Assalamualaikum Wr.Wb Salam Sejahtera untuk kita
semua.
Ada rasa terkejut, haru dan malu ketika saya membuka
email pagi ini. Terkejut karena berita kebahagiaan
saya mengalir ke 1000 lebih anggota milis. Haru,
karena begitu derasnya rasa simpati yang saya terima.
Dan Malu karena seolah-olah "kebodohan dan
ketidakberuntungan saya" tersibak begitu saja.
Betapa tidak kuliah integrasi kok sampai 10 tahun baru
tamat. Opo Tumon, kata orang jawa. Tentang ini saya
mau bercerita sedikit, mudah-mudahan memberi semangat
dan inspirasi buat rekan-rekan yang lain.
Saya mulai kuliah tahun 1995 berbekal ijasah D3 ke
program extensi vak. Ekonomi Universitas Sumatera
Utara (USU). Selama empat semester kuliah berjalan
lancar meski sibuk diselingi main bola dengan 'bang
Hasan' (begitu dulu kami sering menyapa kepada Pak
Hasan Ramli) di lapangan IKIP Medan. Menginjak
semester 5 (Desember 1997)saya dimutasikan ke Jakarta
tepatnya ke subdit APHLN (bukan PPHLN lho....beda
sekali itu) Dit TUA. Karena faktor ekonomi saya baru
bisa melanjutkan kuliah pada tahun 2001 pada STIE
Kusuma Negara Cijantung. Ketika tiba waktu menyususn
tugas akhir saya baru diberitahu Ketua Jurusan bahwa
ada masalah dengan transkrip nilai saya. Transkrip
nilai dari USU terdiri atas dua lembar, satu lembar
konversi D3 yang diakui USU dan satu lembar lagi
transkrip nilai dari mata pelajaran yang sudah saya
tempuh di USU. Saya waktu itu disodori pilihan harus
pilih salah satu. Sebuah pilihan yang sulit karena
dengan memilih salah satu berarti saya harus
mengorbankan 40-an sks. Yang berarti sejumlah itu juga
harus saya ikuti lagi di STIE Kusuma Negara. Saya
merasa tertipu. Perasaan emosi dan kekecewaan yang
berlebihan membuat saya mengambil tindakan bodoh. Saya
tinggalkan bangku kuliah begitu saja. Judulnya sih
putus asa waktu itu. Saya sampai ambil
keputusan....ah..sudahlah, gak S1 juga gak apa. Tahun
bergulir hingga pada tahun 2004 roda mutasi membawa
saya ke Kendari. Enam bulan saya lalui begitu saja,
tidak ada keinginan untuk kuliah lagi. Beruntung saya
waktu itu dikelilingi orang orang yang begitu peduli
kepada nasib pendidikan saya. Mertua setiap dalam
pembicaraan via telepon selalu menanyakan kel;anjutan
kuliah saya, istri, atasan dan teman teman di KPPN
Kendari juga sangat menyayangkan apabila saya hanya
puas dengan D3 saja. Himbauan yang bertubi-tubi
membuat saya menyerah. Hingga pada suatu sore salah
satu rekan kantor bernama Hidayat (sekarang beliau
Kasi Perbendaharaan Kolaka) menyeret saya untuk
mendaftar pada STIE Enam Enam Kendari. Akhirnya
resmilah saya menyandang predikat mahasiswa lagi untuk
kali yang ke empat. Saya start dengan kondisi yang
sama ketika saya mendaftar ke STIE Kusuma Negara yaitu
berbekal transkrip nilai dari USU. Hanya saja saya
tidak mau kasus STIE terulang kembali. Setelah yakin
bahwa tidak ada kendala dengan transkrip nilai saya
kuliah lagi untuk mengambil mata kuliah yang tersisa
(padahal sebenarnya sudah saya selesaikan di STIE
Kusuma Negara). Menginjak semester 5 bencana mutasi
datang lagi. Saya diangkat korpel ke Raha. Sebagai
bawahan yg baik saya hanya bisa pasrah. Tiga mata
kuliah harus saya tinggalkan. Satu tahun kuliah saya
terkatung katung. Beruntung ada kebijakan dari kampus
sehingga saya dapat mengikuti ujian perbaikan nilai
saja. Tanpa harus mengikuti kuliah untuk tiga mata
kuliah yang tersisa. Dengan catatan saya harus
mengerjakan tugas-tugas tambahan yang diberikan dosen
ybs. Beruntung saya didukung sepenuhnya oleh kasubag
umum dan Kepala Kantor. Walaupun masalah absensi tetap
tidak ada kompromi, tapi saya diberi kelonggaran waktu
untuk menyelesaikan tugas akhir saya terutama
menjelang meja hijau. Saya dengan terpaksa
meninggalkan kantor untuk mengikuti seminar proposal,
seminar hasil dan meja hijau skripsi. Puji Tuhan
sekarang semuanya sudah berakhir. Satu pijakan sudah
mampu saya selesaikan dalam kurun waktu 10 tahun
lebih, tepatnya 12 tahun (1995-2007).
Mudah-mudahan temen temen dapat mengambil hikmah dari
pengalaman saya. Satu pesan saya, jangan pernah
menyerah, tetap pelihara semangat dan motivasi untuk
pendidikan yang lebih tinggi. Bukan saja semata mata
tuntutan karir tetapi juga sebagai contoh yang baik
untuk anak-anak kita nanti.
Dalam kesempatan ini saya juga mengucapkan terima
kasih atas ucapan selamat yang ditujukan kepada saya,
utamanya untuk:
1. Bp. Bagus 'Eyang' Konstituante, terimakasih atas
semangat dan motivasinya, saya hutang mancing sama
Bapak.
2. Bp. Hari Utama, saya belum kenal bapak secara
pribadi namun sepertinya saya mempunyai pengganti
bapak saya almarhum.
3. Bp.Bambang 'Subasita alias Bad Nose' Suroso, saya
mengenal bapak sekilas waktu saya penempatan sementara
di Dit PAR tahun 1993, saya anak buah pak Rusdianto
waktu itu.
4. Bp. Hasan Ramli, kalo main bola masih bisa saya
imbangi, tetapi kalo tenis bapak memang rajanya
bersama bang Parmo(nangan), dan bang Beni.
5. Haryanto Sijabat, bang gimana kabar S2nya.. pasti
selesai tahun ini khan?
6. Bp. Danti Purnama
>From Raha
HaBeWe
____________________________________________________________________________________
Get easy, one-click access to your favorites.
Make Yahoo! your homepage.
http://www.yahoo.com/r/hs