Seandainya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan Ilmu Tuhan tidak akan cukup dan terus ditambah lagi sebanyak air di lautan masih juga tak akan cukup, untuk membayangkan dan pembandingkannya makhluk Tuhan yang paling berakal pun tak akan sanggup karena makhluk serba relatif sedangkan Dia Dzat yang Maha Mutlak.
Ribuan Hikmah terus mengalir hingga kini setelah 3 tahun peristiwa yang mengguncang itu. Tiada kata yang dapat mewakili selain rasa tawadhu kepadaNya karena kita tak berarti dihadapanNya. Perjuangan hidup yang mesti diberi penghargaan, ujian berat dan pelajaran berharga bagi yang diberi kesempatan dan "menyaksikan" karena Murka Tuhan dan kasihNya sangat tipis. Setiap yang hidup merasakan mati dan kita tidak bisa memilih caranya. Tetapi menjadi suhada adalah cara yang sama mengahapi kematian yaitu cara mempertahankan hidup dengan menegakan keadilan dengan sepenuh RidhoNya. salam yondi --- In [email protected], Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pagi yang cerah mengingatkanku pada masa lalu > Luluh lantaknya rumahku, seiring dengan hancur leburnya hatiku > Kepedihan merasuk sukma, menghempaskan segala kesombongan > > Jenderal â¦mana bentakanmu tak terdengar lagi.. > Diktatorâ¦.mana sok kuasamu... > Tak ada yang bisa kamu banggakan lagi di Bumi ini > Semua yang kau punya remuk dihantam gelombang. > > Tiga tahun berlalu, apa kabarmu bumi rencong > Masih bisakah kembali utuh puing-puing hatimu > > Mas AA Haq..dan teman-teman di Aceh > Kutunggu kabar baiknya.... > > > ________________________________________________________ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
