sebuah tulisan yang bagus dan amat lengkap.. patut dijadikan dokumentasi yang amat berharga bagi temen temen yang tidak sempat melihat sendiri betapa hancur nya ACEH pada saat itu..
saat itu tgl 26 desember 2004 saya sedang berada di Kuching.. aneh sekali angin sangat kencang bertiup pada hari itu.. gambaran pucuk pucuk pohon yang merunduk tertiup angin terlihat jelas dari jendela hotel.. ada yang tidak beres.. kata ku dalam hati.. siang itu kami pulang dengan pesawat Malaysia ke Pontianak.. aneh lagi.. pesawat tiba tiba naik kembali padahal sudah di umumkan akan mendarat.. ini merupakan pertanda yang tidak beres.. saya langsung baca yassin.. dan ketika saya tengok ke belakang.. ternyata pramugari juga gelisah, sampai sampai dia melongok melalui jendela saya.. anak yang menjemput di bandara Supadio menceritakan bahwa tadi di radio mobil di umumkan ada gempa di aceh.. sesampai di rumah, saya langsung pasang teve metro.. cari cari berita mengenai gempa.. ternyata di sebut ada gempa dan korban nya 56 orang.. Buh Buh.. suatu berita yang tidak akurat.. saya kemudian cari cari teman yang bisa di hubungi di aceh.. tidak ada yang bisa di hubungi.. akhirnya saya dengar dari pak Sekretaris bahwa Bpk Suba Sita di kirim ke Aceh.. untung lah saya punya no HP nya.. kepada beliau lah kemudian saya dapat khabar yang mengerikan.. beberapa sms dari beliau telah membuktikan bahwa telah terjadi gempa yang sungguh dahsyat.. yang membawa korban 169 000 jiwa manusia.. wassalam ----- Original Message ---- From: suba sita <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, December 26, 2007 1:34:32 PM Subject: [forum prima] tiga tahun tsunami Aceh sebuah memori Assalamualaikum wrwb, Tanggal 26 Desember 2004, Hari itu BRI merayakan ulangtahun ke 100. Para Karyawan/wati BRI bersama isteri/suami, anak-anak, keluarga dan peserta lainnya baru saja menyelesaikan jalan santai. Menelusuri jalan-jalan kota Banda Aceh dg penuh sukacita dan canda. Sampailah mereka kembali di komplek perkantoran BRI yg terletak tak jauh dari Mesjid Raya Baiturrahman, kebanggaan warga Aceh. Tiba2 guncangan kuat datang. Disusul guncangan2 berikutnya. Gempa dahsyat datang. Mereka berhamburan keluar dari komplek kantor. Sebagian duduk2 dg perasaan shock di halaman perkantoran. Gempa mm sering menyapa Aceh, tp kali ini terasa sangat kuat goncangannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh, mirip suara mesin pesawat jumbo jet. Air sungai di depan perkantoran itu berbalik arah. Mereka belum menyadarai bahwa itu adalah gelombang tsunami. Gulungan ombak raksasa menerjang dan meluluhlantakkan pantai Aceh dan segala yg menghalanginya. Kepala pinca BRI dan orang-orang lain lari dengan panik ke arah masjid, memanjat pagar, berdiri diatas bangunan beton tempat biasa orang mengambil air wudhu. Mereka ini adalah kelompok yang selamat. Sebagian lain kocar-kacir kearah yg tak menentu dan sebagian besar dari mereka itu lenyap ditelan air bah dan tidak selamat. Teriakan Allahuakbar, astaghfirullah bersaut-sautan, terdengar dimana-mana. Itulah kesaksian yg diceritakan pimpinan BRI kpd saya pd hari Selasa malam tgl 28 Desember 2004 di bandara Sultan Iskandar Muda (SIM). Ketika itu, sy baru sj menapakkan kaki di bandara SIM, setelah mendapat perintah pimpinan untuk segera ke Banda Aceh. Perintah itu datang pd hr Senin malam tgl 27 Desember 2004 jam 22.00. Pagi2 kami ke Sukarno Hatta tanpa berbekal tiket. Sampai bandara saya menyaksikan banyak sekali orang yg akan ke Banda Aceh, mereka bersitegang, berkelahi, melontarkan kata2 yg penuh caci maki dan serapah. Sy mengurut dada namun memaklumi krn pada saat itu banyak orang panik luar biasa. Mereka ingin mengetahui nasib sanak keluarganya. Sementara itu sarana penerbangan ke Aceh terbatas dan komunikasi dg Banda Aceh putus total. Jam 13.00 akhirnya Garuda menyediakan penerbangan ekstra. Setelah tertahan di Medan beberapa jam, krn terbatasnya apron peswt di bandara SIM, pd jm 18.00 sampailah saya, Sdr Sudiweko dan Sdr Asman di BA. Ketika smp di bandara SIM itulah cerita2 kengerian diatas di mulai. Kami bertemu banyak orang yg ingin segera meninggalkan BA. Bertemu dg banyak orang yg terluka, patah kaki, patah tangan tp tidak patah hati dan masih bersyukur krn masih diselamatkan YME. Kami menuju GKN (yg ternyata ambruk terkena gempa, spt "sandwich") dg pik up terbuka dan ongkos 300 ribu rupiah. Cukup mahal mm. Tp masih bersyukur ada transportasi. Bbrp kilometer dari bandara, aroma menyengat mulai tercium. Kami melewati kuburan masal yg memang belum di tutup dan baru mulai digunakan. Hari2 berikutnya kub masal td akan di isi dg jenazah2 yg lainnya. Beberapa ratus meter dr tempat itu, dibawah tenda2 dg penerangan temaram terbujur ratusan jenazah yg umumnya telah rusak, yg esok harinya akan dimakamkan secara masal. Rasanya tak percaya, namun keniscayaan ada di depan kita. Sepanjang perjalanan, terlihat jenazah2 rusak berbalut lumpur hitam. Mereka teronggok di tepi jalan. Banyak orang lalu lalang dg tatapan mata kosong. Melihat sejenak jenazah2 bisu untuk memastikan apakah familinya atau bukan. Tentara mulai bekerja membuka akses jalan2 utama (karena relawan belum pd datang dan sampai di BA) yg dipenuhi bangkai2 mobil, rongsokan rumah, pohon2 tumbang, kapal2 kayu dan apa saja. Lapangan Blang Padang di tengah kota yg biasa di gunakan untuk berbagai "event", hari itu porak poranda penuh dg sisa2 rumah yg hancur, pohon2 tumbang yg terbawa air, mobil2 yg bergelimpangan dan mayat2. Suatu pemandangan yg mengerikan dan nyaris tak bisa di percaya. Dari pinggir lapangan itu, langsung terlihat garis pantai yg jaraknya +/- 4 km tanpa terhalang suatu apapun, pdhl semula di penuhi dg kampung yg padat. Hanya replika pesawat Seulawah yg tetap berdiri megah menyaksikan kepedihan, jerit tangis dan air mata yg tumpah di sekitarnya. Genset terapung milik PLN yg berbobot ratusan ton, diatas ponton sepanjang 40 meter dan lebar 8-10 meter, pindah dari laut kedaratan sejauh 4,5 km dr tempat asalnya. Air mata penduduk sudah kering, tak mampu lagi menangis menyaksikan semua itu. Keluarga tercerai berai. memerlukan waktu yg lama dan pencarian yg melelahkan untuk menyatukan kembali. Saya mencoba ke Ulheu lheu (Ulele). Pada kunjungan 1 tidak berhasil. Jalan belum tembus kearah sana. Baru pd kunjungan ke 3 sy bisa sampai sana. Kenapa saya sangat ingin ke Ulele. Krn sy pernah tinggal disana selama 3 tahun (rumah dinas saya 50 meter dr bibir pantai), dan mengenal warga 1 per 1 di sekitar saya dg baik. Mereka, tak satupun yg nyaris selamat. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kampung itu sama sekali tak berbekas, bahkan sebagian berubah menjadi laut. Di Ulele hanya tersisa 1 buah jembatan, 1 pohon cemara besar, tugu peringatan perang aceh. dan suatu mujizat, masjid baiturrachim yg tetap utuh. Masjid ini selanjutnya sering di jadikan tempat penyelenggaraan berbagai acara. Termasuk acara penyerahan DIPA BRR oleh Dirjen Perbendaharaan Bpk Mulia P Nasution ketika itu. Akhirnya saya 7 kali ke Banda Aceh sesudah tsunami dlm kurun waktu yg tidak terlalu panjang. Kini saya hanya bisa berharap BRR dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu dlm rangka rekon dan rehab NAD. Agar ,paling tidak, dapat membantu menghapus trauma mendalam masyarakat Aceh. Wassalam. <Subasita, fr The Heart of Borneo> ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun. Hentikan sekarang juga. Yahoo! Groups Links ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ [Non-text portions of this message have been removed]
