--- In [email protected], "masbar_jkt" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> bagi kawan-kawan yang punya SE-213/SJ/2008 tentang pengangkatan 
tenaga 
> honorer mohon diupload.
> Katanya di SE tersebut menyatakan kalau Setjen Depkeu tidak akan 
> mengangkat tenaga honorer jadi PNS di lingkungan Depkeu??Kalau itu 
> benar adanya adakah solusi yang lebih baek untuk temen-temen honorer?


Yth. Miliser,
Pahit memang kedengarannya. Setelah mengabdi bertahun tahun ternyata 
harapan itu musnah. Sayang tidak ada bukti tertulis dalam kontrak 
kerja para honorer tentang kepastian pengangkatan mereka sebagai PNS. 
Sehingga suka tidak suka, mau tidak mau temen temen honorer tidak 
mempunyai hak untuk menuntut DJPB meskipun.... katakanlah mereka 
telah 'mengabdi' 20 tahun.

Apa boleh buat. Mungkin itu memang yang terbaik bagi direktorat kita. 
Disini saya mungkin tidak bisa memberikan solusi. Saya hanya ingin 
mengingatkan, bahwa simpati dan empati ada waktu dan ada tempatnya. 
Disaat keadaan over employee seperti sekarang ini. Saya hanya bisa 
diam tanpa komentar apa apa terhadap nasib rekan honorer. Karena akal 
sehat saya berbicara justru kita mesti mengadakan rasionalisasi besar 
besaran. Jumlah pegawai kita sudah terlalu banyak. Dan kita juga 
dihadapkan pada masalah penumpukan pegawai dimana banyak kantor kantor 
daerah kekurangan pegawai, namun disatu sisi terjadi penumpukan 
pegawai di kantor pusat dan di kantor kantor wilayah. 

Wacana rasionalisasi sudah saya dengar menjelang tutup tahun 2007, 
namun pelaksanaannya hingga saat ini kok masih adem adem saja. 

Agak menyimpang dari konteks judul, saya miris melihat keadaan kantor 
wilayah di seluruh Indonesia. Saya bertanya tanya dalam hati kok bisa 
Kantor wilayah yang notabene adalah eselon II, tapi dalam hal 
fasilitas dan fisik bangunan kalah megah dengan maaf, KPP/kppbb yang 
notabene adalah eselon III. tanya kenapa.... sama tidak mengertinya 
kenapa banyak daerah dibiarkan memekarkan diri padahal mereka tidak 
mempunyai cukup PAD untuk menghidupi kebutuhan (rutin) yang akhirnya 
hanya akan membebani keuangan pemerintah pusat saja. Memang maksud 
pemerintah pusat bermaksud baik, yaitu agar mereka membangun sesuai 
dengan arah pembangunan masing masing daerah sesuai dengan potensi 
yang dimiliki. Tapi apa yang terjadi, ternyata dana (pemerintah pusat) 
itu tidak dibelanjakan secara maksimal bahkan yang saya dengar banyak 
yang nongkrong disana sini. sehingga untuk daerah daerah seperti itu 
saya berpendapat belum saatnya mekar.

Eh...kok melenceng jauh sekali yah...
Maaf jika kurang berkenan.
Dari Kendari

HaBeWe
 

 



 

Kirim email ke