Boleh ikutan nimbrung beberapa sub topiknya ya... Bu:)
- Cara-cara lain / alternatif lain yang diusulkan oleh para ahli yang kurang
setuju dengan kenaikan harga BBM, seharusnya bisa menjadi prioritas utama dalam
masa2 awal pemerintahan, misalnya pas baru terpilih, karena momentumnya sangat
pas dan mendapat mandat dari rakyat. Jadi diharapkan dalam masa pemerintahannya
ke depan rakyat sudah bisa langsung merasakan kebijakan2 mendasar sang pemimpin.
Berkaitan dengan hal ini, saya jadi teringat dengan kisah walikota newyork
Mr. Blomsberg?? (kalo gak salah). Saat beliau baru terpilih jadi walikota
newyork, menerapkan kebijakan pajak kendaraan pribadi yang tinggi dan memungut
iuran yang tinggi bagi mobil2 pribadi yang melewati jalan2 utama kota. Hal ini
untuk mengatasi kemacetan parah dan polusi udara yang telah mencapai tingkat
yang parah. Hasil dari pajak dan iuran jalan ini kemudian digunakan untuk
penyediaan angkutan kota massal yang nyaman dan sebagiannya dialokasikan untuk
anggaran pendidikan.
Pada awal penerapan ini sang walikota mendapat tantangan dari warga new york.
Bahkan berdasarkan hasil poling, masyarakat sangat tidak menyukai walikota
karena kebijakannya tersebut. Popularitasnya sangat turun drastis. Tetapi dalam
setiap kesempatan walikota menjelaskan bahwa ia menjadi walikota adalah untuk
menyelesaikan permasalah kota, bukannya untuk menjadi walikota lagi dalam
pemilu berikutnya. Jadi dia tidak perduli dengan popularitas.
Seiring dengan waktu, kebijakan walikota ini mulai mendapatkan hasilnya.
Transportasi massal yang nyaman tersedia, polusi udara berkurang drastis dan
mutu pendidikan meningkat. Diakhir masa jabatannya hasil polling menunjukkan
bahwa mayoritas warga newyork mendukung dirinya untuk menjadi walikota untuk
periode berikutnya. Akhirnya sang walikota menang telak di pemilihan walikota
newyork untuk periode yang ke dua.
Hal ini sangat kontras, misalnya dengan program pemerintah membuat bbm
biofiel dari buah jarak pagar dari tahun 2006. Ribuan hektar tanah telah
ditanami petani dengan jarak karena dijanjikan akan dibeli dengan harga tinggi.
Mesin2 pengolahannya pun telah dikirimkan ke daerah yang mengeluarkan dana
milyaran rupiah. Tapi hasilnya, jarak petani tidak ada yang beli, harganyapun
sangat murah (500/kg), mesin2 yang dikirimkan pun ternyata rusak tidak bisa
digunakan. Ada yang bisa digunakan, namun tidak efektif dan efisien untuk
mendukung kesejahteraan petani. Akhirnya uang rakyat milyaran rupiah hanya
terbuang percuma. Ini belum termasuk "hal2 yang buruk" berkaitan dengan
pengeluran uang rakyat tersebut. (Lihat metro realitas semalam)
- Kita sebenarnya tidak mendewa2kan investor, tetapi kita dengan sukarela
menyilahkan mereka untuk mengeruk semua sumber daya negeri kita, sedangkan kita
hanya diberikan recehan saja sudah senang karena sudah lebih dari cukup untuk
membiayai kebutuhan oknum2 tertentu (oknumnya banyak banget) untuk tujuh
turunan dan bahkan untuk seribu turunan. Kita tidak senang bekerja keras, susah
dulu baru untung kemudian. Kita lebih senang menjadi makelar dari pada
produsen. Lihat saja misalnya freeport: bagi hasil untuk RI hanya 1% untuk emas
dan 1.5% untuk non emas (feature 100 tahun kebangkitan nasional republik
mimpi). Ataupun pertamina yang hanya bisa mengolah 60 atau 80 ribu barel (10%)
minyak yang diambil di perut ibu pertiwi dari total hampir 1 juta barel. Ini
dijaman sekarang. Bagaimana di jaman dahulu yang minyak kita dikuras mencapai
16 juta barel perhari??? Pertamina sampai sekarang tidak pernah mengeluarkan
laporan keuangan secara transparan. Bahkan di saat gencar2nya
konversi minyak ke gas, pertamina tidak siap dengan berbagai alasan: tabung
kurang, kilang dalam proses pemeliharaan, ombak besar, pipa bocor, dsb. Padahal
hal2 semacam ini bisa dihindari dengan manajemen yang efektif dan efisien.
Banyak ahli2 kita dari perminyakan dan pertambangan, manajemen hingga
akuntansi, tetapi tidak berdaya dalam kuatnya cengkeraman KKN. Bandingkan
dengan Petronas yang dulu belajar dari pertamina, sekarang mereka telah menjadi
salah satu yang diperhitungkan di dunia. Bahkan malaysia bisa membuat SPBU di
Indonesia:)
- Kita sangat kaya dengan sumber daya energi alternatif baik mata hari, air,
angin, ombak, panas bumi dan biofuel yang bisa diolah dari tanaman jangka
pendek yang mudah ditanam seperti jarak, singkong atau jagung. Juga dengan
pemanfaatan minyak jelantah. Tetapi pemerintah tidak serius untuk
mengembangkannya. Kata dosen saya yang mengajarkan sedikit mengenai "game
theory" hal ini sengaja tidak dilakukan oleh oknum2 tertentu karena bila
berhasil dilakukan, maka mereka yang sudah mapan akan terganggun kenikmatannya
karena banyak pihak yang mendapatkan keuntungan dari menderitanya rakyat
Indonesia. Bahkan Ibu Tri Mumpuni (pelopor listrik mikro hidro) bisa
melaksanakan proyeknya berkat bantuan dari hibah LSM internasional dan prakarsa
sedikit pemda yang perduli dengan rakyatnya. Seharusnya proyek ini mendapat
dukungan penuh dari pemerintah pusat.
- Apakah harga BBM dibiarkan dengan harga pasar atau terus di Subsidi. Saya
pribadi memilih Biarkan BBM dinaikkan kalau perlu setara harga pasar, tapi
dengan syarat, kompensasinya jelas untuk rakyat. Jangan dengan asal gampangan
seperti BLT. BBM dinaikkan agar mereka yang mampu beli mobil dan motor harus
mampu beli bensin. Data penjualan motor dan mobil bahkan mobil mewah di
Indonesia makin meningkat padahal BBM telah dinaikkan beberapa kali. Ini
berarti secara relatif, orang kaya lebih banyak menikmati subsidi BBM. Oleh
karena itu dana hasil kenaikan BBM benar2 digunakan untuk kesejahteraan rakyat,
membangun infrastruktur sehingga menciptakan lapangan kerja, pendidikan murah
dan kesehatan gratis bagi rakyat tanpa syarat yang rumit, pemanfaatan lahan
tidur, pengelolaan sumber daya kelautan yang masih belum terjamah dan
peningkatan pariwisata di negara kita (tidak hanya bali).
Demikian. Lebih kurangnya mohon maaf.
Rasanya agak lega sudah mengeluarkan uneg2 dari dalam hati dan kepala:)
"Kill Corruption for Our Kids Better Future"
www.amirsyah,blogspot.com
www.azzahku.multiply.com
[Non-text portions of this message have been removed]