Pinjem Bandwidth nya Mas EKO Barusan dapet buletin renungan Jum'at en sepertinya bagus.. Oleh: M Arifin Ismail MA Ada seorang kawan, sebut saja Rani. Semasa kuliah ia adalah seorang yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yg tinggi. Sejak awal sikap dan konsep dirinya telah jelas "Meraih yang terbaik", baik dalam bidang pendidikan ataupun profesi yg akan digelutinya. Kemudian universitas mengirimnya ke negeri tulip untuk memperdalam "Hukum International" dan diraih dengan sukses. Setelah itu ia pun mendapat pendamping yg tidak kalah suksesnya dalam berprestasi hanya beda profesi. Maka sebagai hasilnya, Alifya sibuah hati hadir ditengah mereka tidak lama setelah Rani diangkat sebagai staf diplomat dan teraihnya gelar Ph.D oleh sang suami tercinta. Alifya diambil dari huruf hijahiyah yang pertama yaitu "Alif" dan yang terakhir "Ya" maka menghasilkan Alifya, sebuah nama yang enak didengar dan dengan filosofi yg baik seindah nama tersebut. Ketika Alif berusia enam bulan, kegiatan Rani pun semakin meningkat. Frekwensi terbang dari satu kota ke kota lain dan satu negara ke negara lain pun demikian tingginya, sehingga pernah penulis tanya "Tidakah Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" dan dengan sigap layaknya seorang diplomat Rani menjawab "Saya sudah persiapkan segala sesuatunya untuk Alif dan yang terbaik, Everything is OK, nggak usah khawatir.." bukanlah Rani kalau tidak bisa membuktikan ucapannya, perawatan serta perhatian untuk Alif membuat terkagum-kagum para kerabat, walaupun lebih banyak dilimpahkan kepada perawat pribadi Alif dan dipilih yang terbaik. Alif makin hari tumbuh menjadi anak yang cerdas, lincah dan pengertian. Kakek serta Nenek juga tidak kalah hebat dalam memberikan perhatian kepada Alif serta sering memompakan semangat kepada sang cucu untuk meraih prestasi kelak seperti kedua orang tuanya. "Contohlah Ayah Bunda bila Alif besar nanti" begitulah yg dituturkan diantara dongeng pengantar tidur untuk sang cucu. Suatu cita-cita yang wajar bagi orang tua yang ingin anak atau cucunya sukses dalam kehidupan. Ketika Alif berusia tiga tahun, Rani cerita kepada suami bahwa Alif minta adik. Waktu itu Rani dan suami menjelaskan dengan penuh kasih sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan adik bagi Alif. Lagi-lagi si Alif kecil menunjukan kemandiriannya dan dapat memahami orangtuanya. Mengagumkan memang, Alif bukanlah anak yg gampang merengek karena tidak terpenuhi keinginannya, kalaupun mereka baru pulang larut, Alif tidak suka ngambek, kisah Rani. Alif selalu menyambut mereka dipagihari dengan bahagia. Rani sering menyebut Alif sebagai "Malaikat kecil". Sungguh beruntung keluarga ini, meski kedua orang tuanya sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Suatu hari menjelang ke kantor, entah mengapa, Alif menolak untuk dimandikan pembantu "Alif mau Bunda yang mandikan" ujarnya. Karuan saja Rani yg detik demi detik waktunya sangatlah diperhitungkan menjadi gusar. Tak urung sang suami membujuk agar Alif mau dimandikan oleh tante Mien, sang pembantu. Peristiwa ini berlangsung selama sepekan. "Bunda mandikan Alif..." menjadi suatu kalimat rutin setiap pagi. Rani dan suami berfikir mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke usia masuk sekolah sehingga minta perhatian lebih. Suatu sore, Mien si pembantu menelpon seorang kawan Rani yg berprofesi dokter dan juga kawan karib Rani "Bu dokter... Alif demam dan kejang2... sekarang ada di UGD" hal yg pertama dapat dilakukan Mien karena tidak bisa menghubungi Rani. Setengah terbang si dokter bergegas ke UGD Rumah Sakit yg ditunjukan Mien, upaya dilakukan tetapi Allah sudah menentukan lain. Alif si malaikat kecil telah dijemput oleh Pemiliknya yg Khalik. Rani bunda tercinta ketika akhirnya bisa dihubungi sedang dalam kesibukan yg sangat tinggi untuk peresmian kantor barunya dan langsung shock mendapat berita. Setibanya di rumah hanya satu keinginan yg tetanam dihati selama perjalanan, "Aku harus memandikan Alif...." dan itu memang dilakukan dengan tegar meski tubuh si kecil telah dingin dan kaku..."Ini bunda Lif....Bunda mandikan Alif ya..." ucapnya lirih.. namun teramat pedih... Ketika tanah merah mulai diturunkan keliang lahat tempat Alif berbaring dan mengubur jasad sikecil, kawan-kawan dan kerabat masih mematung, wanita karier yg tegar itu berkali-kali berkata "Ini sudah takdir ya...Aku disebelahnya ataupun diseberang lautan, kalau sudah saatnya datang, ia pergi juga kan ....." Semua yg hadir hanya bisa berdiam dan larut dalam kenangan serta kesannya masing2. "Konsekwensi suatu pilihan..." lanjut Rani dengan tegar dan kuat. Hening sejenak.. tiba2 Rani tertunduk, "Aku ibunya....!" serunya kemudian, "Lif...Alif.... bangunlah nak...sebentarrr saja... bangun Lif...Bunda mau mandikan Alif.. sekali saja..." rintihan itu begitu menyayat hati. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah "Apa gunanya yg aku capai...bahkan memandikan Alif pun aku tidak sempat...." Akhirnya runtuh juga ketegaran wanita karier itu. Kisah ini adalah nyata..bukan untuk meperdebatkan pembagian tugas suami-isteri atau memperdebatkan takdir, ambil sebagai suatu pelajaran dan cermin kehidupan dalam berkeluarga. ----------------------------------------------------M Arifin M A ------ Terusterang saya pribadi sangat terkesan dan merasa betapa bahagianya saya, tiga orang putra-putri pada saat seumur Alif semuanya lebih suka saya mandikan ketimbang pembantu atau ibunya sendiri. Sekarang tinggal yg paling kecil yg tiap pagi menyeret saya ke kamar mandi minta dimandikan, bahkan urusan ke WC pun "Mau sama Bapak..." yg nomor 1 dan 2 sudah malu... Bila tengah malam dan memperhatikan tidur mereka yg damai, hati ini berbisik biarlah apa kata orang tentang memanjakan mereka, semoga pada saat saya renta mereka akan ingat saya pernah mengurus mereka dengan layak dan mereka mau ber baik hati untuk tidak mencampakan saya ke panti jompo. Suatu hal yg mengkhawatirkan dan menakutkan saya bila sampai dilupakan oleh mereka, gejala jaman modern. MUST ------------------------- http://www.pointer.web.id ------------------------- Truth is the most valuable thing we have -- so let us economize it. -- -- Mark Twain ------------------------------------------------------------------------ [EMAIL PROTECTED] - Mailing List (milis) MIKRODATA Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] Website : http://mikrodata.co.id FTPsite : ftp.mikrodata.co.id Archives : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/ Milis ini menjadi kontribusi rubrik Konsultasi, Klinik Virus, Opini IT, Klinik Linux, dan Antar Pembaca di MIKRODATA, Info Komputer, Detikcom (i-Net), KOMPAS Cyber Media (KCM), dan AntiVirus Media.
