On Wed, 05 Mar 2008 07:22:16 -0000 Ass.Wr.Wb. Senin, 3 Maret 2008, Kakanwil XXV DJPBN Kendari pagi-pagi sudah mengumpulkan seluruh staf di aula. Rupanya beliau ingin membagi oleh2 sepulangnya dari Rapim. Dari cerita beliau ada yang menarik perhatian saya, yaitu hasil assesment center yang kurang memuaskan, baik yang diikuti para pejabat eselon-2 maupun eselon-3. Saya kaitkan hal ini dengan pendapat Agung Sayuta tentang test rekrutmen KPPN-P yang ditanggapi oleh Sandall Jepit. Jadi, topik kita adalah test kepribadian yang dilaksanakan oleh pihak-3. Demi alasan obyektifitas, data awal yang disampaikan kepada penguji hanyalah data baku masing-masing pegawai yang mengikuti test. "Tinta hitam" (istilah Pak Abduh ketika masih menjadi Sekretaris DJA) yang pernah ditumpahkan seorang peserta test, sama sekali tidak diketahui penguji. Sisi plusnya, pegawai yang track-record-nya buruk tetapi ingin berubah, punya peluang. Seandainya lolos test, yang bersangkutan dapat mulai memperbaharui diri tanpa beban. Sedangkan pegawai yang track-record-nya memang baik tetapi gagal dalam test, semestinya juga tidak menjadi masalah. Toh, dia memang sudah baik sehingga ditempatkan di mana saja akan tetap baik. Kalau kemudian dia berubah menjadi tidak baik berarti catatan mengenai track-record-nya yang tidak benar. Persoalan baru timbul jika pegawai yang track-record-nya buruk, tidak berniat mengubah diri dan lolos test. Apalagi dia biasa bermain cantik dan menganut prinsip, tidak apa-apa pakai baju domba asal tetap dapat menerkam. Nah, yang seperti ini baru menyerah jika mendapat perlakuan istimewa, misalnya Bu Ani atau Pak Herry, menyempatkan waktu, sebagai Bendahara sebuah satker menyampaikan SPM ke KPPN dan tentu saja yang agak sedikit bermasalah tetapi membawa amplop dengan isi tebal sekali. Untuk menentukan sasaran tembak, saya yakin bukan hal yang sulit bagi Pak Herry. Catatan mengenai "tinta hitam" yang pernah ditumpahkan pegawai pasti ada di tangan beliau atau di tangan Pak Sis. Kembali ke soal assesment test yang sifatnya empiris, bukan eksak. Tidak ada ukuran yang pasti bahwa seseorang yang pinternya nyundul langit pasti lulus. Ada faktor lucky tetapi juga dapat dipengaruhi oleh suasana hati. Menurut seorang rekan yang psikoloog, untuk test-test sejenis ini, mereka yang track-record-nya tidak baik memang lebih punya peluang karena cenderung tanpa beban. Sedangkan yang track-recordnya baik, beban takut gagal justru menghantui. Jadi, jika hasil test assesment center para pejabat eselon-2 dan eselon-3 kurang memuaskan, menurut saya juga karena dipengaruhi beban mental beliau-beliau takut gagal. Dalam menyeleksi satf-nya KPK juga menempuh cara ini. Mereka juga tahu yang lolos test belum tentu riwayatnya putih bersih. Tetapi, iklim yang diciptakan di lingkungan KPK-lah yang berperan. Pimpinan Dep. Keuangan mencoba mengikutinya. Itu sekedar sharing dari saya. Semoga ke depan DJPBN makin baik dan solid. Wassalam, Yangkung.
"Agung_Sayuta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Assalam'mualaikum Wr.Wb. >> >> Yth. Redaktur Forum Prima dan Para Milisers >> >> Hari ini tgl.5 dan/atau 6 diadakan lagi test assesment >>untuk KPPN >>
