Tulisan yang bagus mas didyk. Jadi ingat ketika sore2 harus lari dari kantor 
karena ikut kuliah kebijakan publik dan perilaku organisasi.
   
  Sayangnya saya kurang melihat secara nyata perjalanan suatu kebijakan, 
mungkin dari hulu oke, tetapi ketengah dan sampai hilir kok rada2 kabur bahkan 
apabila kebijakan itu bersifat internal organisasi (bukan publik) maka 
cenderung otoriter karena memang atasan/pimpinan diberi wewenang untuk 
melakukan itu. Memang jaman sekarang masyarakat (publik) semakin kritis, 
sehingga tidak lagi kita menjadi "pangreh praja" tetapi pelayan masyarakat. 
Suatu kebijakan publik yang "aneh" dan mengusik keadilan akan mendapat hantaman 
dari banyak arah, meskipun hal ini tidak sepi dari pamrih tersembunyi dan 
(mungkin) iri. Namun bagaimana halnya dengan kebijakan internal, yang menurut 
sebagain anggota organisasi, mengusik rasa keadilan (meskipun subyektif) apakah 
akan ada evaluasi??? Jawaban pertanyaannya tersebut (menurut saya) tergantung 
yang empunya kebijakan, toh berbicara keadilan selalu di awalai dengan "rasa", 
nah kalo masalah "rasa" sangat subyektif sekali khan?
   
  Saya kurang sepaham apabila "persepsi" harus disamakan dan tidak terdistorsi, 
bukankah persepsi merupakan produk dari olahan beberapa faktor, salah satunya 
pengalaman/masa lalu. Ada ungkapan yang lazim kita dengar "Rumput tetangga 
lebih ......." yang membuktikan kalo persepsi masalah "rumput" juga berbeda 
tiap kepala. Bukankah ketika belajar materi persepsi kita selalu disuguhi 
gambar yang multi tafsir, dan apapun jawaban kita tidak disalahkan. Saya pikir 
yang perlu disamakan bukannya "si persepsi" tetapi pemahaman atas suatu masalah.
   
  Demikian sedikit komentar, mohon maaf bila ada yang salah karena menulis 
tidak berdasarkan buku.
  
didyk_ch <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dalam analisis kebijakan publik, setiap rumusan kebijakan publik 
didahului oleh proses pembuatan kebijakan. Dalam pembuatan kebijakan, 
yang paling penting untuk diperhatikan adalah perumusan masalah 
(problem formulation), latar belakang kebijakan (policy setting) dan 
agenda kebijakan (agenda setting). Ketiga hal tersebut akan 
mempengaruhi produk kebijakan. Namun demikian, kebijakan publik tidak 
berhenti dengan keluarnya kebijakan, namun tetap harus diikuti dengan 
implementasi kebijakan (policy implementation), monitoring kebijakan 
(policy monitoring), dan evaluasi kebijakan (policy evaluation). 
Sebuah analisis kebijakan diperlukan dalam dua ruang. Pertama, 
menjadi bagian dari proses pembuatan kebijakan, dengan mengikuti 
setiap step dari siklus kebijakan, melakukan analisis terhadap setiap 
step, dan memberikan alternatif-alternatif kebijakan. Kedua, analisis 
kebijakan dapat dilakukan diluar dari lingkungan pembuatan kebijakan. 
Analisis ini biasanya dilakukan setelah kebijakan keluar, dan dimulai 
dengan adanya implikasi kebijakan, menganalisisnya, menggali dan 
meneliti serta menganalisis perumusan masalahnya, latar belakang 
kebijakan dan agenda kebijakan. Hasil analisis adalah memberikan 
masukan terhadap monitoring kebijakan, evaluasi kebijakan, atau 
bahkan merumuskan kembali kebijakan, untuk memberikan alternatif 
kebijakan yang lebih tepat. 
Dalam menganalisis kebijakan tersebut terdapat beberapa metode, 
antara lain melalui analisis kebijakan prospektif, analisis kebijakan 
restrospektif, dan analisis kebijakan terintegrasi. 
***
Dalam perilaku manusia pada organisasi publik, perilaku manusia 
merefleksikan persepsi, kebutuhan dan aspirasi. Persepsi, kebutuhan 
dan aspirasi tersebut dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan, 
budaya, pengaruh kelompok, dan pengaruh organisasi. Proses perilaku 
sendiri dimulai sejak adanya stimuli, persepsi, learning, possible 
alternative action, dan akhirnya behaviour. Dalam hal ini, step 
persepsi menjadi vital, karena persepsi merupakan kesan awal dari 
manusia yang dapat menjadi action atau behaviour. Persepsi merupakan 
proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami 
informasi yang diterimanya melalui penglihatan, pendengaran, 
perasaan, dan penghayatan. Persepsi akhirnya lebih merupakan 
penafsiran akan sesuatu, bukannya pencatatan yang benar tentang 
sesuatu.
***



                         

       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke