Di tengah-tengah kebekuan sejuta rasa akhir tahun dan kerinduan memecah suasana suntuk di akhir minggu. Terbesik khabar dari kedalaman 70 m dibawah permukaan laut.
Kalau bukan karena pergaulan yang intens cerita cumi-cumi.. eh bung Musukhal yang tidak kalah jeli dengan nelayan muara baru, cilincing, atau penjaringan seiring nyanyian pilu tanggul jembol yang tak mau surut menggenangi pemukiman penduduk. Berkolusi dengan pemanasan global. Ikan sapu-sapu yang belum sempat disebut bung Musukhal seperti sedang ikut juga memanfaat moment konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) di Bali. Mungkin kalau tidak ada upaya serius suatu saat nanti banyak orang mancing ikan deket istana negara. Kemungkinan ini berarti prilaku ikan yang semakin kedaratan membuat pedagang di Glodok suka memancing. Tetapi namanya ikan-ikan segar pasti tetap laku banyak yang cari..bagaimanapun tipenya eh jenisnya. Terima kasih bung Wahyu atas "ikan-ikan segarnya" Maaf becandanya kalau kurang berkenan. salam yondi -- In [email protected], "musukhal" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Beberapa waktu yang lalu, ketika diminta mengisi acara `obrolan > santai' dengan para pemuda Indonesia yang sedang belajar di Melbourne, > saya terinspirasi untuk membandingkan karakter manusia dengan karakter > ikan-ikan di laut. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia ada gaya > bahasa `personifikasi', tulisan ini menggunakan analogy kebalikannya, > `animalisasi'. Walaupun terkesan konyol dan ngocol, mudah-mudahan > relefan dengan dinamika kehidupan perkantoran dan menjadi pengantar > tidur liburan. Selamat membaca
