Yth. Mas Tio6797 dipedalaman kalimantan,

Milis yang saya waktu itu, membahas milis pa Wahyuhar970 mengenai
persiapan menyongsong pensiun secara umum, bukan suatu kasus-kasus
seperti topik ini. Namun demikian, dengan topik yang diangkat Mas
Tio6797 ini, saya jadi teringat materi khotbah Jum'at di masjid kota kami.

Saat ini banyak manusia, bukan hanya yang ekonomi kuat juga yang
ekonomi lemah, sepanjang dia hidup (maksudnya tidak tidur) yang
dipikir hanya masalah makan/perut. Manusia terbangun dari tidur, yang
diingat urusan makan/perut, apa makan hari ini?? atau makan apa hari
ini???. Mari saksikan di TV-TV, ada manusia antri, berdesak-desakan,
sikut-sikutan, injak-injakan, dsb-nya memperebutkan BLT, BBM, sampai
pembagian Zakat/Infaq/Sodakoh (ZIS), malah ada yang mati... mati...
semua urusan makan/perut. Massa demo... juga urusan makan/perut.
Pegawai DJPB (maaf) mempertanyakan (=menuntut) grade remunerasi...
ujung-ujungnya urusan makan/perut. Kalau hanya sampai urusan
makan/perut semata, tidaklah menimbulkan masalah, karena
sebesar-besarnya perut manusia pasti tidak lebih besar dari perut
binatang, sapi, kebo, atau gajah misalnya. Tapi kalaulah begitu,
apatah bedanya manusia dengan binatang??? 

Manusia dan binatang seharusnya... dan mestinya harus beda,
pembedanya... manusia punya apa yang disebut "Hati Nurani" bukan
akal/otak, karena binatangpun punya akal/otak tapi tidak punya hati
nurani. Bagaimana kalau manusia itu sudah tidak punya hati nurani???
Wah... wah... wah... kelakuannya pasti sama atau bahkan lebih buas
dari binatang buas, lebih jijik dari binatang menjijikkan, lebih
akal-akalan dari binatang berakal. Oleh karena itu, untuk urusan
makan/perut yang menjadi standar hidup dan kehidupan adalah hati
nurani manusia itu sendiri. Begitu juga, masalah rumah dinas menjadi
rumah pensiun (topik Mas Tio6797), atau masalah lainnya, yang dapat
menjawab benar atau tidak benar adalah hati nurani itu sendiri. 

Kalaulah manusia dan khususnya bangsa Indonesia, baik rakyat jelata,
pengusaha, penguasa, alim ulama, pendeta, pastur, dan seluruh lapisan
masyarakat, sudah secara berjamaah tidak lagi peka dengan hati
nuraninya dan hanya memperturutkan hawa nafsu memperebutkan urusan
makan/perut, wajar... amat teramat wajar, Yang Maha Hidup menurunkan
azab di mana-mana, tsunami... gempa... gunung meletus... pesawat
jatuh... atau remunerasi dibatalkan (=menurut saya termasuk azab).

Marilah... kalaulah kita mau menjadi manusia menurut Yang Maha
Berkehendak, peliharalah hati nurani, sehingga masih punya timbangan 
benar dan salah.

Mohon maaf kalau tidak tepat, semoga bermanfaat.

Agung Sayuta.


--- In [email protected], "tio6797" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yth. Bapak Agung Sayuta
> 
> Saya jadi tergelitik waktu baca tulisan Bapak khususnya pada kalimat "
> . . .Kalaulah pada saat masih aktif tidak dapat mengendalikan diri
> atau ambisius mengejar tahta (jabatan) dan harta (uang), biasanya
> begitu pensiun kena sakit "powersindrome"". 
> Apakah perubahan status "Rumah Dinas/Rumah Jabatan" menjadi "Rumah
> Pensiun" diakibatkan powersindrome? Atokah salah satu ciri
> powersindrome adalah adanya perubahan status rumah?

Kirim email ke