Ass. rekan-rekan milis yth.
Saya tertarik dg tulisan mas Aji tentang Tantangan Perekonomian Indonesia di
Th. Shio Tikus, karena tadinya saya berfikir dihubungkan dg pengaruh shio tikus
thd pertumbuhan atau kondisi ekonomi Indonesia, maklum..... di negara kita kan
memang terkenal paling banyak populasi tikusnya baik tikus beneran maupun
tikus-tikus yg doyan makan besi beton & minum minyak tanah bersubsidi.....,
he3x. Ternyata tidak.... Shio Tikus hanya sbg pengganti th. 2008.
Dlm tulisan itu dikatakan:
Target pertumbuhan yang diasumsikan tumbuh sebesar 6 hingga 8 persen dan
pertumbuhan inflasi yang digadangakan sebesar 10 sampai dengan 11 persen oleh
pemerintah memberikan signal, bahwa perspektif pertumbuahan ekonomi Indonesia
masih positif.
Rasanya koq aneh ya, ketika ekonomi tumbuh 6-8% dan inflasi seb. 10-11% koq
dikatakan memberi sinyal "pertumbuhan ekonomi Indonesia masih POSITIF"??
Maafkan ya mas Aji, saya memang awam ttg ekonomi....., tp secara logika
keuangan rumah tangga saja, kalau th. 2008 penghasilan/gaji kita naik 10% dan
pd waktu yg sama terjadi inflasi 10% maka secara riil penghasilan kita TURUN
dong mas.
Tapi untunglah hari ini saya baca kompas yg menulis:
Komisi XI DPR dan pemerintah menyepakati asumsi makro-ekonomi bidang keuangan
tahun 2008 seperti pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,5-6,9 persen dan inflasi
pada kisaran 5,5-6,5 persen....dst...
Maka agak legalah sedikit hati saya, karena ternyata yg dikatakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia pd th. 2008 msh positif itu JIKA tingkat inflasinya lebih
rendah dp tingkat pertumbuhan ekonominya.
Sementara itu, rata-rata suku bunga SBI tiga bulan di kisaran 7-8 persen dan
rata-rata nilai tukar Rp 9.100-Rp 9.400 per dollar AS masih memberi harapan
kepada para deposan yg menyimpan uangnya di bank, karena suku bungan yg mereka
peroleh masih ada spread kira2 1,5% per th.
Hanya ini komentar singkat saya, dan appresiasi saya yg setinggi-tingginya
kpd teman2 yg tulisan/ulasan ekonomi/keuangannya bagus2 di milis kita ini.
Tks & Wass. <MK>
Aji Setiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
TANTANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA
DI TAHUN SHIO TIKUS
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Oleh : Aji
Stabiltas perekonomian Indonesia pada tahun shio tikus ini
dihadapkan pada berbagai tantangan besar yang menghadang. Pertanyaan
fundamental yang mengiringi di tahun shio tikus ini adalah apakah perekonomian
Indonesia mampu untuk tetap tumbuh secara positif, sehingga mencapai berbagai
sasaran yang telah ditargetkan oleh pemerintah dalam APBN.
Target pertumbuhan yang diasumsikan tumbuh sebesar 6 hingga 8 persen dan
pertumbuhan inflasi yang digadangakan sebesar 10 sampai dengan 11 persen oleh
pemerintah memberikan signal, bahwa perspektif pertumbuahan ekonomi Indonesia
masih positif.
Hal ini tercermin lewat stabilitas perekonomian yang relatif stabil
(dibandingkan dengan 11 tahun ketika krisis moneter terjadi) yang dimulai dari
kredit macet yang melanda sektor properti atau yang lebih dikenal dengan
subprime mortgage pada kuartal ketiga perekonomian di Amerika yang berimbas
pada laju perekonomian dunia. New York Stock Exchange Market mengalami tekanan
yang cukup signifikan, hingga terjadi aksi rush terhadap saham-saham di sektor
properti (yang memaksa CEO pada Citi Group mengundurkan diri dari jabatannya).
Imbas dari subprime mortgage ini juga berdampak pada nilai tukar dollar Amerka
yang melemah terhadap Euro yang menyentuh level terendah sejak 10 tahun
terakhir.
Yang cukup mengejutkan adalah efek dari subprrime mortgage ini tidak terlalu
berimplikasi secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Nilai
tukar rupiah memang sempat mengikuti trend mata uang regional Asia lainnya
yang cenderung melemah, namun hanya sementara saja sifatnya. Pasar modal masih
tetap bergerak relatif positif, khususnya saham komoditi bahan mentah (pada
kelapa sawit yang meningkat dari 400 dollar/ton hingga mencapai 800 dollar/ton)
dan saham di sektor pertambangan (khususnya batubara yang trendnya cenderung
meningkat mengikuti trend harga minyak bumi), karena dianggap oleh para hedge
fund (pemilik modal), merupakan instrumen heging (lindung nilai), bagi
investasi mereka.
Namun diantara optimisme ini pemerintah mesti berhati-hati, karena pergerakan
pasar masih didominasi oleh ekspektasi-ekspektasi negatif tentang
ketidakpastian perekonomian dunia.. Berbagai isu hangat perekonomian dunia
melalaui kenaikan harga minyak mentah yang telah menyentuh level 100 US$,
dimana optimalisasi pendapatan dari kenaikan ini justru belum maksimal, karena
hingga saat ini lifting (penjualan minyak mentah ke pasar) mengalami penurunan.
Minyak adalah komoditi (yang menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 1) sangat
berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, sehingga menimbulkan konsekuensi
terhadap subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Rencana pemerintah untuk
memberikan subsisi silang dengan membatasi BBM berjenis premium hanya bagi
kendaraan umum dan kendaraan di luar itu menggunakan bahan bakar berjenis
Pertamax adalah langkah yang patutu di puji, karena sesuai dengan Protocol
Washington.
Semangat dari protokol ini adalah kebijakan anggaran yag
disiplin dengan rekomendasi dari salah satu poinnya adalah mengurangi subsidi
karena dianggap pemborosan. Dengan memberikan subsidi silang pemerintah masih
menjalankan fungsinya sebagai penjaga malam (seperti yang dikatakan oleh J.J.
Roseau). Karena selama ini yang terjadi justru miss allocation terhadap
alokasi subsidi yang diberikan, dimana penikmat subsidi ini justru adalah
orang-orang mampu yang mengkonsumsi hampir 75 persen BBM.
Begitu juga untuk sektor kelistrikan. Dengan memberikan tariff berganda pada
konsusmsi rumah tangga diatas 5.000 watt, para pemilik rumah tangga ini (yang
mayoritas adalah golongan orang kaya) harus rela untuk merogoh kocek mereka
lebih dalam, untuk memberikan kesempatan pada PLN membantu rumah tangga-rumah
tangga kecil (di bawah 1.000 watt) menikmati listrik lebih lama dan stabil.
Penggunaan energi alternatif (seperti batubara dan energi nuklir) untuk
digunakan pada proyek-proyek instalasi pembangkit listrik negara perlu segera
di realisasikan di tahun shio tikus ini. Koordinasi antara
perusahaan-perusahaan penyuplai batubara yang dikelola oleh pemerintah/BUMN
(seperti PT. KALTIM PRIMA COAL), dengan PLN perlu lebih dikoordinasikan dan
diintegrasikan, sehingga pemadaman yang dilakukan oleh PLN. Tanjung Jati yang
terjadi beberapa waktu lalu tidak terjadi lagi, dengan alasan langkanya pasokan
batubara.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong dari sisi konsumsi,
hal ini dipandang kurang menguntungkan dari sisi moneter, karena imbasnya pada
kenaikan laju inflasi. Untuk itu regulasi di sektor perbankan (lewat BI) dengan
memberikan penurunan SBI untuk tenor 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun secara
bertahap perlu dilakukan. Hal ini ditujukan untuk mengurangi alokasi saving
belanja pemerintah pusat dan daerah pada instrumen itu, sehingga berdampak pada
pelemahan sektor riil.
Revisi regulasi mengenai UU Pengadaan Barang dan Jasa harus tetap
didasarkan atas dasar tranparansi dan akuntabilitas, tanpa mengekang kesadaran
akan fleksibilitas didalam pelaksanaannya dan tujuan. Hal ini diperlukan untuk
memberikan paying hukum yang lebih tidak hanya kepada ketua Pengadaan Barang
dan Jasa, tetapi juga kepada para rekanan tender yang diproyeksikan.
Semoga di tahun yang baru ini, negara kita masih selalu dalam
lindungan-Nya diantara problematika-problematika yang menghadang. Selamat tahun
baru 2008.
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
<!--[endif]-->
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]