Berikut adalah artikel dari harian Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 
2008. Artikel ini saya copy dari milis [EMAIL PROTECTED]

Suatu langkah yang sangat berani, menggetarkan hati, dan dinanti. 
Saya kira langit dan bumi pun akan bergetar mendengar para pimpinan 
dan pejabat yang berintegritas seperti ini.

Saya memimpikan hal yang sama terjadi di Departemen Keuangan 
khusunya Ditjen Perbendaharaan. Hal ini seperti ini menunjukkan 
komitmen yang kuat dan akan mudah dikontrol bila terjadi 
inkonsistensi.

Saya membayangkan peristiwa2 sejenis terjadi di semua instansi 
pemerintah, mungkin malapetaka akan menjauh dari negeri tercinta 
ini. 
Di DJPBN mungkin seperti ini:
- Dirjen Mengumpulkan para eselon II s.d IV
- Eselon II (Kanwil setingkat Kapolda) mengumpulkan eselon III dan IV
- Eselon III mengumpulkan semua bawahannya dari level pejabat s.d. 
pelaksana

Semuanya menegaskan dan berkomintmen yang sama. Hmmm... indahnya,  
kesejahteraan dan kemajuan negara mungkin sudah mulai dekat. Semoga!


Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji:"Jangan Pernah setori Saya!!"

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., 
M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai 
tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke 
Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan 
itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. 
Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" 
dan "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya 
dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di 
lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan 
lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin 
kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, 
tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan 
sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, 
Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari 
pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta 
kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah 
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat 
mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, 
menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan 
masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata 
suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di 
lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir 
ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh 
Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga 
menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi 
Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK 
(Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji 
besi.

Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy 
Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk 
belajar menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau 
korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja 
sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. 
Terbayangkan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan 
yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke 
Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa 
di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. 
Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang 
rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar 
di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. 
Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat 
mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini 
karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, 
yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang 
perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau 
pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar 
adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya 
usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. 
Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai 
aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, 
baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, 
direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. 
Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan 
tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu 
pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan 
seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di 
Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari 
polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari 
tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte 
kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor 
itu.

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-
macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-
pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran 
anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari 
dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran 
mereka, atau uang bensin mereka.

Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan 
karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah 
saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target 
sampai kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita 
menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut 
nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita 
tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau 
polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di 
koran. Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. 
Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena 
semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus 
ditakutkan.

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. 
Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa 
lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak 
korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus 
korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik 
tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi 
dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga 
memakan waktu lama?

Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh 
lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap 
kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak 
kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, 
dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. 
Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal 
dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah 
ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, 
kepala projek, dan rekanan. Itu saja. 

Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit 
dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. 
Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi 
itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi 
kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung 
datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya 
(korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi 
sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis 
tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. 
Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. 
Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar 
dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat 
mengungkap kasus korupsi?

Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah 
bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan 
menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus 
korupsi biar Jabar bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-
kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti 
mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita 
juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" 
bagaimana bias dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka 
banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi 
digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib 
administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara 
berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk 
apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.

Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah 
perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana 
tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, 
nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, 
polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan 
korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan 
mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik 
ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan 
menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui 
semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling 
tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, 
pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu 
paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar 
kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan 
anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau 
anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk 
menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di 
tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran 
kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak 
perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu 
kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk 
melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu 
saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga 
karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya 
kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti 
pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong 
gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin 
kaya.Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.

Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di 
lingkungan kepolisian?

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana 
yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas 
dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu 
diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan 
kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan 
sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua 
jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya 
korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu 
juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , 
sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.

Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya 
korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya 
dengan pelacur.

Kirim email ke