Oleh A Agus Sriyono

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/28/03361272/60.tahun.ri-rusia



Tahun 2010 genap 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, pewaris Uni 
Soviet.

Dari perspektif sejarah, ada dua rujukan untuk menilik awal hubungan kedua 
negara.

Pertama, pengakuan de facto Uni Soviet (US) tahun 1948 atas kemerdekaan 
Indonesia. Kedua, pengakuan de iure US atas Republik Indonesia Serikat, 
sekaligus usulan pembukaan hubungan diplomatik, 3 Februari 1950. Meski secara 
historis dan legal rujukan ini dapat diperdebatkan, namun conventional wisdom 
mengacu 3 Februari 1950 sebagai awal hubungan Indonesia-Rusia.

Lazimnya hubungan antarnegara diwarnai pasang surut dan dapat dibagi tiga. 
Periode 1950-1965 sebagai bulan madu, periode 1966-1990 hubungan mencapai titik 
nadir, pasca-1991 sebagai era kebangkitan kembali. Jika sepanjang 1950-1990 
hubungan Indonesia-US banyak dipengaruhi faktor ideologi akibat Perang Dingin, 
sejak 1990 hubungan keduanya didominasi pertimbangan pragmatis.

Bulan madu

Akrabnya hubungan Indonesia-Rusia diawali dukungan US terhadap kemerdekaan 
Indonesia di PBB sebelum 1950. Hubungan kian baik saat US menyokong pencalonan 
Indonesia sebagai anggota PBB, September 1950. Dalam perjuangan pembebasan 
Irian Barat, awal 1960-an, US memberikan bantuan militer. Bantuan senilai 600 
juta dollar AS antara lain berupa kapal penjelajah, perusak, kapal selam, tank 
amfibi, dan pesawat tempur MiG. Letjen Ali Sadikin pernah menyatakan, saat itu 
Angkatan Laut RI terkuat nomor dua di Asia setelah RRC.

Besarnya dukungan politik dan militer US kepada Indonesia harus ditempatkan 
dalam bingkai Perang Dingin (1945-1990). Perseteruan komunisme vs kapitalisme 
memiliki ramifikasi global, termasuk di Indonesia. Pada tataran global, AS dan 
US saling berebut wilayah pengaruh. Di tingkat domestik, ketegangan antara 
paham nasionalisme, komunisme, dan agama pada 1950-an terefleksi di parlemen. 
Perdebatan di parlemen senantiasa diwarnai tarik ulur antara kubu pro dan 
anti-US. Upaya mendekati US selalu dinilai sebagai pemihakan kepada blok 
komunisme.

Tiga kali kunjungan Presiden Soekarno ke US, 1956-1964, mampu mencairkan 
ketegangan politik di parlemen. Kunjungan Presiden Soekarno selama 14 hari 
tahun 1956 menghasilkan kesepakatan dengan US terkait prinsip-prinsip hidup 
berdampingan secara damai. Kesepakatan ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai 
pemimpin Gerakan Nonblok. Kunjungan balasan tiga pejabat tinggi US ke 
Indonesia, termasuk PM Nikita Khrushchev (1960), merupakan indikasi lain 
kokohnya persahabatan kedua negara.

Eratnya hubungan bilateral juga tecermin di bidang lain. Tahun 1962, US 
memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Tahun itu, sekitar 700 
mahasiswa Indonesia menimba ilmu di sejumlah universitas di Negara Beruang 
Merah. Sejumlah perwira Angkatan Laut belajar di Vladivostok dan Leningrad. 
Selain itu, kedua negara juga membangun sejumlah "monumen persahabatan", 
seperti pabrik baja Cilegon, Rumah Sakit Persahabatan, Gelora Bung Karno, dan 
Patung Tani.

Titik nadir

Peristiwa G30S/PKI tahun 1965 menjadi titik balik hubungan Indonesia-US. 
Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan larangan terhadap ajaran 
komunisme/marxisme ikut memperburuk hubungan kedua negara. Dari kacamata US, 
Indonesia dipandang telah berpaling ke Barat, masuk ke wilayah pengaruh AS.

Peristiwa G30S/PKI juga menjadikan ratusan mahasiswa Indonesia takut pulang ke 
Tanah Air, memaksa mereka bertahan hidup di negeri orang, dan sebagian terpaksa 
ganti warga negara. Impitan ekonomi memaksa sebagian besar hijrah ke Eropa, 
terutama Belanda dan Jerman.

Di tengah kemandekan hubungan, kedua negara mencoba mendorong kerja sama 
ekonomi. Tahun 1974 disepakati pembaruan Persetujuan Perdagangan serta 
Persetujuan Ekonomi dan Teknik. Saat itu, US berminat membangun proyek 
aluminium di Bintan, PLTA Saguling, dan PLTA Mrica. Namun, rumitnya sistem 
perbankan dan pembayaran saat itu menjadi kendala.

Menyadari hal ini, Presiden Soeharto melakukan terobosan. Dalam kunjungan ke 
US, 7-12 September 1989, Presiden Soeharto menandatangani Komunike mengenai 
Dasar-dasar Hubungan Persahabatan dan Kerja Sama antara Indonesia dan Uni 
Soviet. Di lapangan, kerja sama yang telah disepakati tidak banyak membuahkan 
hasil. Kantor berita Uni Soviet, TASS, menggambarkan datarnya hubungan kedua 
negara saat itu sebagai business like.

Bangkit kembali

Berakhirnya Perang Dingin (1990) membawa angin segar bagi pulihnya hubungan 
Indonesia-Rusia. Saat US bubar dan rezim komunisme tumbang, kedua negara 
berhasrat memulihkan hubungan. Indonesia menunjukkan itikad baik dengan 
menyampaikan ucapan selamat sekaligus mengakui Federasi Rusia sebagai legal 
successor US, tiga hari setelah US dinyatakan bubar 25 Desember 1991. Sejak 
itu, hubungan Indonesia-Rusia baru berjalan tanpa beban.

Hubungan politik Indonesia-Rusia pasca-Perang Dingin berjalan amat baik. 
Sekat-sekat ideologi tak ada lagi. Kerja sama di forum-forum multilateral, 
APEC, dan G-20 praktis tanpa hambatan. Volume perdagangan terus menanjak, tahun 
2008 mencapai 1,3 miliar dollar AS (naik 35 persen) dari 2007. Kerja sama 
militer, meski tidak mulus, berjalan baik. Mahasiswa Indonesia yang belajar di 
Rusia meningkat, secara kuantitatif maupun kualitatif. Intensitas kerja sama 
kebudayaan kian tinggi. Wisatawan Rusia yang ke Indonesia naik. Tahun 2008, ada 
65.000 turis dan 2009 diperkirakan menjadi 85.000 orang.

Pulihnya hubungan negara tampak dari kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri 
ke Rusia, April 2003, dan kunjungan Presiden Yudhoyono, Desember 2006. Selain 
itu, kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Indonesia, September 2007, 
membuktikan kian eratnya hubungan kedua negara. Dalam setiap kunjungan 
disepakati aneka bidang kerja sama sebagai fondasi peningkatan hubungan yang 
lebih baik. Saat ini telah berlangsung kerja sama politik, perbankan, 
perdagangan, investasi, militer, kebudayaan, dan pendidikan.

Peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia diharapkan menjadi 
tonggak akselerasi peningkatan kerja sama dua negara. Setelah hambatan ideologi 
sirna, kini saatnya kedua negara memusatkan perhatian pada kerja sama saling 
menguntungkan demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Kedua negara telah 
melewati fase pasang surut kehidupan dan persahabatan tetap terjaga. Pepatah 
Rusia mengingatkan, Net druga-ishi, a nashol-beregi (Bila tidak memiliki teman, 
carilah; Jika sudah mendapatkan, jagalah).

A Agus Sriyono Wakil Duta Besar RI untuk Federasi Rusia

Kirim email ke