Salam,
yang paling utama kesatuan antar suku di papua ( konsolidasi kedalam
),untuk menyatukan pendapat,tujuan dan langkah.


Pada tanggal 12/11/09, Arkilaus Arnesius Baho
<[email protected]> menulis:
> Konflik dan Bisnis Militer: Darah di Tengah Kemilau Emas Freeport
> Brad Adams,
> Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW) Regional Asia, dalam
> pemaparan hasil penelitian tentang bisnis militer di Indonesia,
> menyebutkan, praktik bisnis di Freeport akan mendorong munculnya
> kecenderungan perilaku di kalangan militer untuk mencari keuntungan,
> seperti yang terjadi di Papua selama ini. Dalam kurun waktu dua tahun
> berproduksi sejak 1973, PT. Freeport yang dulunya perusahaan tambang
> kecil berhasil mengantongi perolehan bersih US$ 60 juta dari tembaga
> yang ditambang. Itu belum termasuk hasil ikutan seperti emas dan perak.
> Juga belum termasuk penemuan lokasi tambang baru pada 1988 di
> Pegunungan Grasberg yang mempunyai timbunan emas, perak, dan tembaga
> senilai US$ 60 juta miliar. Ironisnya, dengan kekayaan sebesar itu,
> kemiskinan, dan kerusakan lingkungan meningkat pesat disekitar
> pertambangan PT. Freeport. JUBI — PT. Freeport di Papua telah berhasil
> mengeruk keuntungan hingga miliaran dollar pertahun. Sejak berdiri,
> kecaman atasnya datang silih berganti.
>
>
> PT. Freeport beroperasi di
> Papua sejak April 1967. Perusahaan asal Amerika Serikat yang menguasai
> cadangan emas dan tembaga kedua terbesar di dunia itu memulainya dengan
> kontrak karya I. Freeport melakukan eksplorasi dilahan yang
> diperkirakan mengandung cadangan bijih emas terbesar, 2,5 miliar ton.
> Dalam perjalanannya, sepanjang 1992 hingga 2002, Freeport telah
> berhasil melambungkan produksinya hingga 5,5 juta ton tembaga, 828 ton
> perak dan 533 ton emas. Pada 1998, perusahaan ini bahkan berhasil
> menghasilkan agregat penjualan sebesar 1,71 miliar pon tembaga dan 2,77
> juta ons emas. Dengan penghasilan itu Freeport mengantongi keuntungan
> triliunan rupiah sepanjang tahun.
>
> Dalam kurun waktu dua tahun
> berproduksi sejak 1973, PT. Freeport yang dulunya perusahaan tambang
> kecil berhasil mengantongi perolehan bersih US$ 60 juta dari tembaga
> yang ditambang. Itu belum termasuk hasil ikutan seperti emas dan perak.
> Juga belum termasuk penemuan lokasi tambang baru pada 1988 di
> Pegunungan Grasberg yang mempunyai timbunan emas, perak, dan tembaga
> senilai US$ 60 juta miliar. Ironisnya, dengan kekayaan sebesar itu,
> kemiskinan, dan kerusakan lingkungan meningkat pesat disekitar
> pertambangan PT. Freeport.
>
> Pencemaran lingkungan selanjutnya
> menjadi persoalan serius. Penambangan oleh Freeport telah menghasilkan
> galian berupa potential acid drainase (air asam tambang) dan limbah
> tailling (butiran pasir alami hasil pengolahan konsentrat). Sehari-hari
> Freeport memproduksi tidak kurang dari 250 ribu metrik ton bahan
> tambang. Material bahan yang diambil hanya 3%. Inilah yang diolah
> menjadi konsentrat kemudian diangkut ke luar negeri melalui pipa yang
> dipasang ke kapal pengangkut di Laut Arafuru. Sisanya, sebanyak 97%
> berbentuk tailing. Aktivitas ini mengakibatkan, fenetasi hutan daratan
> rendah seperti Dusun Sagu masyarakat Kamoro di Koprapoka, dan beberapa
> dataran rendah di wilayah Timika hancur.. Parahnya lagi, terjadi pula
> perubahan iklim mikro akibat penambangan terbuka.
>
> Sebuah lembaga
> audit lingkungan independen Dames & Moore melaporkan pada tahun
> 1996, dan disetujui oleh pihak Freeport, ada sekitar 3,2 miliar ton
> limbah yang bakal dihasilkan tambang tersebut selama beroperasi. Hasil
> investigasi The New York Times (NYT) tentang limbah tambang
> Freeport-McMoran di Papua juga demikian. Menurut laporan Freeport
> sendiri, limbah itu luasnya 8 km persegi. Pada beberapa tempat
> kedalamannya mencapai 275 meter. Terhadap teguran dari berbagai NGO
> lingkungan hidup, termasuk Ex Menteri LH Sonny Keraf, Freeport hanya
> mengatakan, limbah tersebut tidak berbahaya.
>
> Sejumlah agensi,
> konsultan perusahan asuransi yang dipakai Freeport, menyebutkan, limbah
> itu telah menyebabkan “massive die-off” pada vegetasi disepanjang
> sungai. Sampel-sampel juga menunjukkan, air sungai mengandung racun
> yang cukup untuk membunuh organisme sungai yang sensitif. Kemunculan
> tumbuhan berwarna hijau terang sepanjang beberapa kilometer di tepi
> sungai telah menunjukkan kandungan tembaga dari limbah telah mencemari
> sungai.
> PT. Freeport Indonesia (PT. FI) adalah bukti kekuatan
> ekonomi global. Dalam beberapa pendapat, seperti dimuat sejumlah media,
> disebutkan, selama 40 tahun lebih beroperasi, PT Freeport telah merusak
> tak hanya pegunungan Grasberg dan Erstberg, tapi juga telah merubah
> bentang alam seluas 166 km persegi di daerah aliran sungai Ajkwa,
> mencemari perairan di muara sungai dan mengkontaminasi sejumlah besar
> mahluk hidup.
>
> Konflik Dimulai
> Kemewahan dan dampak Freeport
> memang tiada duanya. Atas segala aktivitas tambang itu, Freeport
> menghadirkan pengamanan super ketat tentara dan Polisi yang dibayar
> jutaan dolar pertahun. Pengamanan ini, dalam beberapa waktu, kerap
> dijadikan bisnis. Seorang sumber di Timika menyebutkan, bisnis militer
> dipertambangan Freeport tidak bisa dipandang sebelah mata. “Bayangkan
> saja, ‘permainan’ yang dilakukan Freeport, pemerintah Timika, pengusaha
> di Timika dan Militer pada perang dua suku Amugme dan Dhani pada tahun
> 2007 silam,” ujarnya.
>
> Saat itu bisnis militer yang dijalankan
> adalah dengan mengantar para penambang dari kedua suku menggunakan truk
> tentara. Mereka dikenai jutaan rupiah per kepala. Rata-rata truck
> memuat 30 orang. Dari bisnis ini, militer meraup untung hingga miliaran
> rupiah. Penambang adalah mereka yang harus membayar denda secara adat
> usai berperang. Jumlahnya ratusan. Mereka mencari emas diwilayah
> penambangan Freeport dan kemudian dijual pada pengusaha emas di Timika.
>
> Pendapat
> sumber tersebut sejalan dengan Poengky Indarti, Direktur Hubungan
> Eksternal Imparsial. Dalam sebuah kesempatan pekan kemarin, Poengky
> mengatakan, sejumlah insiden berdarah di Timika, termasuk penembakan
> terakhir seorang WNA Australia di kawasan operasional PT. Freeport
> Indonesia, lebih banyak terkait perebutan bisnis jasa keamanan antara
> militer dan polisi. Menurutnya, sejak dikeluarkan Keputusan Presiden
> Nomor 63/2004 tentang pengamanan objek vital nasional, keamanan
> diserahkan kepada pihak internal. Di Tembagapura, diserahkan kpada PT.
> Freeport dan kepolisian. “Dahulu keamanan Freeport diserahkan kepada
> TNI hingga dua batalyon,” katanya.
>
> Menurut Poengky, Freeport
> merupakan perusahaan strategis. Dia penyumbang pajak terbesar dan
> mendukung dana otonomi khusus. Freeport juga memberikan sumbangan dana
> keamanan yang besar sehingga timbul persaingan dan gesekan antara Polri
> dan TNI. Meski belakangan, hal ini dibantah pihak Kodam XVII
> Cenderawasih bahwa militer tidak terlibat. Menurut Poengky, pernyataan
> itu harus dibuktikan dan diselidiki di pengadilan.
>
> Seperti
> Poengky, Yosepha Alomang, Direktris YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia
> Anti Kekerasan) di Timika juga mengatakan, dalam operasi, PT. Freeport
> telah membuat masyarakat mengalami banyak goncangan. Mereka dibunuh,
> disiksa dan diperkosa oleh aparat keamanan yang dibayar Freeport.
> “Masyarakat adat di sekitar areal penambangan tidak merasakan hasil
> dari tambang raksasa itu. Justru rakyat menjadi korban,” ujarnya..
>
> Sampai
> disini, Freeport akhirnya dianggap sebagai biang konflik. Penentu
> bisnis militer dan sebagai alasan terjadinya kekerasan di Timika. Atas
> persoalan ini, Brad Adams, Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW)
> Regional Asia dalam pemaparan hasil penelitian tentang bisnis militer
> di Indonesia, beberapa waktu lalu, yang dilaporkan dengan judul “Too
> High a Price: The Human Rights Cost of the Indonesian Military’s
> Economic Activities” menyebutkan, praktik bisnis yang terus-menerus
> dibiarkan tentu akan mendorong munculnya kecenderungan perilaku di
> kalangan militer untuk mencari rente atau keuntungan (rent-seeking
> behaviour).
>
> Ini terjadi di sejumlah bisnis pertambangan, seperti
> Exxon dan Freeport. Keterlibatan militer di dunia bisnis kerap pula
> menimbulkan pelanggaran HAM. “TNI punya catatan suram di bidang HAM.
> Dan pelanggaran-pelanggaran itu dipicu praktik bisnis militer yang
> dilakukan dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan institusi yang tidak
> bisa dipenuhi oleh anggaran negara,” ungkap Adams.
>
> Menurutnya,
> komitmen para petinggi TNI harus diwujudkan dengan segera untuk
> mengakhiri bisnis militer. Apabila tenggat waktu itu dipenuhi,
> reformasi di bidang keuangan militer tentu akan menandai terjadinya
> kemajuan besar ke arah reformasi struktural TNI.
Jika tidak, tentu
> dipastikan, perusahaan yang dikuasai AS dengan 81,2 saham itu akan
> selalu mengalami nasib buruk. Kekerasan dan pembunuhan pasti akan terus
> terjadi sepanjang tahun. Mungkin inilah yang mendorong Arkilaus
> Arnesius Baho, mantan Ketua Umum AMP Internasional, untuk mengatakan
> Freeport adalah otak dibalik tumbuhnya benih-benih kekerasan terhadap
> kedaulatan rakyat Indonesia. (Tim Jubi/JO)

Kirim email ke