Buah "simalakama" sedang akan di-uji. Dimakan "bapak mati", tidak dimakan "ibu 
mati". Begitulah rekomendasi itu di-ibaratkan, sebagai buah "simalakama". Jadi 
inilah ujian pertama SBY sebagai Presiden putaran kedua, yang nota bene 
dikatakan adalah "pilihan rakyat". Jadi apabila tidak mendengarkan suara-suara 
dari rakyat yang memilihnya, mau apa lagi??!
 
Salam,
Yuli

--- On Mon, 11/16/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:


From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Bola" di Tangan Presiden...
To: [email protected]
Date: Monday, November 16, 2009, 12:36 AM


 



Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Pulang dari lawatan pertemuan APEC di Singapura, Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono akan "dihadiahi" laporan kerja Tim Delapan yang 
dibentuknya untuk memverifikasi fakta atas kasus dua pimpinan KPK (nonaktif), 
Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Sikap Presiden terhadap rekomendasi 
itu sangat dinantikan. Kabarnya, rekomendasi juga berisi mengenai reposisi dan 
reformasi di lembaga penegakan hukum.

Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil mengatakan, tak ada pilihan lain bagi 
Presiden selain menerima rekomendasi tersebut. "Presiden memang punya hak untuk 
menerima atau menolak rekomendasi Tim Delapan. Tapi kedua pilihan itu ada 
konsekuensinya, " kata Nasir, anggota Fraksi PKS, kepada Kompas.com, Senin 
(16/11).

Jika menolak atau tidak menindaklanjuti isi rekomendasi, menurut Nasir, 
Presiden sudah "menampar" wajahnya sendiri. "Iya dong, kan tim itu dibentuk 
Presiden, sudah bekerja kok malah dicuekin hasilnya," kata dia.

Jika menerima maka hal utama yang harus dilakukan oleh Presiden adalah 
menindaklanjuti dengan melakukan pembenahan tiga institusi penegak hukum di 
Indonesia. "Artinya, Presiden harus mempercepat reformasi di Polri, Kejaksaan 
Agung, dan KPK. Bagaimanapun juga, lembaga-lembaga itu dihuni oleh manusia, 
bukan malaikat. Dan menurut saya, tidak ada jalan lain bagi Presiden selain 
menerima rekomendasi tersebut," ujar Nasir.

Ia mengingatkan, pengabaian atas rekomendasi Tim Delapan akan berimbas pada 
melunturnya kepercayaan masyarakat pada pemerintahan SBY-Boediono. Akhirnya, 
persaingan antara lembaga penegakan hukum dikhawatirkan semakin meruncing.

"Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Presiden harus menerima 
rekomendasi dengan lapang dada, termasuk jika harus ada yang 
dipertanggungjawabk an secara hukum," katanya.

Persoalan yang sudah demikian jauh membutuhkan penyelesaian oleh Presiden. 
"Bagaimanapun, setelah rekomendasi diserahkan, 'bola' ada di tangan Presiden. 
Mau dilempar ke mana lagi?" ujar Nasir retoris.

http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/11/16/ 11575499/ Bola.di.Tangan. 
Presiden. ..


Kirim email ke