Jumlah pegawai Perbendahaaraan yang kabarnya sudah kelebihan 4000 pegawai telah memunculkan kekhawatiran akan kelanjutan masa depan pegawai, sementara komposisi pegawai yang menempatkan Gol III pada kelompok terbesar sedikit banyak telah memunculkan ketidakpastian dan ketidakjelasan karir pegawai. Komposisi pegawai seperti saat ini kelihatannya telah memunculkan dilema tersendiri bagi kantor pusat selaku pemegang kebijakan dalam merencanakan kelanjutan karir pegawai. Kantor pusat dihadapkan pada pilihan sulit dalam menentukan siapa yang pantas diberi tanggung jawab sekaligus penghargaan untuk menduduki jabatan eselon. Sebagai contoh kita dapat melihat pada pengangkatan eselon IV yang terakhir. Saya sempat bertanya-tanya atas dasar/kriteria apa kantor pusat akhirnya menjatuhkan pilihan kepada pegawai tersebut? Karena yang diketahui secara umum pengangkatan pegawai pada jabatan eselon biasanya paling tidak didasarkan pada beberapa kriteria antara lain: 1. Diusulkan oleh Kanwil masing-masing. 2. Senior dalam pangkat (masa kerja golongan). 3. Kinerja baik. 4. Pendidikan. 5. "Kedekatan" dengan orang pusat.
Pada SK eselon IV terakhir saya sedikit bingung karena teman-teman yang menurut hemat saya sudah memenuhi kriteria di atas justru tidak terbawa. Padahal bila patokannya pangkat mereka ada yang sudah menduduki Gol. III/d, sebagian lagi III/c senior dengan pendidikan S1, S2 dan bahkan master dari salah satu universitas terkemuka di tanah air (bea siswa). Kalau ukurannya kinerja, mereka juga adalah andalan di unit kerjanya masing-masing. Kalau ada ada tudingan kurang "dekat" dengan orang pusat, toh mereka2 yang diangkat juga beberapa diantaranya bukan tipe2 orang yang suka kasak-kusuk dan ada yang "tidak kenal" orang pusat. Dan kalau ditanya apakah mereka di usulkan oleh Kanwil? Ternyata, sebagian yang diangkat juga tidak diusulkan oleh Kanwil. Lalu ...? Nasib Berkenaan dengan masalah karir pegawai untuk menduduki jabatan eselon, ternyata tidak semua pegawai mengharapkan promosi, dapat jabatan eselon, banyak diantaranya justru takut. Menduduki jabatan eselon justru menakutkan, takut akan konsekuensinya yang mesti berpindah-pindah dan pisah dengan keluarga. Walaupun kebanyakan diantaranya kaum ibu tapi tidak sedikit para bapak juga yang merasa takut untuk dipromosikan. Mereka lebih memilih jadi pelaksana agar tetap kumpul dengan keluarga dari pada mendudukin jabatan eselon tetapi berpindah-pindah jauh dari keluarga. Suatu kali kawan saya terlihat stres ketika disinggung bahwa secara kepangkatan dia sudah pantas dipromosikan menjadi eselon IV. Ada juga pegawai yang tidak mau melaporkan hasil studinya karena takut dipromosikan menjadi eselon IV. Itulah sekelumit gambaran pegawai kita, sebagian berharap mendapatkan promosi apapun motivasinya, namun sebagian justru takut promosi. Mereka sama-sama sekolah tetapi dengan motivasi yang berbeda. Melihat komposisi pegawai yang ada dibanding dengan kesempatan/tempat yang tersedia menurut hemat saya sudah saatnya apabila pimpinan DJPB hanya memberikan kesempatan kepada mereka yang mampu dan mau saja. Untuk urusan mampu saya yakin semuanya mampu, tetapi tidak semua yang mampu itu mau, mau dipindah2 mau ditempatkan di remote area mau berpisah dengan keluarga dll. Mungkin sekarang saatnya untuk menyeleksi, memilah & memilih siapa2 saja mereka yang mampu & mau, dan siapa yang mampu tetapi tidak mau. Ada beberapa pegawai yang mampu tetapi sebenarnya dia tidak mau akhirnya memilih non job. Oleh karena itu apabila untuk menjadi eselon IV harus melalui test assesment, nampaknya harus ada opsi pernyataan yang wajib diisi : "Siap ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah Indonesia". Apabila tidak bersedia .jelas tidak usah dipertimbangkan !!!!.Wallahu `alam. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
