Ketika saya berangkat ke kantor tadi pagi, Saya amat tergelitik dengan
sebuah papan iklan di depan sebuah gereja di kota saya ditempatkan.
Wah sungguh menggiurkan produk kartu selular yang ditawarkan. Cukup
dengan 600 rupiah anda bisa menelepon sepuasnya. Tapi nanti dulu. Anda
jangan terburu-buru mempercayainya. Tentu jika anda tak teliti
membacanya, anda akan memakan mentah-mentah iklan tersebut. Dipojok
bawah papan iklan tersebut ada tulisannnya "TAPI" yang ditulis kecil
sehingga hampir tak bisa terbaca. Justru sebenarnya "TAPI" ini yang
harus anda perhatikan dengan cermat. Dan dengan TAPI ini saya bisa
membuktikan kegamangannya. Kebetulan saya adalah pengguna produk kartu
seluler tersebut. Okelah memang 600 rupiah per telpon. Tapi perlu
dicatat bahwa itu hanya ke-sesama operator dan tentunya dari jam 11
malem sampai jam 11 siang. Akan berlaku ketentuan lainnya untuk telpon
dalam kondisi yang tidak disebutkan. Hal lain yang terkadang
menyesakkan dada saya adalah janji tentang telpon sepuasnya itu. Kalau
sedang tidak beruntung maka tujuh menit sekali telpon saya pasti akan
terputus. Jadi saya menjadi tidak puas dengan janji sepuasnya
tersebut. Kepuasan saya hanya dihargai 7 menit. Ironi memang.

Begitu juga dengan apa yang bisa saya tangkap dari keadaan DEPKEU saat
ini. Orang di kampung saya yang tau apa itu depkeu pasti akan
mengatakan bahwa DEPKEU adalah institusi boros. Pegawainya dibayar
dengan ugal-ugalan. Dan tambah lagi janji manis tentang perubahan
belum tentu diwujudkan dengan sepenuhnya. Yang juga membuat saya miris
adalah ketika sebuah televisi swasta merilis berita tentang kenaikan
anggaran masing-masing departemen dinegeri ini dengan menempatkan
DEPKEU diurutan kedua instansi yang menaikkan anggarannya dengan
prosentase sekitar 263%. Itu disaat harga BBM akan naik. 

Yang bisa saya lihat dari dua kondisi diatas adalah hasil dari dampak
kebohongan masa lalu. Selama ini kita telah terbuai dan termakan oleh
kebohongan itu. Dulu ketika anggaran kita begitu kecil dan gaji PNS
kecil pula (baca :hemat), sebagian dari pegawai kita bisa membuat
rumah, membeli mobil dan kemewahan-kemewahan lainnya. Semua dengan
uang dari korupsi. Sekarang ketika kita mencoba melangkah dengan jujur
terasa biaya yang dibebankan begitu besar. Dan kita yang memikulnya
saat ini harus benar-benar sabar. Sabar dari tekanan internal maupun
eksternal. Dan memang jujur harus diakui bahwa biaya untuk
memeperbaiki kebobrokan negara ini memang tidak kecil. 

Dan pada kesimpulannya ada satu hal yang begitu saya harapkan. Jangan
sampai kebohongan ini berulang pada nasib prodip-prodip kita. Keadaan
prodip yang melakukan tour of duty ke kantong-kantong kemiskinan
adalah berbeda dengan keadaan seperti pada lingkaran kekuasaan. Mereka
patut untuk diperlakukan berbeda. Mereka tak pantas dicap mewah
walaupun dengan Take Home Pay 3.5 juta ketika mereka harus tinggal di
Serui dimana harga aqua galon 4x lipat dari harga galon di Jogja.
Dimana harga beras 10 ribu rupiah per kilogram. Dimana ketika mereka
pulang kampung setidaknya harus menyisihkan Take Home Pay selama 2 Bulan. 

Marilah dari saat ini kita jujur dengan keadaan kita masing-masing.
Prodip tentu lebih membutuhkan materi yang lebih besar dari pribumi
atas pengorbanan mereka dan integritas mereka. Dan pembedaan ini
adalah bukannya diskriminasi. Pembedaan ini adalah melatih sikap jujur
kita agar kita bisa berlaku "ADIL". Saya kira kita telah memulainya
dan jangan berhenti sampai di sini saja.



Kirim email ke