Source: http://www.kompas. com edisi Jumat, 28 September 2007

Universitas
Kepemimpinan Pemuda

Ubaidillah Nugraha

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire's Franconia
College pada tahun 1970 dalam umur 23. Ia tercatat sebagai rektor
termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat.

Tanggung jawab terbesar Botstein adalah melakukan turn around kondisi
yang centang perenang di kampus itu. Kebijakan pembaruan yang
dilakukan ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim,
"bebaskan kampus dari keliaran anjing!"

Pada Agustus 2007 Universitas Indonesia (UI) memiliki pemimpin baru.
Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan sebuah pergantian pemimpin
di kalangan perguruan tinggi. Hanya saja, yang berbeda saat ini adalah
UI memasuki babak baru perjalanannya di bawah nakhoda salah satu putra
terbaiknya yang dapat dikatakan muda belia.

Prof Dr Gumilar menjadi rektor pada usia 44 tahun atau rektor termuda
dalam sejarah UI.

Bagi UI sendiri, peremajaan kepemimpinan tidak saja menyentuh pucuk
tertingginya karena kaum muda mulai mengambil alih estafet
kepemimpinan di berbagai institusi dalam ruang lingkup universitas. Di
fakultas ekonomi dan hukum sebagai contoh, dekan terbaru mereka bahkan
belum berusia 40 tahun ketika dilantik, di bawahnya berbagai unsur
direksi dan pimpinan departemen di lingkungan fakultas dipenuhi anak
muda usia 30-an bahkan akhir 20-an.

Sebagian dari mereka baru pulang menggondol Phd-nya, mereka-mereka
yang dipersiapkan menjadi pemimpin teras universitas dan bangsa di
masa mendatang. Dan hebatnya, tidak ada keluh kesah dari para senior.
Zaman berubah, paradigma pun berubah.

Di Universitas Paramadina telah dipilih pengganti sosok guru bangsa
yang juga rektor universitas selama ini, almarhum Nurcholish Madjid,
seorang anak muda yang dulu dikenal sebagai sosok aktivis mahasiswa
yang setelah itu melanglang buana memenuhi dahaga intelektualismenya.

Anis Baswedan baru berumur 38 tahun ketika harus mengambil tongkat
estafet yang sedemikian berat dibebankan padanya, terlebih lagi sosok
Cak Nur sudah sedemikian menyatunya dengan sejarah perkembangan
Universitas Paramadina.

Adakah universitas- universitas tersebut kekurangan sumber daya senior
yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas
yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yang
bagi sebagian orang dianggap "anak kemarin sore" sehingga tidak cukup
berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar.

Universitas memang menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya
bangsa ini mulai memercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka
adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda
di pucuk pimpinan; bukan sekadar wacana yang dikembangkan banyak
pihak, tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

Alasannya sederhana. Perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai
dengan reaksi kaum muda idealis terhadap permasalahan besar bangsa,
mengorbankan waktu, tenaga, maupun nyawa. Selain itu, kesadaran bahwa
kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan
kreativitas yang tinggi yang sungguh tidak dapat diakomodasi oleh
kepemimpinan yang lambat, penuh paradigma lama, apalagi mereka yang
masih menyepelekan soal governance.

Kepemimpinan yang akan cepat absolete dan sekadar menjadi penonton
persaingan kompetitif global. Bukan sekadar soal teknis, tuntutan
untuk potong generasi sudah lama dimasukkan sebagai wacana kebangsaan
untuk memisahkan bangsa ini dari stigma kebobrokan yang dibawa
generasi tuanya.

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku Our Time is Now: Young
People Changing the World menekankan kembali bahwa abad ke-21 adalah
abad kaum muda, hal ini ditandai dengan semakin berperannya pemuda
dalam perubahan dunia.

Dapat dilihat dalam buku mereka yang menarik itu bagaimana puluhan
anak muda di seluruh penjuru dunia berpendar memperbaiki dan mengubah
komunitasnya ke arah yang lebih baik, lebih banyak dari apa yang kaum
tua bisa lakukan dalam perbaikan komunitas tersebut. Tak sedikit dari
mereka yang dapat kita lihat jejaknya: para akademisi muda.

Dengan misi yang kurang lebih sama, Forum Ekonomi Dunia setiap
tahunnya mengadakan sesi young global leader yang mengundang sosok
calon pemimpin bangsa yang saat ini berusia di bawah 40 tahun, bahkan
sebagian dari mereka masih berusia di bawah 30 tahun, untuk duduk
bersama mendiskusikan berbagai problem kemasyarakatan global,
menyongsong dunia baru yang penuh dengan pemimpin-pemimpin muda.

Sebagai contoh, Menteri Keuangan Sri Mulyani gencar dengan
implementasi reformasi birokrasi hari-hari ini, Ketua BPK Anwar
Nasution mengguncang jagat birokrasi dengan gerakannya menelanjangi
berbagai institusi yang korup.

Ini sebenarnya sekadar bukti bahwa governance itu memiliki sifat
contagious jika dipegang oleh mereka yang tepat. Terbukti kiprah
akademisi yang kuat dapat memecah utopia bahwa birokrasi tidak dapat
diubah dari dalam. Hanya saja, dalam soal pucuk pimpinan tertinggi
negeri ini perlu waktu untuk bisa sampai ke sana.

Padahal, belajar dari negara lain, Amerika Serikat misalnya, Roosevelt
(42 tahun menjadi presiden), JFK (43), Clinton (46), begitu juga Tony
Blair (43) di Inggris adalah figur-figur yang tidak saja muda, tetapi
tersukses dalam menjalankan roda pemerintahan.

Saat ini dunia menunggu kandidat muda lain untuk muncul. Barrack Obama
adalah salah satunya. Kalau dia bisa menang, itu membuktikan bahwa
kebutuhan atas birokrasi yang masih segar sudah menjadi tuntutan yang
tak bisa ditawar-tawar lagi.

Kepemimpinan muda sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, seperti banyak
pengamat yang sudah memulai wacana presiden muda untuk Pemilu 2009.

Negara ini, yang oleh sebuah majalah internasional disebut sebagai
"negara paling sulit bagi seorang presiden", perlu darah muda dan
pemikiran yang segar, tidak saja untuk menyelesaikan permasalahan-
permasalahan besar yang dihadapi bangsa, tetapi juga untuk memutus
generasi tua yang korup dan telah meninggalkan Indonesia dalam centang
perenang.

Leon Botstein akhirnya tercatat tidak saja sebagai yang termuda,
tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transformasi internal
pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak
kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat.

Oleh karena itu, semakin kuat premis yang mengatakan bahwa
kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal
kemampuan.

Ubaidillah Nugraha Direktur Center for Inclusive Financial Studies 

Kirim email ke