Bener mas, saya juga pernah mendapat cerita serupa dari temen2 programmer 
kita. Saya tidak mengingkari dedikasi tim programmer kita (bahkan kadang 
ikut prihatin karena reward nya kurang memadai). Namun mungkin ada baiknya 
bila para pembuat kebijakan itu sama-sama mengendalikan diri. Namanya 
organisasi pasti punya kepentingan, demikian juga dengan anggota organisasi 
pasti juga punya kepentingan sendiri-sendiri. Namun kalo kita sudah "setuju" 
masuk sebagai anggota suatu organisasi, kan mestinya kepentingan individu 
tidak baik untuk lebih ditonjolkan dibanding kepentingan organisasi itu 
sendiri. Walaupun mungkin prakteknya tidak mudah ya. Namun tidak mudah bukan 
berarti tidak bisa kan ya (mudah-mudahan).

Sekedar sharing, saya sendiri mengalami kok bagaimana harus "menundukkan" 
kepentingan pribadi.
Dulu, saya selalu "ngomel dan sakit hati" kalo ada rekan sejawat (di satu 
bidang) yang "gak mau kerja", sehingga semua beban kerja ada di pundak saya 
yang kemudian membuat saya jadi "turun semangat kerja". Namun lantas saya 
berpikir, kalo saya turun semangat, output bidang saya gak akan bagus, 
makanya setelah itu saya bekerja "atas nama" bidang, bukan untuk seksi lagi. 
Bagi saya, mengerjakan sesuatu yang sebetulnya bukan tugas saya, saya anggap 
sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan saya. Lambat laun saya mulai 
tidak peduli apakah rekan sejawat saya kerja apa tidak, yang penting saya 
bisa menggerakkan pegawai yang ada di bidang saya, agar tercapai hasil kerja 
yang lebih baik di bidang saya. Terus terang saya lebih senang membagi ilmu 
dengan pelaksana (vertikal ke bawah)  dibanding horisontal (rekan sejawat), 
karena pertimbangan "tidak mau dianggap menggurui teman sendiri". Namun 
demikian kalo rekan sejawat memerlukan, saya tetap dengan senang hati 
berbagi ilmu. Menurut saya, satu-satunya hal di dunia ini yang tidak akan 
berkurang (justru malah bertambah) walaupun kita bagi kepada banyak orang 
adalah ilmu.
Ternyata hal itu terus berkembang lagi, kali ini lintas bidang. Sebagai 
akibat bidang lain bekerja "tidak dengan optimal", bidang saya "ketiban 
pulung" mengerjakan tupoksi yang seharusnya dikerjakan bidang lain. Awalnya 
juga sama, hal itu membuat saya sering "ngomel dan sakithati". Namun lantas 
saya berpikir, kalo saya pun tidak mau mengerjakan itu, output kanwil saya 
yang jadi taruhan.
Oleh karena itu, selanjutnya saya bekerja "atas nama" kantor wilayah, bukan 
atas nama bidang apalagi seksi. Lagi-lagi, saya merasa ini justru menjadi 
sarana pembelajaran saya untuk menguasai bidang ilmu lain diluar "basic" 
saya yang akuntansi.

Mungkin inilah usaha saya mengesampingkan kepentingan individu, namun saya 
justru mendapatkan buanyak tambahan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan. 
Dan hal itu sangat-sangat membantu saya terutama dalam menjalankan fungsi 
saya sebagai Kasi Bimbingan Teknis dan PSAP.

Begitu mas, sekedar sharing aja. mohon maaf bila kurang berkenan.

Intinya, ayo kita tingkatkan koordinasi dengan "menjunjung tinggi" tujuan 
organisasi dan "menekan" kepentingan individu demi Ditjen PBN yang lebih 
MANTAP.

Salam,


>From: Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [email protected]
>To: [email protected]
>Subject: Kisah Mantan Programmer DJPB buat Mbak Endah Bls: [Forum Prima] 
>Programmer DSP: punya lab aplikasi ga?
>Date: Tue, 8 Jan 2008 17:32:45 -0800 (PST)
>
>Kebetulan Temen saya dulu pernah jadi Programmernya DJPB (sekarang sudah 
>pindah eselon I lain). Banyak cerita suka dukanya dia selama bekerja di DSP 
>(dulu PPDIA lalu DIEA). Salah satu penyebab kenapa Aplikasi DJPB itu sering 
>berubah-ubah dan troble adalah banyaknya kepentingan di Pusat yang saling 
>gontok-gontokan. Seperti diketahui setiap Aplikasi itu punya Tim Programer 
>sendiri-sendiri dan masing-masing dari tim itu kadang-kadang tidak bisa 
>singkron. ya...karena adanya berbagai kepentingan yang ingin saling 
>menonjolkan diri, bukan kepentingannya si Programmer, tapi kepentingan si 
>Pembuat Kebijakan yang tidak bisa Singkron...
>
>Akhirnya efeknya Daerah yang merasakan....si Programmer  selalu 
>dikejar-kejar DateLine karena si Pembuat Kebijakan ingin segera teralisir 
>"ide"nya. Ujicoba Aplikasi pasti ada, tapi karena terkendala waktu si 
>Programmer kesulitan menelaah setiap permasalahan dengan detail. Jadi 
>kesannya seakan-akan diluncurkan dulu...masalah dipikir belakangan.
>
>Programer kita itu betul-betul "Prima", kadang-kadang kerja tak kenal 
>waktu. Tapi pengharagaan DJPB yang kurang sekali terhadap mereka, maka 
>wajar saja banyak diantara mereka yang 'nyambi'. di Perusahaan Swasta.. 
>Bahkan temen saya itu  menjadi konsultan di salah satu Perusahaan Swasta.
>
>Karena  alasan diatas itu juga yang menjadi penyebab kenapa dia memutuskan 
>untuk mangkir dari DJPB, selain alasan klasik "takut mutasi". Mbak Endah 
>bisa lihat sendiri siapa2 Tim Programmer kita sekarang...jelas sudah beda 
>sekali dengan yang dulu, karena Tim yang dulu sudah pada bubar cari 
>'selamat' sendiri-sendiri. Kalau ada orang lama-pun bisa dihitung dengan 
>jari.
>
>Demikian Kisah nyata temen saya, semoga bisa menjelaskan duduk permasalahan 
>yang sebenarnya tentang apa yang terjadi pada Programer kita. Saya berharap 
>di masa yang akan datang ada perubahan yang lebih baik.

_________________________________________________________________
Try it now! Live Search: Better results, fast. 
http://get.live.com/search/overview

Kirim email ke