Target kita hanya menjadi inlander, jongos alias subordinasi dari kekuatan luar termasuk negara-negara yang sejak kemerdekaan mengatur banyak hal, mereka dari dulu hingga detik ini senang membuat negeri ini terombang ambing sehingga kita kesulitan menentukan sendiri kemana arah bangsa ini melangkah. kita mudah diadu domba demi kepentingan sesaat mengedepankan kemasan indah tapi kosong dari makna mengisi kemedekaan. Kita memang bangsa yang bebal dan tidak suka belajar dari sejarah. Hingga hari ini yang tersisa adalah wisata nostalgia buat para kompeni di Amsterdam sana bahwa bangsa jajahanya sejak dulu hingga saat ini masih bermental seperti ketika ditinggalkannya. Mental terjajah.
Dampak kenaikan harga BBM, naiknya kebutuhan pokok, pro kontra BLT, hingga pelecehan martabat bangsa bertubi-tubi serta antrian panjang adalah pemandangan sehari-hari seperti 60 tahun lalu. sikap birokrasi yang dengan mudah mengabaikan etika adalah hipokrit yang nyata hingga membawa bangsa ini menjadi bangsa yang jauh dari tujuan demokrasi yaitu kesejahteraan bersama dengan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan tanpa membeda-bedakan keyakinan. Karena keyakinan yang dibiarkan bersemi untuk saling berdialog secara terbuka dan tenggang rasa akan memunculkan kesadaran ketuhanan (God Consciousness) begitulah kearifan tradisi nenek moyang kita. Kita berasal dari umat yang satu (umatan wahidan) begitu juga manusia yang ada di bumi pertiwi ini. Menjadi bangsa yang besar, maju dan bermartabat terwujud hanya kita mampu merawat pluralisme dari keanekaragaman (kebhinekaan) yang luar biasa ini. Setiap kali mengingkarinya sesaat itu pula muncul pandangan, pendapat dan keyakinan baru karena menentangnya adalah menentang sunnatullah (hukum tetap ketentuan Tuhan) penelitian anda tidak menemukan apa-apa dari asumsi "air tidak mendidih disuhu 100° C" karena ini jelas melawan sunnatullah tadi. Tapi lihatlah betapa besar manfaat bagi kemanusiaan dari penemuan dan menelitian dengan keyakinan tentang keadilan tuhan (sunnatullah) walaupun Tuhan mampu berbuat hingga api dapat menjadi dingin tetap anda tidak akan menemukan apa-apa melawan api dengan sikap seolah-olah dingin. Tuhan itu Maha Adil tidak setiap 5 tahun sekali air laut tiba-tiba jadi minyak tanah. Jadikan sunnatulah mengajak berdialog dengan anda, dan dengan alam semesta berarti anda berdialog dengan Sang Penciptanya juga. Toleransi dengan hanya sikap acuh tak acuh sekedar mengakui eksistensi yang lain tidak akan cukup untuk menjadikan pluralisme sebagai kekuatan bangsa tapi Dialog ya dialog !. Jika anda seorang pejabat birokrat berdialoglah dengan nurani anda karena dibelakang banyak manusia yang harus dimanusiakan dari kebijakan yang diambil. Kebijakan anda mempengaruhi masa depan anak cucu bangsa ini. Jadi Pastikan hidup anda tidak DISCLAIMER. salam,
