On Thu, 27 Apr 2000, Amin Mas'udi wrote:

> kayaknya sih benar...
> 
> > Kalau menurut pendapat saya, linux itu digratisin adalah strategi untuk
> > bisa melawan dominasi windows yang sudah mendunia. Coba kalau linux tidak
> > gratis dan tidak open source apa bisa menyaingi dominasi windows? Bener
> > ngak sih pendapat ini?
> >

Ini saya "paste" deh tulisan lama saya di IT-CENTER sebagai tanggapan
tentang tulisan di DEWANEJA.COM

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Diskusi Lanjut Mengenai Linus dalam Perspektif Psikologi

                                [Kiriman : I Made Wiryana]*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

>Sebuah kebanggaan bagi seseorang untuk menjadi presiden negara adidaya,
>webmaster yang berhasil mengumpulkan hits terbanyak, konglomerat yang
>bisa sukses tanpa bantuan waskitawan, dll. Bagi Linus dan kawan-kawannya,
>ia akan mendapat kebutuhan akan rasa harga diri yang begitu luar biasa
>apabila ia berhasil mendobrak dominansi Microsoft Windows. Setelahnya, ia
>bakal memperoleh pengakuan dan penghargaan bertubi-tubi yang pangkal
>ujungnya kebutuhannya akan rasa harga diri terpenuhi. Tampaknya
                                
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar saya :

Paragraf di atas kurang tepat. karena sebagian besar dari para programmer
Open Source (apalagi Linux) memulai usahanya BUKAN KARENA INGIN MENDOBRAK
DOMINASI MS, ataupun MEMENUHI PENGHARGAAN. (istilahnya kebutuhan harga
diri).

Tetapi sebagian besar berawal dari "menggaruk rasa gatalnya sendiri"  
dengan kata lain, tujuan utamanya adalah "menyelesaiakan masalahan
sendiri" (misal Linux memulai ketika dia kecewa dengan DOS sangat
terbatas, dan dia tidak bisa beli UNIX, dan ingin belajar 386). Jadi
memang tujuan mereka membuat program adalah memenuhi kebutuhannya.

Tetapi kebutuhan ini bukan selalu berupa kebutuhan akan materi. Sama
halnya ketika Eric Raymond mulai menulis fetchmail, si Apache group
menulis apache, dan juga eric allman menulis sendmail (atau bahkan
Internet itu sendiri).. yang sebagian besar dimulai dari "adanya suatu
masalah".

                                
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

>Ia bahagia ketika Linux sukses dan ia termotivasi dari situ. Linux sukses
>karena Linus sudah mendapatkan kebutuhan-kebutuhan di bawahnya. Sangat
>ganjil bagi seorang Linus pun untuk bekerja di depan komputer berjam-jam
>apabila ia sedang kelaparan, dibenci orang, pistol ada di kepalanya, dan
>lain-lain. Ia bahkan rela untuk mendistribusikan Linux secara gratis. Ia
>tidak butuh duit saat ini.
                                
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                                
Komentar saya :

                                
Linus tidak termotivasi dari hal tsb. Motivasi terbesar adalah keinginan
untuk belajar. (sama dengan saya pribadi, ataupun banyak programmer Open
Source yang saya kenal....8-). Bahkan misalnya di developer AbiSource
(yang membuat aplikasi untuk Windows dan Linux, Mac, BeOS, dsb,..  
kecenderungan ingin belajar dan memecahkan masalah lebih besar daripada
kecenderungan "World domination".

                                
Pendekatan Maslow saja cenderung kurang mampu menjabarkan dunia "Open
Source", saya lebih menyukai pendekatan ala "Agalmic society dan Reality
2.0". Untuk detailnya bisa dibaca di "very long paper"..he.he.

"Linux bukan sekedar sistem operasi alternatif"

http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/artikel/Non_Teknis/


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

>Mungkin akan banyak orang lagi seperti Linus di Indonesia ini. Hal ini
>mungkin apabila Indonesia makmur, aman, dan tentram supaya para
>programmer bisa duduk manis di depan komputernya tanpa perlu takut di ...
>:) 
>
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                                
Komentar saya ..

                                
Saya mengenal beberapa programmer Open Source yang hidupnya jauh lebih
susah dari para mahasiswa atau praktisi TI di Indonesia. Tetapi dorongan
ingin "saling menolong", dan "belajar" menjadikan mereka mau menjadi
programmer Open Source (salah satu member di SuSE bahkan tukang pizza 8-)  
yang masih mencari makan dengan susah).

Bahkan seorang programmer kernel (usia 20-an)  asal Bulgaria juga tidak
bisa dibilang hidupnya lebih "tenteram" dari programmer Indonesia..  
Tapi... sebagai "counterexample" dari statement di atas adalah...???  
Berapa orang programmer Indonesia yang berani ke Open Source..???
                                
Hambatan utama adalah, karena faktor "belajar"  menjadi sangat tinggi,
maka kemampuan menjadi syarat utama... dan ini mungkin yang tidak dimiliki
para programer Indonesia...8-) Maaf mungkin hanya perkiraan saya..

                                
Sebab biasanya programmer di Open Source, tidak harus bisa memprogram,
tapi harus terbuka, mau berdiskusi, mau menulis (literate programming),
mau sharing... Ini mungkin yang jarang..
                                
*Diposting lewat Milis [EMAIL PROTECTED]



------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] - Mailing List (milis) MIKRODATA

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
Website     : http://mikrodata.co.id
FTPsite     : ftp.mikrodata.co.id
Archives    : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/

Milis ini menjadi kontribusi rubrik Konsultasi, Klinik Virus, Opini IT, 
Klinik Linux, dan Antar Pembaca di MIKRODATA, Info Komputer, 
Detikcom (i-Net), KOMPAS Cyber Media (KCM), dan AntiVirus Media.

Kirim email ke