Sekedar sharing tulisan saya yang dimuat di Majalah Gatra edisi 12-18 November 2009
Pertanyaan tentang respon pasar keuangan selalu mendominasi setiap terjadi peristiwa politik. Dua kejadian terakhir, pelantikan kabinet dan polemik “KPK – Polri” diikuti oleh pelemahan indeks bursa dan nilai tukar (kurs) Rupiah atas US Dollar. Bagi saya, hal itu tidak berhubungan secara langsung terhadap psikologi arus utama pergerakan pasar itu sendiri. Teknisnya begini, jika IHSG naik pasti ada pemain utama (bandar) yang menaikkan harga saham dalam portopolionya. Saat ini, saham BUMI menguasai 30-35% transaksi saham harian, jika ditambah saham grup Bakrie lainnya akan menguasai 45-60% transaksi bursa. Saham sektor perbankan keseluruhan menguasai 20-25%. Saham BUMI dan saham grup Bakrie, sampai saat ini, meski tidak ada kejelasan dari Bapepam-LK tentang status terakhir pemegang (RePO) sahamnya. Namun, cukup jelas ketika aksi korporasi emiten tersebut akhir-akhir ini adalah mengambil hutang baru ke sindikasi keuangan luar negeri (hutang US Dollar). Dengan kata lain, kepentingan bandar pemegang sahamnya terindikasi memang untuk pemenuhan kebutuhan US Dolar. Polanya, asing rutin (sejak September 2007, paska kejatuhan global hedge fund di Wall Street) menaikkan harga saham BUMI di Jum’at sampai Senin atau Selasa depannya, dan lalu Rabu dan atau Kamis menurunkannya. Sekuritas asing yang mendominasi pola transaksi tersebut, itu-itu lagi. Pola konsisten berulang tersebut, jika dihitung secara netting dalam seminggu anehnya merugi. Karena membeli di harga rata-rata lebih tinggi dibandingkan saat menjualnya. Apakah mereka sinterklas yang baik hati membuat pasar finansial Indonesia likuid, meski merugi? Tidak juga. Karena beli saham membuat asing menukarkan USD ke Rupiah (kurs menguat). Sesaat dan atau beberapa hari kemudian menjual saham yang sama dengan volume lebih besar yang menyebabkan permintaan US Dolar meningkat (kurs Rupiah melemah). Untungnya adalah selisih kurs, dengan transaksi saham sebagai alat untuk masuk ke PUAB (Pasar Uang Antar Bank). PUAB yang fluktuatif (volatilitas) tentu menggoda hati para Bankir. Itulah kenapa, saat ini transaksi identitas “asing” di saham perbankan kembali meningkat. Bagi saya, kegagalan Bank Century dan (sebelumnya) Bank Global adalah buah dari diabaikannya likuiditas pasar yang sudah terlalu liar. Faktanya kedua Bank ini sama-sama menyisakan persoalan peralihan dana nasabah ke reksadana, sama-sama terjadi saat pasar balik arah, bedanya Bank Century di bail out. Bank kecil tidak memiliki informasi yang simetrik. Berbeda dengan Bank Besar, disamping beberapa menjadi Bank Pembayar transaksi bursa, yang lainnya menjadi Bank Kustodi dari investor global yang menggoreng saham BUMI. Indikatornya jelas, saham Bank besar berputar melibatkan sekuritas yang sama dengan pemain saham BUMI dengan pola yang sama (juga rugi di sahamnya untung di kurs), sedangkan saham Bank Kecil diputar dengan identitas asing oleh sekuritas lokal. Itulah mengapa saya tidak menganggap kasus Bank Century sistemik. Karena jalarannya ke Bank besar tempat deposan mayoritas menabung tidak berkorelasi. Bank tersebut bermain di zona resiko terkalkulasi dari arus keluar-masuk PUAB dan SBI atau SUN. Ada persoalan sistemik lain yang harus didisiplinkan, yaitu pola saham-PUAB. Karena membahayakan integritas pasar keuangan bagi perekonomian. Yaitu, mengalirkan dana ke sektor riil (intermediasi), agar masyarakat berdaya beli dari bekerja penuhnya mesin produksi. Data menunjukan saat penurunan BI rate Mei-Desember 2006 (setelah kontraksi kenaikan BI rate akibat mini krisis 2005), elastisitasnya terhadap bunga kredit lebih tinggi dibandingkan periode Desember 2008 – Juli 2009. Demikian pula dengan penyaluran kreditnya. Dengan kata lain, saat ini kecenderungan Bank semakin asyik bermain di instrumen non kredit (pasar uang) meningkat. Data yang saya hitung terkait volatalitas menunjukan peningkatan dari bulan ke bulan. Meski kurs harian cenderung menguat dan stabil, namun potensi keuntungan selisih kurs perdagangan real time harian (volatilitas) meningkat tajam dari 75,14 (September 2009) ke 102,35 poin (Oktober 2009). Jika dikalkulasikan poin ke rata-rata pergerakan kurs real time harian, maka indikator keuntungan tahunan (PUAB rate) meningkat dari 9,14% (September 2009) ke 12,95% (Oktober 2009). Bagaimana mungkin, sektor riil akan mengejar? Volatilas harian disaat tercapai stabiliasai nilai tukar penutupan, menunjukan indikator terdapat biaya moneter (Operasi Pasar Terbuka BI), yaitu meningkat dari 12,08% (September 2009) ke 13,43% (Oktober 2009). Suka atau tidak, populis di BI rate rendah saat pasar fluktuatif, akan menyerap permainan berbiaya mahal dari cadangan devisa. Kuncinya saat ini, untuk menggerakan integritas perekonomian seperti keinginan pemerintahan SBY-Boediono “pertumbuhan ekonomi berkualitas”. Jawabannya, investasi riil lah yang dibutuhkan. Karenanya, penegakan hukum berupa validasi atas transaksi saham perlu dilakukan Bapepam-LK, terkait ada tidaknya unsur transaksi semu dan atau persekongkolan dalam transaksi saham sebagaimana dilarang pasal 91 UU Pasar Modal. Jadi menjaga devisa, tugas kontrolnya tak hanya di BI. Sayangnya, national summit tidak membahas episentrum koordinasi pendisiplinan pasar tersebut. Padahal, insiatif investasi riil membutuhkan respon yang elastis dari intermediasi sektor keuangan, yang mana saat ini terjadi in-elastisitas dikarenakan ketidakdisiplinan pasar. Sisi lain, respon keragu-raguan penegakan hukum di kasus “KPK vs Polri” serta berlarut-larutnya pengungkapan aliran dana Bail out Bank Century, akan menambah keraguan investor (riil) menanamkan dananya. Kalau ini dibiarkan, kita akan hanya jadi surganya permainan uang. Padahal, data cukup jelas semakin ramai PUAB semakin tidak elastis kredit ke sektor riil. Kita pun patut berharap pemimpin bangsa untuk kosentrasi ke masalah kredibilitas berbangsa (negarawan). Karena saat ini, kita perlu jujur pemegang portopolio asing tengah mengalami defisit likuiditas dikarenakan krisis finansial. Sehingga, aksi fluktuasi kurs akan semakin sering dan berisiko balik arah. Kita perlu belajar dari pelajaran krisis 1997, kurs Rupiah terlalu rentan terhadap arus teknikal pasar uang. Saat ini, kita patut waspada dengan kecenderungan swasta mengambil hutang USD seperti juga terjadi di 1997. Hati-hatilah terhadap arus balik, pemimpin harus jujur, kita terlalu tergantung ke pola teknikal pasar uang yang saat inipun secara global masih bergejolak. Jangan sampai krisis kredibilitas pun dibiarkan berlarut-larut menganggu integritas. Agar bangsa ini memiliki prioritas untuk menangkal virus pasar yang dapat merusak. Seperti janji Wapres Boediono saat deklarasi Cawapres "tugas negara adalah mengontrol pasar". Mari kita tunggu! [Yanuar Rizky, www.elrizky.net, Analis Independen Aspirasi Indonesia Research Institute] -Yanuar Rizky- mail to: [email protected] on the net: http://www.elrizky.net elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal:: ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
