MRA
                        Bicara mengenai survei, saya lebih tertarik pada 
hal-hal teknis (pemilihan sampel, penetapan parameter, penyusunan kuesioner, 
asumsi, dll.) dalam kegiatan survei yang dapat menghasilkan kesimpulan yang 
bias.   Ringkasnya, seorang peneliti bisa (meskipun menurut etika tidak boleh) 
mengatur hal-hal teknis dalam kegiatan survei sedemikian rupa sehingga dapat 
mengarahkan hasil survei pada suatu kesimpulan tertentu yang dikehendaki oleh 
pemesan (pemberi sponsor).   Oleh karena itu, semestinya kita tidak perlu kaget 
seandainya terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara hasil survei yang 
satu dan hasil survei lainnya, misalnya mengenai jumlah penduduk miskin di 
Indonesia.
----------> Saya kira setiap  peneliti  memahami tentang kode etik penelitian, 
dimana  dalam melakukan penelitian  sangatlah  tidak  etis apabila hanya 
sekedar untuk mencapai target tertentu dengan mengabaikan apa yang sesungguhnya 
terjadi di lapangan. Kalo ada seorang peneliti yang berani berbuat demikian, 
maka tidak jauh berbeda dengan seorang PSK bukan seorang akademisi.
MRA --
Kalau selama ini saya menyimpan dendam kepada kebijakan mutasi Ditjen PBN yang 
telah mendzalimi saya dan keluarga saya dengan membiarkan saya bekerja di 
daerah terpencil di luar Jawa dalam waktu yang sangat lama, barangkali saya 
cenderung akan melakukan survei tentang kepuasan pegawai dengan memilih unsur 
utama tentang kepuasan pegawai terhadap kebijakan mutasi dan memilih sampel 
responden terutama di daerah terpencil di luar Jawa.    Hal yang sebaliknya 
juga dapat saya lakukan kalau selama ini saya termasuk mereka yang diuntungkan 
oleh kebijakan mutasi Ditjen PBN.  Pertanyaan saya, siapa yang berani melakukan 
survei tentang kepuasan pegawai dengan kondisi yang direkayasa (disengaja) 
untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang bias?
----------> Saya juga pernah merasakan apa yang MRA rasakan, dan saat ini saya 
berada jauuuuh dari 3 orang junior yang lucu-lucu serta seorang isteri yang 
cuantik dengan berbagai pertimbangan yang akhirnya kami memutuskan untuk 
berangkat sendiri memenuhi tugas yang telah ditetapkan dalam SK Mutasi tersebut 
(cukup pahit memang, namun saat ini tidak ada pilihan lain karena sebagai 
kepala keluarga harus menafkahi isteri dan anak-anak). Tapi dari sini justru 
kita harus bangkit untuk bisa menembus tembok pembatas yang tiada terbayangkan 
namun dapat dirasakan kalau pembatas itu ada. Sering kita menyebutnya dengan 
link, genk pusat atau apalah namanya yang kita melihatnya dengan mata kita 
sebagai kelompok yang beruntung. Disini saya memiliki pandangan lain, bahwa 
belum tentu kalau ada orang dimutasikan jauh dari keluarga itu sungguh sangat 
kasihan (walaupun saya sendiri merasa berat untuk menjalaninya) namun kita 
harus sadar bahwa inilah jalan yang harus kita lalui, apa usaha kita
 agar jalan sulit yang kita lalui ini bisa mulus kita lewati. Saya kira cukup 
bagus juga ketika kita mampu untuk menuangkan suatu penelitian tentang kepuasan 
pegawai yang ada di pelosok untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasannya 
sebagai pegawai yang ditempatkan di daerah terpencil, tentunya penelitian tidak 
hanya cukup sampai disini, selanjutnya apa yang hendak dicapai dari penelitian 
ini. Kalau ada pegawai yang mampu menuangkannya dalam suatu tulisan yang 
sistematis, ini bisa jadi saran untuk menembus tembok yang ada namun tiada 
sebagaimana yang saya tulis diatas. Soal hasil survey itu seperti apa bukan 
suatu masalah bagi kita asalkan kita obyektif dalam melakukan survey tersebut, 
apa adanya tanpa rekayasa.
Saya sendiri saat ini sedang berjuang untuk bisa menembus tembok yang ada namun 
tiada tersebut, walaupun saya ada family yang menduduki jabatan eselon I di 
Departemen Keuangan, namun beliau tidak mendidik kami untuk seenaknya aja minta 
mutasi sesuai dengan keinginan kita seolah -olah seperti "KANTORE MBAHE". 
Doakan semoga usaha saya berhasil, sekarang tinggal finishing sudah dapat 100 
halaman, target 150an halaman dengan topik KPPN Percontohan.
Banyak diantara kita yang memiliki potensi yang besar, namun potensi itu 
tertutup karena kemarahan kita terhadap kondisi di sekitar kita yang tidak 
sesuai dengan keinginan kita.
Dan prinsip yang saya yakini bahwa diantara kesulitan itu ada 
kemudahan-kemudahan. Salam Perubahan                  

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke