Kalau anda melakukan perjalanan darat dari pangkalan bun ke palangka
raya pada ruas kasongan-palangka raya anda akan melihat sebuah bukit
batu di sisi kanan jalan. Inilah satu-satunya bukit yg ada di jantung
kalimantan tengah. Memang di kalteng ada banyak bukit tapi biasanya
berbatasan dg wilayah kaltim atau kalbar. Sekilas tidak begitu tinggi.
Kalau kita berada di lembah maka kita bisa melihat puncaknya. Ada
sembilan bukit yang sambung menyambung. Setahun yg lalu saya
berkesempatan untuk menyelesaikan pendakian 7 bukit yang ada.
Alhamdulillah banyak hal yang saya dapatkan di sana. Liburan yg
lumayan panjang kemarin saya manfaatkan untuk menyelesaikan utang saya
yg dua bukit lagi. Alhamdulillah utang sudah lunas kemarin, 9 bukit
sudah saya lewati. Itulah bukit Tangkiling. Saya sering menyebutnya
dengan sebutan Tengkiling karena pengarus lidah jawa yg memang sulit
dihilangkan. Tengkiling, sebuat bukit batu yang mengingatkan saya
dengan bukit yang hampir sama di daerah babakan madang, kabupaten
bogor yang biasa dipakai untuk syuting film/sinetron laga. ........ 
Ketika masih tinggal di Citeureup saya berkali2 kesana. Keduanya punya
karakter yg hampir sama. Yang jelas banyak batu2 besar. Kalau cuaca
lagi baik, nyaman sekali kita bisa tiduran di atas batu besar. Apa
lagi kalau bulan purnama penuh. Subhanallah. 

Kembali ke Tengkiling.
Perjalanan saya dan rombongan ke Tengkiling dari pangkalan bun tidak
langsung menuju lokasi. Kami langsung ke palangka. Setelah istirahat
dari pagi sampai sore barulah kami menuju Tengkiling malam harinya.
Pendakian gunung biasanya memang lebih enak kalau malam hari. Rute yg
kami lalui berbeda dg tahun lalu. Kali ini kami memulai dari 2 bukit
yg belum sempat kami lewati tahun lalu. Tidak sampai sejam kami sudah
selesaikan 2 bukit. Setelah itu kami istirahat disana dan menginap di
alam terbuka selama dua malam. Tidak ada tenda. Kami hanya pakai
ponco/ jas hujan. Masing2 bikin bivak sendiri untuk bermalam. Ya, dua
malam kami kasih makan nyamuk2 hutan yang kelaparan nggak pernah dapat
makanan lezat. 

Setelah dua malam bermalam di bukit Tengkiling kami kembali
melanjutkan perjalanan untuk menempuh tujuh bukit lagi sisanya. Jadi
tahun ini sembilan bukit sudah kami selesaikan. Tujuh bukit kami
selesaikan dalam waktu 6,5 jam dengan sekali istirahat panjang karena
dalam tempo itu kami sempat bermalam sekali lagi. Baru jam dua dini
hari kami melanjutkan perjalanan dan menyelesaikan perjalanan tepat
jam 4 subuh. Kami finish disebuah tempat yang merupakan penangkaran
buaya. 

Dalam perjalanan menempuh sembilan bukit di Tengkiling banyak sekali
pelajaran yang bisa kami ambil. Karena ini adalah perjalanan yg
membutuhkan fisik yg prima tentu saja banyak hal yg mesti
dipersiapkan. Pelajaran pertama adalah ketika anda akan melakukan
perjalanan jauh entah kemana tujuan anda, yang anda butuhkan adalah
persiapan dan perbekalan. Siapkan fisik dan mental, jangan terlalu
banyak beban yg di bawa, serta cukupkan perbekalan dan jangan membawa
perbekalan yg terlalu banyak, karena bisa merepotkan. Ada kawan yg
kurang persiapan fisik sehingga tdk bisa melanjutkan perjalanan. Ada
juga yg kelewat banyak beban dan perbekalan yg dibawa sehingga malah
nggak sanggup membawa. Terpaksa sebagian ditinggal biar nggak merepotkan.

Pelajaran kedua. Ketika kita tidak sendirian melakukan perjalanan maka
yg terpenting adalah kekompakan tim. Jangan karena merasa kuat
sehingga meninggalkan kawan cukup jauh dibelakang. Dalam melakukan
pendakian maka orang yg kuat sebaiknya berada dibelakang agar keutuhan
tim terjaga. Ketika ada yg kepayahan yg lain segera membantu, paling
tidak harus beristirahat sejenak. Bahkan untuk semua hal yg melibatkan
tim, maka kekompakan merupakan modal untuk sukses.

Ketika kami dua malam berada dibukit banyak aktivitas yang kami
lakukan. Melakukan olah raga ringan, aneka permainan out bond, serta
aktivitas harian seperti mandi dll. Di atas bukit tersebut kami
mendapati sungai kecil yang airnya jernih dan segar yg sangat berbeda
dengan sungai2 yg ada di kalimantan tengah yg rata2 berwarna coklat.
Sebuah sungai yg belum banyak tersentuh oleh tangan2 manusia. Coba
bandingkan dengan sungai2 di jakarta yang begitu jorok dan beracun
karena banyaknya limbah yg dibuang di situ. Tentu saja pengecualian
untuk kali pesanggrahan di jaksel yg airnya bersih krn ada yg peduli.
Kebanyakan kali2 di jakarta pas air meluap menyisakan sampah yg
mengunung. Membandingkan dua hal yg kontradiktif tadi, pelajaran yg
bisa diambil adalah. Jangan buang sampah sembarangan. Inilah pelajaran
ketiga yg kami dapatkan. Jangan kotori lingkungan kita yg sudah begitu
parah rusaknya. Janganlah kita ikut membuat kerusakan dg membuang
sampah sembarangan. Itulah langkah minimal yg biasa kita lakukan.
Sekali lagi. Jangan buang sampah sembarangan walau Cuma secuil bungkus
permen. Sering kali saya menyaksikan dari kaca mobil2 mewah keluar
aneka sampah, mulai dari bungkus permen, bekas air mineral maupun
minuman ringan lainnya. Sungguh mencerminkan orang yg tidak peduli.
Tahukan kita bahwa satu kotak kecil bekas bungkusan permen kalau
dibuang sembarangan dan menutupi permukaan tanah, maka ia akan
menghilangkan kesempatan tumbuh benih tanaman yang ada dibawahnya. Itu
baru satu bungkus permen, kalau jutaan. Tinggal kalikan saja. Berapa
juta benih yg tidak bisa tumbuh lantaran tertutup sampah plastik.

Pelajaran ke empat. 
Ketika kami berada di puncak tertinggi bukit Tengkiling, dari atas
kami memandang sebatas kemampuan mata, kami mendapati kalimantan
tengah yg datar. Nggak ada bukit lagi selain tempat kami berpijak.
Sebagian besar hutan yg sudah gundul. Bekas2nya sudah tidak dikelola
lagi, seolah2 tidak bertuan. Dari atas akami juga bisa melihat sungai
Kahayan yang berkelok2 laksana ular raksasa. Entah sampai kapan sungai
ini akan bertahan memberikan kehidupan bagi sekelingnya manakala
menyaksikan hutan yg gundul. Hutan, gunung, sungai jelas meraka saling
terkait. Pelajaran yg bisa diambil. Hentikan eksploitasi hutan demi
generasi yga akan datang.

Berjalanlah di muka bumi Allah ini, dan ambil pelajaran darinya.




Kirim email ke