Keteladanan Pemimpin dari Kampung Gempa
http://www.dompetdhuafa.org/dd.php?w=indo&x=lirih&y=detail&z=0e6d5cd6fe3
766312201249e74d6a834

"Selesaikan rumah warga dulu, saya belakangan saja", perintah Hamdan
(50), Kepala Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara pada warganya. Tidak hanya
tempat tinggal yang minta dibuat paling akhir, bantuan kemanusiaanpun ia
selalu utamakan masyarakatnya terlebih dahulu. 
Bukan berarti Hamdan tidak menjadi korban gempa Bengkulu, Rabu (12/9)
lalu. Rumah kepala dusun itu juga luluh lantak. Sebagaimana korban gempa
yang lain, Hamdan bersama istri dan tiga anaknya juga tinggal di bawah
tenda. Terpal biru yang ia dapat juga terpal terakhir. Ia mengambil
setelah memastikan warganya sudah berteduh sementara di bawah tenda.
"Dia masih keponakan saya, tolong pengurus posko saja yang memutuskan",
pesannya suatu saat ketika mendistribusikan sembako. "Jangan bayari
papan itu pak. Karena dia adik saya, apa nanti kata warga. Lebih baik
bapak pakai papan warga saja", larang Hamdan halus, pada seorang relawan
yang hendak memakai papan untuk tiang posko.

Tiga minggu kenal lebih dekat dengan putra Rejang itu (salah satu suku
di Bengkulu Utara), banyak hikmah yang bisa dipetik. Meski hanya lulus
sekolah dasar, ia menjiwai betul intisari dari memimpin masyarakat. Ia
mengikat keluarga dan sanak saudaranya dari fitnah. Ia pula, berusaha
menahan penderitaan lebih lama dari derita yang dialami warganya.
Hamdan, akan mengambil paling terakhir. Itupun jika sisa. Pada saat,
sebagian warga korban gempa di sepanjang jalur Lais hingga Muko Muko
mempersempit jalan dengan meminta-minta bantuan pakai kardus, Hamdan
melarang keras warganya melakukan itu. 
"Kalau rezeki kita, pasti tidak kemana. Jangan memaksa orang membantu
dengan mengiba-iba. Apalagi memaksa, kemana harga diri kita. Bukannya
mereka mau membantu malah segan berhenti memberikan bantuan", terangnya.
Buah dari kesabaran itu, berdampak pada suasana Dusun Penyangkak yang
tenang dan teratur. Meski 90 persen rumah di dusun itu hancur total,
warga tidak terpancing untuk bertindak anarkis. 
"Kita tidak perlu marah pada pemerintah dan bupati. Bukan mereka yang
membuat gempa ini. Biar saja, kita urus masalah kita sendiri. Kedatangan
pejabat juga tidak menyelesaikan masalah, malah bisa-bisa menambah
masalah. Kita tunggu dengan sabar bantuan pemerintah, sambil kita
berusaha bangkit sendiri", wasiat bijak Hamdan pada suatu rapat di
hadapan warganya.

Suatu hari, posko Dompet Dhuafa yang dipimpin Hamdan kebanjiran bantuan.
Semua warga Penyangkak sudah mendapat lebih dari cukup. Tetapi Hamdan
tidak menghedaki warganya aji mumpung. Maka atas persetujuan dari warga,
bantuan yang berlebih itu didistribusikan ke desa-desa lain. Ia memimpin
sendiri pendistribusian bantuan itu hingga ke Serangai - perjalanan satu
jam dari Penyangkak.
"Kami sudah dapat lebih dari cukup hingga lebaran nanti. Saudara kami di
desa lain belum tentu mendapat keberkahan sebesar ini. Semoga ini
bermanfaat untuk warga bapak", kata Hamdan pada tokoh Desa Kembang
Manis, Lais.
Dua hari lalu, pada sore hari, di depan posko, Hamdan termenung. Matanya
tampak basah. "Saya sedih juga gembira. Saya membayangkan kami akan
merayakan lebaran ini di tenda. Tetapi ini sungguh karunia Allah, saya
seolah tidak percaya jika hari ini semua warga saya sudah masuk ke rumah
kembali. Kami bisa menikmati lebaran nanti sebagaimana tahun lalu. Kami
tidak lagi di tenda seperti korban gempa yang lain", ungkap Hamdan
menyuarakan hatinya.
"Tolong pak, sampaikan ucapan terima kasih kami pada donatur Dompet
Dhuafa yang telah membangun rumah kami. Tidak ada yang bisa kami berikan
atas jasa mereka. Kami terima kasih...", pesan Hamdan, bercampir tangis
yang pecah dalam pelukan relawan DD yang hendak pamit pulang ke Jakarta.

hadi

Kirim email ke