Susi dan Mimpi Hijaukan Pulau Sabu

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/14/02484313/susi.dan.mimpi.hijaukan.pulau.sabu

Senin, 14 Desember 2009 | 02:48 WIB

Oleh Yulvianus Harjono

Tidak seperti mayoritas teknokrat, Susilawati justru memilih wilayah terpencil 
untuk mengabdikan diri dan keilmuannya. Doktor bidang teknik sumber daya air 
dari Universitas Katolik Parahyangan ini didaulat menjadi "orang langka" di 
daerahnya.

Ketika dilangsungkan sidang promosi doktor di Kampus Pascasarjana Universitas 
Katolik Parahyangan (Unpar), Agustus lalu, guru besar Unpar, Robertus Wahyudi 
Triweko, berkata kepada Susilawati, "Ketika kembali ke Kupang, Anda akan 
menjadi orang yang langka. Menjadi elite di antara ahli-ahli SDA (sumber daya 
air) Indonesia."

Tidak banyak elite ilmu pengetahuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini. Data 
dari Forum Akademia NTT menunjukkan, hingga akhir 2008 tercatat hanya 93 doktor 
yang pernah dan masih berdomisili di NTT. Namun, hanya satu atau dua di 
antaranya yang berlatar belakang bidang keteknikan (engineering).

Dosen di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, ini menaruh perhatian besar 
pada persoalan kekeringan yang kerap terjadi di kawasan terpencil Pulau Sabu 
dan Raijua, NTT.

Disertasinya, Pengelolaan Air Hujan untuk Pertanian pada Pulau Kecil di Kawasan 
Kering Indonesia, dalam sidang promosi doktor di Unpar ditujukan untuk membantu 
mengatasi kekeringan yang menjadi momok bagi warga Sabu dan Raijua.

Sebagai seorang biarawati, tidaklah mudah bagi suster ini untuk meraih 
pencapaian seperti sekarang. Dari 116 biarawati dan pernah berkarya di Ordo PI, 
Susi adalah orang kedua yang bergelar doktor. Namun, ia satu-satunya yang 
memiliki latar belakang keilmuan di bidang teknik.

Latar belakang yang unik dan tidak biasa di kalangan biarawati inilah yang 
membuat dia terus mengalami pergumulan batin yang hebat. Pada 1981, ketika 
masih kuliah di Universitas Diponegoro (Undip), ia masuk ke PI untuk memenuhi 
"panggilan" hidupnya. Niatnya ini sempat ditolak keras oleh orangtuanya.

Hal ini pun berimbas pada statusnya yang mengambang di PI saat itu. "Pada tahun 
1983 saya diterima mengajar di Politeknik Undip. Status di PI masih tidak 
jelas, tetapi juga tidak dikeluarkan. Namun, dua tahun berikutnya saya pun 
memilih berhenti mengajar dan full di biara," ucap wanita yang biasa disapa 
Suster Susi ini.

Pada 1994, Susi kembali ke dunia akademis, mengajar di Unika Soegijapranata, 
Semarang, atas tawaran langsung dari Paulus Wiryono T SJ yang ketika itu 
menjabat rektor (sekarang Rektor Unika Sanata Dharma, Yogyakarta). Di sini ia 
mendapat beasiswa S-2 ke Universitas Delft, Belanda.

"Awalnya tidak dibolehkan oleh provinsial (PI). Tapi, akhirnya diizinkan juga 
setelah provinsial diyakinkan oleh beberapa pihak," ucapnya. Tahun 1996 ia pun 
berangkat ke Belanda. Pada 1998 ia kembali ke Indonesia, yaitu Timor Timur, 
untuk mengerjakan tesisnya di bidang hidroteknik.

Timor Timur

Di kawasan pengungsi Weberek, Timor Timur, ia mencoba mengembangkan sistem 
irigasi untuk lahan tidur yang banyak terdapat di sana. Belum sempat 
terealisasi, di sana terjadi insiden mencekam, yaitu bentrokan antara TNI dan 
gerilyawan Falentil yang membuat dia terpaksa harus pergi dari wilayah itu.

Sejak 2002 Susi memilih pindah bertugas di Kupang setelah mengetahui Ordo PI 
membuka cabang baru di sana. Di daerah ini ia menyadari bahwa potensinya 
sebagai biarawati sekaligus ilmuwan bisa difungsikan maksimal.

Untuk mengasah ilmu hidrotekniknya, selain ke Belanda, dia juga berkunjung ke 
Malang, Jawa Timur, dan Bandung, Jawa Barat. Sejak 2006 ia kerap bolak-balik 
Kupang-Sabu dan Raijua untuk mengembangkan risetnya, bersamaan dengan mengambil 
program doktor di Unpar.

Saat berkeliling di Pulau Sabu, ia terenyuh melihat kondisi masyarakat setempat 
yang kebutuhan pangannya bergantung pada daerah lain. Karena tanah yang tandus 
dan ekstremnya kondisi cuaca, di mana kekeringan bisa terjadi di sepanjang 
tahun, tanaman pangan yang membutuhkan cukup air—seperti padi dan jagung—sangat 
sulit tumbuh di sana.

"Yang ada hanyalah pohon lontar dan beberapa palawija, seperti sorgum dan 
kacang hijau. Tetapi, tidak jarang warga gagal panen karena kekeringan," ucap 
biarawati yang lebih memilih berpakaian kasual saat berada di luar biara ini.

Kondisi wilayah yang sulit dijangkau kian memperberat kondisi ekonomi warga 
setempat. Dari Kupang ke Sabu butuh waktu perjalanan 15 jam dengan feri. Itu 
pun hanya ada seminggu sekali. Jika sedang musim angin barat dan timur, praktis 
tidak ada transportasi umum karena ombak sangat besar dan berbahaya.

Menyadari beratnya kondisi ekonomi di pulau kecil itu, Susi bertekad 
mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti sistem pengelolaan terpadu air 
hujan untuk pertanian.

Ia mengembangkan konsep pemanfaatan model pengelolaan air hujan untuk pertanian 
yang terintegrasi dengan sistem prasarana, operasional dan pemeliharaan, 
kelembagaan, serta pemberdayaan masyarakat dengan sistem informasi manajemen 
terpadu. Dia meyakini, hanya dengan integrasi ini kekeringan di pulau kecil itu 
bisa diatasi secara teknis.

Konsep ini sekaligus merupakan penyempurnaan sistem embung (waduk kecil) yang 
dikembangkan pemerintah daerah setempat selama 20 tahun terakhir. "Beberapa 
embung tidak lagi berfungsi karena penuh dengan sedimen, sementara yang lainnya 
kosong karena dimensinya tidak sesuai dengan daerah tangkapan hujan," paparnya.

Sentuhan teknologi

 Sistem embung yang telah dikembangkan ini juga tidak mendapat dukungan memadai 
dari masyarakat pengguna. Sebab, pendekatan pengelolaannya masih bersifat 
top-down. Dengan kata lain, pengelolaan pemanfaatan air hujan di Pulau 
Sabu-Raijua selama ini dinilainya masih jauh dari sentuhan teknologi dan, yang 
lebih buruk, pendekatannya pun elitis.

Untuk itu, dalam aplikasi studinya, ia memanfaatkan kearifan-kearifan lokal 
yang telah lebih dahulu tumbuh. Ini misalnya pembuatan jebakan-jebakan air atau 
cekdam-cekdam kecil berantai serta sumur-sumur gali yang telah digunakan di 
Desa Daieko yang terletak di ujung barat Pulau Sabu. Dengan alat berbasiskan 
data dan sistem informasi yang dikembangkannya, dapat ditentukan secara tepat 
teknis dan posisi keberadaan jebakan-jebakan air. Prasarana semacam ini relatif 
lebih murah ketimbang membangun embung-embung yang hasilnya belum tentu juga 
efektif.

Meskipun fisiknya melemah karena harus berjuang melawan penyakit mastitis 
tuberkulosis, Susi bertekad mewujudkan mimpinya menghijaukan Pulau Sabu-Raijua.

SUSILAWATI CICILIA LAURENTIA
• Lahir: Wirosari, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah, 4 September 1958
• Pendidikan: - S-1 Teknik Sipil Universitas Dipenogoro, Semarang - S-2 Teknik 
Hidrologi dan Lingkungan Universitas Delft, Belanda - S-3 Teknik Sipil 
Universitas Katolik Parahyangan 
• Pekerjaan: - Biarawati - Dosen Unika Widya Mandira, Kupang - Pernah mengajar 
di Politeknik Undip dan Unika Soegijapranata, Semarang

Kirim email ke