Dh,
Wassalam
[EMAIL PROTECTED]
Supriyanto CQA-CRD Laboratory
Jl. Ancol I No. 4 - 5 Ancol Barat Jakarta Utara 14430
021-6909432 Ext. 316
----- Forwarded by Supray_to/JKT/INDOFOOD on 11/30/2004 11:34 AM -----
syerlini dyah
Sent by: Syerlini To: [EMAIL PROTECTED],
Dyah [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
11/29/2004 04:06 [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
PM [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
cc: [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
Sumbarjito/JKT/[EMAIL
PROTECTED],
Supray_to/JKT/[EMAIL
PROTECTED], Meilani
Warastuti/JKT/[EMAIL
PROTECTED], Ahmad
Daya/JKT/[EMAIL PROTECTED],
Denny/JKT/[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
Subject: Apa Pantas Berharap
Surga?
Apa Pantas Berharap Surga?
Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua
rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas
selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah
sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib
sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum
termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun
kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah
Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan
berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju
sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk
bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi
meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir
dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal
tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah
maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca
sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.
Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna
terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang
mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes
yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan
pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih
mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada
kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah
jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih
susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan
dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan
teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh
kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya
sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal
shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya
tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh
temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu
ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk
menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada
ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap
orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah
hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini
bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakan tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh
apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak
beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau
menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita
lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan
menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan
kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang
terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran
mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ?
_______________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private
information. If you have received it in error, please notify the sender and
delete the message immediately.
Any other use of the email is prohibited.
_____________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately. Any other use of the email is prohibited.
---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/