Assalamualaikum wr wb.. 
wah kalo mas Acep sudah berkomentar, pasti isi nya padat, terperinci, dan sarat 
dengan nasihat.
terimakasih mas Acep, apa khabar nya di Mamuju. Sudah lama tidak posting email 
di milis Forum Prima?

Benar mas.. saya sependapat, bahwa orang tua (ibu) saat itu telah memilih 
sesuatu keputusan yang bijaksana. tidak ikut bapak ke daerah. Dan nyata 
hasilnya positip,  seluruh anak bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. 

Sayapun mengalami hal serupa dengan Mas Acep.. 
Ibu saya menjadi janda (ayah wafat) ketika saya berusia 13 tahun. Perjuangan 
ibu untuk bertahan hidup, tidak jauh berbeda dengan perjuangan ibu yang mas 
Acep ceritakan .. Kebetulan ibu saya punya bakat masak dan membuat kue.. dari 
situlah kami sekeluarga bisa mempertahankan dapur tetap berasap. Dan melalui 
suka duka yang amat panjang, akhir nya kami kakak beradik tiga orang, dapat 
semuanya menyelesaikan pendidikan. 

Mengenai pendidikan, kebetulan saya ikut pendidikan kedinasan, sehingga ketika 
sarjana muda (masih bujang tapi sudah punya calon) saya diberi kesempatan untuk 
tugas di daerah. saat itu saya minta kalau diizinkan ingin ditempatkan di 
Sorong (calon istri saya bekerja di pertamina mudah2an di sorong dia bisa 
kerja). tapi ternyata tidak diperkenankan, akhirnya saya di tempatkan di Ambon. 
Tidak masalah bagi saya ketika itu, karena calon istri ikut pindah ke Soroako 
(PT Inco). kalau mau bertemu, bisa di Ujung Pandang.  
Ketika lulus sarjana (sudah menikah plus 2 anak), saya ditempatkan di 
tasikmalaya. Saat itu, saya diharuskan memilih apakah istri ikut dengan saya, 
atau tetap tinggal di jakarta. Pilihan yang berat, karena ketika itu istri 
(yang bekerja di swasta) lebih besar take home pay nya dibanding saya. 
Karena masih ragu ragu untuk memutuskan, maka saya masih mencoba setiap akhir 
minggu pulang ke jakarta (naik bis). Saat itu jarak jakarta - tasik yang 300 
km, membutuhkan waktu 8 jam perjalanan (cukup lumayan.. badan jadi gempor). 

Namun setelah enam bulan menjalani hidup spt itu, saya merasa tidak sreg. 
Apalagi setelah bis yang saat itu saya tumpangi mengalami kecelakaan (untung 
saya tidak apa apa). 
Akhirnya di putuskan istri dan anak anak (yang saat itu berusia 5 dan 2 tahun) 
ikut ke tasikmalaya. 
Saya tidak ragu biarlah istri saya berhenti kerja, 
dan ternyata kami bisa bertahan walaupun cuma dengan satu roda yang berputar 
(kalau soal menabung wah jangan di tanya). 

setelah 3 tahun di tasikmalaya, saya mulai melamar ikut sekolah di LN. 
Beruntung kepala kantor, dan kepala kanwil mendukung saya. Tak berapa lama 
kemudian, dapat khabar lulus seleksi dan harus ikut pendidikan bahasa inggris 
di Jurang Mangu. dan bersyukur pula, karena tidak berapa lama, saya dapat SK 
pindah ke jakarta. Saat itu istri bisa mulai cari kerja (tidak bisa kembali ke 
pertamina), dan akhirnya mendapatkan di sebuah perusahaan swasta lain.  

begitulah cerita nya mas Acep.. koq saya jadi ikut ikut an berbagi pengalaman.. 
oya.. cerita teman mas Acep yang S2 itu patut di jadikan penerawangan untuk 
kita melakukan pilihan.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke