Dalam reformasi birokrasi seluruh pegawai DJPb dituntut untuk berubah pola 
pikir. Dari pola pikir jahiliyah menuju pola pikir yang mengarah pada 
perubahan. Namun menurut saya pemberian grade terendah bagi pelaksana dan gap 
yang sedemikian jauh antara pelaksana dan pejabat menurut saya belum 
mencerminkan perubahan yang dikehendaki bersama. 
  pelaksana dituntut bekerja ekstra dan berprestasi, namun ternyata kontra 
prestasi yang diberikan belum maksimal.
  Saya mendengar langsung dari seorang pejabat eselon II di DJPb bahwa menurut 
Survey yang dilakukan oleh sekjen depkeu dan Lembaga survey independen 
"ditingkat Eselon I Depkeu ternyata DJPb memiliki poin tertinggi dalam hal 
pelayanan kepada masyarakat (jauh diatas DJP dan DJBC). Yang menjadi ganjalan 
dibenak saya adalah "kenapa prestasi yang sedemikian 
bagus baru dihargai dengan pemberian grade terendah. Padahal kalau kita mengacu 
pada teori motivasi yang banyak diungkapkan para pakar bahwa untuk meningkatkan 
kinerja pegawai agar lebih efektif adalah dengan diberikannya reward jika 
pegawai tersebut mampu menunjukkan prestasi dalam bekerja.
  Pemberian grade pun seharusnya dilakukan dengan sudut pandang obyektif, bukan 
subyektif. walaupun kita juga tidak boleh menutup mata bahwa nilai 
subyektifitas dalam pemberian grade pastilah ada. Karena pimpinan pasti lebih 
menyukai pegawai yang bisa dipercaya walaupun kurang begitu pinter dari pada 
pegawai yang pinter tp atasan tidak terlalu mempercayainya. 
  Jujur saja bahwa kita sebagai bawahan bekerja bukan atas dasar kemampuan dan 
kemauan tetapi berdasarkan Nota dinas atasan. Jadi kalaupun dinilai volume 
pekerjaan seharusnya kita juga melihat kembali ke nota dinas bukan hanya volume 
pekerjaan.
  Mohon maaf kalau kurang berkenan
jonny wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Rasanya kebanyakan semua setuju (apalagi kwn2 pelaksana umumnya), 
bahwa
penentuan grade (yg ujung2nya berimbas ke pengahsilan/TC/TKPKN) ini
sebaiknya+seharusnya dilakukan dg cermat,hati2 , transparan dan yg paling
penting objektif berdasarkan dasar/kriteria yg jelas betul, jangan sampai
merugikan pegawai tdk mengandalkan subyektifitas atasan langsung/pimpinan/KK
(karena tdk mesti bawahan selalu pihak yg disalahkan) apalagi disertai
emosi/like+dislike....,ini perlu mendapat perhatian khusus para pimpinan di
pusat agr segera membuat juknis ttg grade ini.

mohon maaf ....

Pada tanggal 10/04/08, tio6797 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> Saya setuju dengan Bu Endah, kok kayanya yang bobrok, ga becus kerja,
> suka tidur, hanya bisa baca koran dan main game, ngomongin orang lain
> sambil nunggu jam pulang, suka datang terlambat, pulang sebelum
> waktunya, dan produk sehari-hari adalah absensi itu adalah para
> pelaksana. Sedangkan para pejabat, Es. IV ke atas, tidak ada yang
> berkarakter semacam itu. Sehingga tidak perlu diawasi dan tidak perlu
> ada penilaian khusus. Oleh sebab itu grade-nya h


                           

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke