Nuwun sewu bagi yg memang ahli dalam berbahasa dan
berbudaya Jawa, sekedar ikut nimbrung saja. Lha wong
saya justru belajar budaya Jawa dari Frans Magnis-Su-
seno yg orang Jerman, dan Fachri Ali yg asli Aceh. Kata-
nya orang Jawa itu memiliki kharakter dasar harmoni: da-
lam konteks keselarasan, seirama, dan menjauhkan diri
dari pertentangan. Barangkali ucapan "podho-podho" un-
tuk "ngoko" dan "sami-sami" untuk krama, adalah repre-
sentasi dari harmoni dan keseimbangan. Kerap waktu di
kampung randhu dulu, saya menelaah betul- betul seorang
anak waktu sungkem ke simboknya. Dengan nada yang-
berat si anak sambil sungkem di lutut si ibu dengan beru-
cap "Mbokne, dalem ngaturaken sugeng riyadhi, mbok bi-
lih wonten kelepatan kawula nyuwun gunging pangapun-
ten". (Artinya: "Wahai ibunda tercinta, pada kesempatan 
ini ananda mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, apa-
bila ada kesalahan, mohon keikhlasan untuk dimaafkan").

Lantas dijawabnya sungkem si Tole tadi dengan ucapan:
"Yo Le, podho-podho, semonouga siMbok yen ono lu-
put yo dingapura. Tak dongakno olehmu nyambut gawe
lancar, bayarane mundhak satus suwidak ewu".  (Artinya:
Ya, sama-sama Nak, kalau Ibunda ada salah-salah dima-
afken, si Mbok doaken agar kamu dianugerahi kesukses-
an dalam bekerja, dan gajimu naik 160 ribu). Maaf kalau
naiknya cuma 160 ribu, lha wong masih pelaksana jeh.

Lalu di jawab sama si-Tole:  "Ngamin" Mbokne. Nah tuh, 
ternyata ndak ada "Amin".

Ngarso-Mbantul

________________________________________________

----- Original Message ----
From: bad nose <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, October 22, 2007 4:46:50 PM
Subject: Balasan: [Forum Prima] buat Pak Hari Utama Ribowo..

Assalamualaikum wrwb,

Memang seharusnya kita meng amini, bukan meng
"podo-podo" i. Podo-podo bisa maknanya begitu jauh se
X dan banyak macamnya oom , podo-podo dosa, podo2
nrimo, podo-podo suloyo, dan podo-podo lainnya.
pokoknya sesukanya.

Kirim email ke