Naiknya tunjangan untuk pejabat eselon IV ke atas yang sangat 
significant dan maknyussh kiranya adalah kabar gembira bagi kita 
semua yang patut disyukuri.

Namun dibalik itu, ada dampak negatif yang bisa saja terjadi dalam 
penunjukan seorang pejabat untuk suatu jabatan tertentu. 

Kalo pejabat eselon I dan mungkin juga eselon II mudah dipantau oleh 
publik dan tentu saja oleh atasan yaitu Menteri Keuangan, sehingga 
mereka yang terpilih adalah orang2 yang mumpuni baik dalam keahlian 
teknis maupun manajerial.

Yang mengkhawatirkan adalah pejabat eselon III dan IV, di daerah2 
tertentu, khususnya non prima, mereka bisa saja tidak dipilih atau 
dipromosikan berdasarkan kompetensi dan keahlian baik teknis maupun 
manajerial. Tetapi berdasarkan kedekatan2 dan kriteria2 yang tidak 
bisa dipertanggungjawabkan. 

Hal ini akan membuat persaingan yang makin tidak sehat dalam meraih 
suatu jabatan. Siapa yang kenal dekat, "baik" dengan orang tertentu 
maka kansnya untuk mendapatkan jabatan akan semakin besar. Sebaliknya 
mereka yang berprestasi dan memiliki keahlian teknis maupun 
manajerial tdk akan terpilih/terlihat karena tidak pandai "mengambil 
hati" orang2 tertentu.

Memang paradigma yang digembor2kan adalah kompetensi dan integritas, 
tapi jangan sampai hal ini hanya sampai pada tatanan teori. Apalagi 
sudah banyak kejadian yang kita ketahui bersama, ada oknum2 tertentu 
yang tidak lulus dalam kompetensinya (misalnya tidak lulus seleksi 
untuk Diklatpim), bisa melenggang menjadi pejabat dalam waktu yang 
cepat sementara mereka yang berprestasi masih menunggu waktu yang 
cukup lama untuk mendapatkan posisi yang sama. 

Selama transparansi, standardisasi kriteria dan persaingan sehat 
tidak kita tumbuhkan dalam tataran realita, maka DJPBN tidak akan 
memberikan kontribusi yang membanggakan bagi Depkeu karena manager 
ujung tombak yang terpilih bukanlah mereka yang ahli.

"Bila suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah 
saat kehancurannya"

Semoga:)

Kirim email ke