Namun ketika Wakil Presiden Jusuf 
Kalla berkunjung ke Washington pada bulan November tahun lalu, Obama memberi 
lampu hijau kepada Wapres Joseph Biden untuk menerima Jusuf Kalla di Gedung 
Putih. Mengapa? Karena Jusuf Kalla adalah pemimpin dari Indonesia.
Ketika Hillary Clinton melakukan perjalanan pertamanya ke luar sebagai Menteri 
Luar Negeri, semula hanya tiga negara di Asia Timur, Jepang, Korea Selatan, dan 
China yang masuk dalam jadwal perjalanannya. Namun Obama meminta Hillary untuk 
memasukkan Indonesia dalam daftar perjalanan pertamanya, karena Indonesia 
dianggap sebagai sahabat yang penting.
Mengapa setelah setahun memegang tampuk kekuasaan, Obama justru melihat 
Indonesia secara berbeda? Ketika sudah begitu dekat ke negeri yang pernah ikut 
membesarkannya, Obama justru menghindar untuk singgah? Padahal ia bisa 
memerintahkan Hillary untuk terbang lebih dari tujuh jam, hanya untuk mampir ke 
Indonesia, sebelum kemudian terbang kembali lagi ke Korea Selatan.
Sejauh mana perubahan sikap dari pemerintah AS tersebut berkaitan dengan 
gonjang-ganjing persoalan hukum yang sedang terjadi di tanah air? Seorang yang 
paham dengan politik luar negeri AS mengingatkan bahwa konflik antara Komisi 
Pemberantasan Korupsi dan Kepolisian jangan dianggap enteng. Ketidaktegasan 
sikap pemerintah Indonesia dalam berbagai isu pelemahan KPK dinilai tidak 
sejalan dengan agenda besar pemberantasan korupsi yang telah dicanangkan.
Semua negara termasuk AS ikut memantau perkembangan yang terjadi. Sejauh mana 
Indonesia sungguh-sungguh dalam menegakkan supremasi hukum dan memantapkan 
sistem hukum yang ada. Sebab, sepanjang hukum dibiarkan untuk bisa direkayasa 
seperti sekarang, maka pembangunan demokrasi yang dilakukan Indonesia tidak 
akan berjalan langgeng. 
Dalam pengalaman banyak negara, pilar utama dari demokrasi adalah tegaknya 
sistem hukum. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, kita melihat bagaimana 
hukum dipermainkan untuk kepentingan politik. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan 
lagi, bagaimana hukum bisa diperjualbelikan dan orang-orang yang jelas-jelas 
merusak hukum itu dibiarkan bebas.
Sepanjang 10 tahun lebih reformasi yang kita jalankan bersama, Indonesia 
sebenarnya dinilai telah mampu membangun demokrasi secara baik. Konflik 
antarsuku, antardaerah berhasil dihilangkan. Dalam dua kali pemilihan umum 
langsung, tidak ada setetes pun darah yang harus menetes. Padahal ketika 
pertama kali Indonesia memasuki demokrasi, banyak yang memperkirakan Indonesia 
akan menjadi “negara gagal” (fail state), bahkan diperkirakan akan 
terpecah-pecah.
Kekaguman banyak negara terhadap proses demokratisasi yang terjadi di Indonesia 
kini meluntur ketika kita membiarkan sistem hukum diinjak-injak. Secara 
telanjang diperlihatkan bagaimana hukum dipakai untuk kepentingan kelompok dan 
ironisnya pimpinan nasional tidak juga tersadarkan bahwa negeri ini sedang 
berada di ambang krisis.
Inilah yang pantas membuat kita merasa prihatin. Pembiaran yang dilakukan 
sungguh berbeda dengan pidato yang mengatakan akan mengganyang mafia hukum. 
Padahal rekaman pembicaraan telepon di Gedung Mahkamah Konstitusi misalnya, 
memperlihatkan secara gamblang bagaimana hukum di negeri ini sudah 
dipermainkan. Ironisnya, hingga hari ini polisi masih berkelit, belum ditemukan 
cukup bukti bahwa orang-orang yang mencoba merekayasa hukum itu melakukan 
tindak pidana.
Sekali lagi kita ingin mengingatkan bahwa kita tidak hidup di dunia yang 
tertutup. Kita sekarang hidup di dunia yang sangat terbuka. Teknologi informasi 
yang berkembang sangat luar biasa telah membuat segala kejadian di mana pun 
berubah sifatnya menjadi mengglobal, serentak, seketika, dan interaktif.
Segala kejadian yang tengah terjadi di tanah air kita, tidak terhindar ikut 
dipantau oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Sekarang semua tahu bahwa sistem 
hukum di Indonesia sangatlah kacau. Orang yang salah bisa dibuat benar, 
sebaliknya yang benar bisa dibuat salah. Keadaannya semakin parah karena para 
penegak hukum sendiri menjadi bagian dari kekacauan yang tercipta.
Kalau kita semua tidak tersadar akan bahaya besar yang sedang mengancam 
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara ini, maka kita pantas menunggu 
keruntuhannya. Apa yang sedang kita hadapi sekarang ini bahkan lebih riskan 
dibandingkan ketika kita memulai reformasi tahun 1998. Mengapa? Karena ini 
sedang terancam sistem hukum yang menjadi pilarnya kebenaran.
Ketika kebenaran tidak bisa diperjuangkan lagi, maka hancurlah kepercayaan. 
Orang tidak lagi memiliki pegangan untuk menyelesaikan setiap masalah. Itu 
bukan hanya memancing timbulnya anarkisme, tetapi pasti membuat takut orang 
untuk berinvestasi. Padahal pemerintah sendiri berulangkali mengharapkan 
hadirnya investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang menyejahterakan. 
Setiap tahun setidaknya dibutuhkan investasi baru sebesar Rp 2.000 triliun dan 
87 persen di antaranya diharapkan datang dari swasta.
Ketidakhadiran Obama ke Jakarta tidak bisa dilepaskan dari konteks 
gonjang-ganjing hukum yang sedang terjadi di negara kita. Sebagai negara 
adidaya, mereka sangat menjaga persoalan itu karena mereka tidak ingin dicap 
mendukung pemerintahan yang tidak memedulikan supremasi hukum. Semoga 
ketidakhadiran itu menghardik kesadaran pemimpin nasional untuk membenahi 
ketidakbenaran di bidang hukum ini.
Sungguh tidak enak memang menggunakan kekuatan luar untuk memperbaiki diri 
kita. Namun terlalu sering kita mendengarkan orang lain daripada mendengarkan 
masukan dari bangsa sendiri.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke