Sekedar perenungan bagi kita dari milis tetangga
(http://forum.detik.com/showthread.php?t=11210)

Semoga bermanfaat bagi kita semua....

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu

kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini

berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi

keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang

sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik

untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.



Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan

beberapa kawan dekat kami di Jepang.



01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik



Anda pernah m eli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira

situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang

diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor

senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut

malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang

sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-

jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di

kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi

para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk,

berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah

tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf

teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa m

eli hat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan

ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi

dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani

masyarakat.



Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi

pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-

dalam dengan pola serius utuh dis eli ngi dengan senyuman. Saya

hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari

system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut"

tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard

upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki

kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi

penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.



Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan

fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan

tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau

walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas

Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan

saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan

sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal

bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak

hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya

atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW,

Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu

mensyaratkan kejujuran.



Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat,

sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang

asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya

mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus

berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri

saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah

mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka

semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya

membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang

lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-

orang yang kurang beruntung.



Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai

di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya

diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan

bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang

sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah

seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat

tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak

tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut

akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen

pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana .



Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah

yang saya jumpai di Jepang.



Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami

sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak

hingga 10 kali lipat.



Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada

kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan

yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon

perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan

tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf)

keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah

selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak

lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,

istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk

meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam

harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas

petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah

saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi

sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas

tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat

yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam

bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.



Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di

Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul

09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00

(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan

anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya

membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda

melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di

kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.



Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun

kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua

memiliki niat bekerja - versi Jepang.
02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian



Suatu kali pernah kami memb eli sebungkus buah-buahan dengan bandrol

murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya

sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan)

pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang

disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,

penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi

sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali

memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja

kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa),



karena kami sudah m eli hatnya dari awal. Beberapa kawan kami

mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup

mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli

oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah

prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup

untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan

pelanggan.



Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu

menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang

tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen

(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima

permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan

praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem

perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang

dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero



Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian

terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pemb eli

terhadap transaksi jual-b eli .



Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan

karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau

buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur

dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli

batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas

supermarket m eli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut

dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah

untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah

kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah

dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua

ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket

menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).



Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia

untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas

supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan

sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada

anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang

yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah

memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa

jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga

mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat

besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan

kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah

toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi

komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar

serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang

anda b eli .



03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi



Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di

Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih

gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan

metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)

yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit.

Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis

di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di

jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau

bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya

serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau.

Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek

terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang -

mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak

atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya m eli

hat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di

negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda

lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri

anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini

lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision

maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus

berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda

berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya

perlu m eli hat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya,

sistem yang akan bekerja.



04.Lingkungan hidup dan transportasi



Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini

hampir separuh populasi Republik tercinta.



Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang

sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya

menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan

melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar

dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan

berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya

dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan

dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan

menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-

jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda

akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang

meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun

dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang

mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata.

Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk

digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan

karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai

hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang

sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan

anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan

kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan

saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi

pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.



Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,

kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat

terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di

Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki

kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang

tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen

(kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di

Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan

lalu lintas kereta di Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di

Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal

ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik

diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama

energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada

rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.



Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan"

mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang

di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu

lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda

akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan

kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia,

kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir

terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota

ini.
05.Kesehatan dan rumah sakit



Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih

mampu memajukan bangsa dan negaranya.



Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan

pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan

di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai

orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program

asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu

membayar 30% dari biaya berobat.



Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan

mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun

menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan

mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih

kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang

dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa

ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi

yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi

nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi

menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan

membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan

memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu

asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus

keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan

keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama

sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-

benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar

dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri

melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori

formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak

menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan

kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.

Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari

Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit

tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah

dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan

kemudian.



Saling percaya adalah kuncinya.



Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School

Dikutip dari sumber :http://forum.detik.com/showthread.php?t=11210

Salam kasih
muji arie




      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke