--- In [email protected], "sry_pbun" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kenapa kita begitu tertarik dengan "melompat ke atas" saya kira
karena itu sulit, dan sudah menjadi sifat kita untuk mencari "sulit
yang bergengsi", sulit yang menurut kita akan menjadikan kita lebih
bermartabat. Maka, begitulah: kita ingin berkantor di Jakarta,  mati
matian belajar untuk menembus bea siswa, yang tidak lulus percontohan
mengalami demam pada bulan pertama setelah pengumuman, yang lain mimpi
jadi Kepala Kantor. Tetapi ngomong ngomong saya mempunyai Kepala
kantor yang keputusannya selalu menimbulkan salah tafsir pegawainya.
Yang Mendapat bea siswa pengin TC nya 100% (saat ini jika ada yang
menawari bea siswa dengan TC 45% pasti saya langsung mau, entah nanti
kalau sudah menjalaninya, pasti saya juga akan meminta TC 100%) Yang
di Percontohan ada yang sering sakit sakitan dan rindu ke Kantor
sebelumnya (Walaupun,  pasti ybs tidak mau kalau dibalikin lagi)

Seandainya.........
If I...............
Yen................
Yen ing tawang ana lintang.....

dan semuanya adalah  Kewajaran "manusiawi" 

Kita Hidup dan mudah mudahan akan bertahan dengan rasa sakit, gembira,
nelangsa, dan sukacita.

Dan sebagaimana kata Nietzche " Hal hal yang menyakitkan kita, asal
tidak membuat kita terbunuh, akan semakin menguatkan kita".

Salam Ngalor ngidul ngetan Ngulon.

Kirim email ke