Sebuah tulisan dari penulis favorit saya. (Buku tentang Filsafat
Ilmunya juga nendang bgt lho)


Jujun S Suriasumantri
Guru Besar Filsafat Ilmu, Mantan Direktur Program Pascasarjana UNJ


Ketika menyatakan pentingnya filsafat ilmu diberikan pada semua
jenjang pendidikan pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III
di Jakarta 15-19 September 1981, saya tidak bermaksud menyarankan satu
mata pelajaran baru yang bersifat kefilsafatan. Lewat ide itu saya
ingin mengajak ilmuwan untuk menjadikan filsafat ilmu sebagai payung
bagi pemahaman ilmu dengan segala aspeknya. Kesimpulan kongres yang
mendukung bahwa agar dipertimbangkan pemberian mata pelajaran filsafat
ilmu pada semua tingkat pendidikan dengan tujuan meningkatkan moral
merupakan momentum untuk perbaikan pendidikan keilmuan. Setelah lebih
dari seperempat abad berlalu, ada baiknya kita menengok ke belakang
untuk melihat sudah sejauh mana perjalanan kita sekarang.
Payung hakikat
Ilmu, yang kadang disebut sebagai ilmu pengetahuan atau sains,
merupakan komponen terbesar yang diberikan sebagai mata pelajaran
dalam semua tingkatan pendidikan di samping humaniora dan agama.
Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu, dengan puluhan
disiplin dan ratusan teori ilmiah yang tercakup di dalamnya, kita
jarang mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai acuan dalam kehidupan
sehari-hari. Ilmu dianggap sebagai hapalan bukan sebagai pengetahuan
yang mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksikan gejala alam.
Selama proses belajar-mengajar, maupun dalam kegiatan penelitian
akademik, teori tidak difungsikan secara semestinya. Penalaran yang
berupa deduksi teoretik dari teori ilmiah dalam memecahkan masalah
jarang sekali dikembangkan. Dalam kegiatan penelitian akademik pun
fungsi teori hanya sebatas acuan dan penjelasan, bukan sebagai alat
prediksi dan kontrol. Salah satu penyebabnya, ialah, bahwa dalam
sistem pendidikan kita hanya diajarkan satu epistemologi yakni
epistemologi penemuan pengetahuan ilmiah yang lebih berorientasi pada
pengamatan dan induksi. Untuk itu disarankan diberikannya epistemologi
alternatif yang lebih beorientasi pada penalaran dan prediksi, yakni
epistemologi pemecahan masalah. Dalam epistemologi ini, kita mengacu
pada teori-teori ilmiah yang relevan untuk mendeduksikan prediksi
pemecahan masalah sebelum data dikumpulkan.
Epistemologi pemecahan masalah cocok untuk peserta didik yang sedang
belajar untuk menguasai ilmu dan teknologi. Sedangkan epistemologi
penemuan pengetahuan ilmiah cocok untuk ilmuwan profesional yang
menerapkan keahliannya untuk memecahkan masalah. Kedua epistemologi
ini dapat diberikan secara bersama-sama dalam mata pelajaran keilmuan,
sebab mereka tidak saling menafikan malah justru saling melengkapi.
Jika proses yang lebih dipentingkan daripada hasil, maka gunakan
epistemologi pemecahan masalah. Sebaliknya, jika hasil yang lebih
dipentingkan daripada proses maka gunakan epistemologi penemuan
pengetahuan ilmiah.
Dalam kegiatan pendidikan, proses berpikir yang sistematis dan
analitis menurut suatu prosedur tertentu adalah sangat penting. Hal
ini menjadi tidak terlalu penting dalam kegiatan penelitian
profesional, sebab yang akan dinilai adalah hasil penelitiannya. Untuk
itu, peneliti profesional tidak terlalu terikat pada prosedur yang
kaku, melainkan bolak-balik mempergunakan deduksi dan induksi sesuai
kebutuhan penelitiannya.
Pendidikan kita memberikan mata pelajaran secara terkotak-kotak tanpa
adanya payung yang memperjelas keterkaitan antara pengetahuan yang
satu dengan pengetahuan lainnya. Dalam konteks ini, filsafat ilmu
memperjelas eksistensi ilmu yang membutuhkan pengetahuan lain sebagai
sarana berpikir dan sarana komunikasi keilmuannya. Sarana ini antara
lain bahasa, logika, matematika, statistika, dan teknik analisis data
lainnya. Dewasa ini terdapat pandangan yang sempit bahwa kegiatan
keilmuan hanya berkutat sekitar matematika dan statistika. Fungsi
bahasa dan logika verbal menjadi terpinggirkan, seakan-akan jauh dari
kegiatan keilmuan. Kesadaran akan adanya keterkaitan ini diharapkan
menumbuhkan aspek afektif terhadap pengetahuan yang dipelajari.
Peranan bahasa harus lebih ditonjolkan agar tradisi menulis yang baik
dan nalar dapat terbentuk. 
Kemampuan berbahasa ini harus menjadi persyaratan mutlak, di samping
persyaratan-persyaratan lain, sebab kegiatan penalaran tanpa ditopang
kemampuan berbahasa yang baik takkan berkembang secara optimal. Ilmu
mengungkapkan kebenaran. Agama dan moral mengajarkan kebaikan, dan
seni memancarkan keindahan. Namun, semua pengetahuan ini tidak secara
langsung mendatangkan kearifan. Kearifan tumbuh dari kesadaran akan
keterbatasan, baik itu keterbatasan manusia, maupun keterbatasan
pengetahuan manusia. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahhatian bahwa
segala sesuatu itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kita tidak bisa
hidup hanya dengan kebenaran tanpa kebaikan dan keindahan.
Kebenaran ilmiah bukan satu-satunya kebenaran, bahkan, hanya merupakan
kebenaran yang bersifat probabilistik dan pragmatik. Untuk itu selalu
ada tempat dalam kehidupan ilmuwan untuk pengetahuan yang lain.
Ilmuwan membutuhkan agama, moral, dan seni untuk melengkapi kehidupannya. 
Berfilsafat bukan saja memberikan jawaban tetapi juga mengajukan
pertanyaan yang tepat. Semakin dalam dan semakin luas pengetahuan kita
mengenai sesuatu, maka semakin banyak pertanyaan yang timbul. Dalam
upaya kita meningkatan pendidikan keilmuan dirasakan perlunya
mengembangkan paradigma baru dalam berbagai hal. Umpamanya saja, telah
kita singgung sebelumnya, mengembangkan paradigma yang membedakan
penelitian akademik dengan penelitian profesional, dan mengembangkan
paradigma epistemologi pemecahan masalah di samping penemuan
pengetahuan ilmiah. Demikian juga perlu dipikirkan pengembangan
paradigma lain yang berkaitan dengan peningkatan kegiatan pendidikan
dan keilmuan.
Memanfaatkan filsafat ilmu sebagai titik tolak membuat kita bisa
menjelajah berbagai filsafat pengetahuan lainnya seperti filsafat
bahasa, filsafat logika, filsafat matematika, filsafat statistika,
filsafat agama, filsafat seni, dan filsafat moral. Filsafat di sini
merupakan pengetahuan tentang hakikat. Substansi hakikat adalah
paradigma dasar dari pengetahuan. Paradigma diartikan sebagai konsep
yang dianut dan diamalkan oleh komunitas tertentu pada satu periode
tertentu.
Konsep yang dianut
Meskipun kelihatannya materi yang dicakup sangat luas, pada
kenyataannya tidak demikian, sebab kita tidak terlalu mempermasalahkan
konsep perseorangan atau aliran yang mengerucut menjadi paradigma,
namun langsung membidik paradigma itu sendiri. Kita tidak melakukan
pendekatan historis terhadap paradigma, yang sesuai dengan definisi
kita. Kita membatasi penjelajahan kita hanya terhadap konsep yang
dianut dan diamalkan pada waktu sekarang. Itu pun terbatas pada konsep
yang bersifat umum yang dianut sebagian besar anggota komunitas.
Jika pun kita menyinggung nama perseorangan atau aliran, maka semua
itu hanya referensi atau titik tolak. Proposisi bahwa fungsi ilmu
adalah mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan dan mengontrol
tidak perlu dikaitkan dengan aliran-aliran filsafat tertentu.
Epistemologi keilmuan juga sebenarnya banyak sekali, namun sebagai
landasan dasar kita mulai dari konsep yang bersifat umum.
Materi yang diberikan tidak ditujukan untuk menjadikan seseorang
menjadi ahli filsafat. Filsafat ilmu diberikan sebagai pengetahuan
bagi orang awam yang ingin mendalami hakikat ilmu. Atau lebih terarah
lagi, bagi ilmuwan yang ingin mendalami hakikat ilmu dengan segala
seluk beluknya serta keterkaitannya dengan berbagai pengetahuan
lainnya. Bila John J Kemeny (1958) menulis buku A Philosopher Looks at
Science, maka pendekatan di sini mungkin lebih tepat sebagai a
scientist looks at philosophy. Keduanya merupakan upaya ilmuwan, untuk
lebih mengenal pengetahuan yang menjadi keahliannya secara filosofis.
Saya tidak berpretensi untuk mengatakan bahwa semua orang mempunyai
persepsi yang sama tentang substansi filsafat ilmu. Terdapat berbagai
pandangan bagaimana cara mata pelajaran filsafat ilmu itu diberikan.
Bagi saya berbagai pandangan itu merupakan berkah dalam menjawab
kebutuhan yang berbeda-beda. Bahkan, pada pendekatan yang disarankan
di sini pun terdapat variasi dalam substansi dan penekanan. Sudah
lebih dari seperempat abad berlalu sejak Kongres Ilmu Pengetahuan
Nasional (KIPNAS) III menyimpulkan perlunya filsafat ilmu diberikan
dalam sistem pendidikan kita, dan sekarang bila kita membuka internet,
menurut pendataan google terdapat 256 ribu situs mengenai filsafat
ilmu. Saya kira hal ini perlu kita syukuri. 
Ikhtisar
- Ilmu dengan ribuan teori ilmiah yang diajarkan di lembaga
pendidikan, jarang dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari.
- Lembaga pendidikan kita memberikan pelajaran secara terkotak-kotak
dan tidak menggambarkan kaitan antara ilmu yang satu dengan yang lain.
- Filsafat ilmu bisa menjadi pengetahuan bagi kalangan awam untuk
memahami hakikat berbagai ilmu.

http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16



Kirim email ke