Apakah Anakku Bisa Jadi Sarjana?

Sore itu hujan mulai mengguyur kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.
Terlihat ayahku termenung di teras rumah petak yang kami kontrak untuk
dua tahun kedepan. Secangkir teh menemani kesendiriannya. Lama sekali
kupandang wajah ayah dari balik kaca jendela.


Tiba-tiba ayah menitikan air matanya. Melihat hal itu, bergegas aku
hampiri dia. “Ayah lagi sedih ya?” tanyaku sambil memegang erat
tangannya yang telah keriput. Ayah terdiam. “Ayolah ayah, cerita sama
anakmu ini” ujarku setengah memaksa.

“Ayah sedih, Nak” ucap ayah lirih, “Ayah baru saja baca koran tadi,
ayah baca sekarang pemerintah telah mengurangi subsidi pendidikan di
perguruan tinggi,”

“Oh, itu masalahnya,” ujarku, “Emang ayah, pemerintah telah
mengeluarkan Undang-Undang (UU) Badan Hukum Pendidikan. Dalam UU itu
subsidi untuk perguruan tinggi negeri dikurangi,”

“Trus bagaimana nasibmu nak?” tanya ayah, “Sebentar lagi kamu lulus
SMA dan harus kuliah, sementara ayahmu hanya pedagang teh botol di
terminal Kampung Melayu. Ayah ingin kamu jadi sarjana biar tidak miskin
seperti ayah,”

“Tenang ayah, meskipun menurut UU itu subsidi dikurangi namun biaya
pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri yang ditanggung orang tua
mahasiswa tidak boleh melebihi 1/3 dari biaya operasional,” ujarku
menenangkan ayah.

“Kamu ini gimana, lha kalau biaya operasional jurusan di perguruan
tinggi yang kamu pilih itu Rp. 120 juta/ tahun berarti kan biaya yang
harus ayah tanggung jadi Rp.40 juta/tahun atau Rp.20 juta/semester,”
tagas ayahku,”Trus uang Rp.20 juta/semester itu ayah dapat dari mana?
Ayah hanya penjual teh botol,Nak”

“Hmm benar juga ya kata ayahku,” ujarku dalam hati.

“Tapi kan yah, jadi orang sukses kan ga harus jadi sarjana?” tanyaku lagi
“Iya ayah juga tahu soal itu,” jawabnya, “Tapi kan kuliah itu salah
satu pintu masuk untuk merubah nasib kita, ya kalau pintu masuk itu
sekarang ditutup ya semakin sempit kesempatanmu untuk bisa merubah
nasib Nak,”

“Tapi Yah, nanti kalo subsidi sudah dicabut bakal banyak perguruan
tinggi swasta baik asing maupun lokal yang akan berdiri, jadi terdapat
persaingan bebas sehingga biaya pendidikan bisa turun dengan kualitas
terjamin,” kataku, “Subisdi kan hanya akan merusak pasar dan
menghalangi investor untuk masuk ke pasar pendidikan tinggi,”

“Hmm, turunya seberapa? meskipun turun biaya pendidikan perguruan
tinggi tetap mahal dan tak terjangkau bagi anak seorang penjual teh
botol selama pemerintah mengurangi bahkan mencabut subsidi pendidikan,”
ungkap ayahku,”Trus, apakah anak orang miskin seperti kamu tidak
memiliki hak untuk menjadi sarjana? Apakah hanya anak-anak orang kaya
itu yang berhak menjadi sarjana?”

Ayah bergegas berdiri seraya meninggalkanku sendirian di teras rumah
petak. Aku masih tercengang dengan ucapan ayahku, “Ya apakah anak orang
miskin seperti aku tidak boleh menikmati bangku kuliah di perguruan
tinggi negeri?” tanyaku dalam hati.
sumber: 
http://edukasi.kompasiana.com/2009/11/17/apakah-anakku-bisa-jadi-sarjana/

                                                
                                                


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke