Sebetulnya ada wawancara saya yang lebih panjang dg salah satu majalah
8-) tapi tunggu tanggal mainnnya.  Untuk sementara saya jawab dulu
pertanyaan ini 8-) (kayak orang ngetop aja saya...)


On Thu, 3 Aug 2000, Made Sathyabudi Adnyana wrote:
> 
> berikut petikan wawancara saya sebelumnya:
> saya I Made Sathyabudi Adnyana : bonak, wartawan BONAK CyberNews
> I Made Wiryana : IMW
> ===================================
> bonak   :
> "kalo misalnya, ini misal lho, Oom IMW sama Bill Gates dijadiin staff manajemen 
>penjualan microsoft  windows2000  internasional, mau
> nggak?  fulusnya guede lho, pake $$$$....."
> 
> IMW    :
> "Wah.. kebahagiaan tidak selalu terukur dg duit lho.. 8-) kalau gitu ngapain saya 
>jadi dosen yang gajinya pas-pasan 8-) Seringkali
> lebih bahagia melihat masyarakat kita mendapat "pencerahan" ketimbang cuma mengejar 
>materi pribadi belaka.
> Jangan kaget kalau saya menolak (bukannya GR..lho).  Kalau Alan Cox saja bisa 
>menolak kenapa saya tidak..."
> 
> Ingat uang itu memang penting.. tapi bukan segalanya.
> 
> bonak :

> "Apakah Anda menolak dengan alasan karena yang mempekerjakan anda
> adalah Microsoft Windows yang notabene sama dengan hegemonian yang
> anda tidak suka? atau alasan lain misal gengsi, atau apa? bagaimana
> juga jika Anda masih tetap diperbolehkan mengajar untuk memberi
> "pencerahan"?

> 
> IMW:

Saya bukannya tidak suka dg MS Windows lho... (saya bukan anti Windows)..  
hanya praktek bisnis MS yang saya tidak setujui.  Bill Gates dan MS
sendiri menempati posisi khusus di hati saya (kalau nggak, ngapain saya
baca semua buku mereka... ).  Seringkali saya dianggap anti MS karena
sering memberikan informasi mengenai keburukan produk mereka.

Tujuan saya hanyalah satu, yaitu mencoba memberikan informasi secara luas,
kepada publik. Sehingga mereka dapat menentukan pilihan yang akan
menguntungkan dalam jangka panjang tidak jangka pendek saja. Seringkali
publik tidak memahami permasalahan ataupun posisinya yang lemah.
Pengetahuan tentang teknologi komputer sering dikaburkan oleh isue yang
dilontarkan media pemasaran, seperti FUD, benchmarketing, penggunaan
istilah atau nama baru untuk teknologi lama dan lain sebagainya yang
membuat pemahaman teknologi sebenarnya menjadi sulit dilakukan oleh
masyarakat.

Dan saat ini relatif Lembaga Perlindungan Konsumen (YLKI misalnya) belum
mengambil posisi untuk membela konsumen perangkat lunak. Di samping itu
juga saya ingin atau punya cita-cita tenaga kerja TI kita ini dihargai dan
punya posisi setara di dunia, jangan hanya dikenal sebagai pembajak
perangkat lunak atau hanya sebagai tukang operator. Untuk itulah saya
berusaha meluruskan sesuai posisi saya sebagai akademisi untuk menjelaskan
hal tersebut dari sudut pandang ilmu komputer, dan bila ini seperti
menyerang salah satu produk yang mungkin itu menjadi suatu resiko dari
kesalahan yang dilakukan oleh produk tersebut. Saya selalu berusaha
mengambil sumber ilmiah seperti jurnal ataupun bahasan ilmiah dalam hal
ini. Jelas ini sering menimbulkan prasangka yang bukan-bukan, akan tetapi
saya selalu berusaha terbuka untuk berdiskusi (tentunya dengan sumber
ilmiah lho).

Di samping itu beberapa produk MS relatif memiliki nilai persuasif yang
kurang baik bagi masyarakat TI (terutama mahasiswa) Indonesia yang saat
ini sedang dalam taraf belajar TI.  Dasar disain yang menempatkan "user
itu tak tahu apa-apa" akan cenderung membuat pengguna komputer kurang
belajar banyak (terutama sampai detailnya).  Kalau gitu kapan kita pinter
dan majunya.. .? 


Perbedaan historis (bisa baca paper saya soal ini ttg pendidkan bidang TI
untuk menyongsong abad 21)

    http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/artikel/Abad21/

menyebabkan kita harus memandang lebih dalam lagi mengenai materi dan
pendekatan pendidikan IT yang selama ini diberikan.

Ketidak setujuan saya mungkin hanya karena pandangan kepentingan.  Tidak
ingin ada conflict of interest. Seperti saya utarakan, duit bukan yang
utama 8-).


> bonak:

> Bagaimana lagi jika Anda misalnya, ditawari oleh perusahaan bonafide
> seperti RedHat Software inc untuk ditempatkan sebagai kepala staff
> bagian manajemen penjualan dan distribusi RedHat 6.3 Official version,
> dengan gaji yang sama di Microsoft ....? anda masih di beri kesempatan
> yang sama juga untuk mengajar sebagai dosen ....
> 
> IMW:

Tergantung bagaimana kontribusi mereka terhadap komunitas IT Indonesia
(terutama mahasiswa, dan siswa).  Kalau mereka hanya ingin cari untung
(apalagi yang free rider), saya tidak mau. 

Pertimbangan kontribusi ke komunitas TI Indonesia ini yang saya utamakan,
apakah saya akan bergabung ke salah satu vendor Linux atau tidak. (dan ini
tidak main-main lho..he.he.). Saya pribadi cenderung mendorong pemain
lokal untuk lebih maju lagi.

Dari segi kontribusi ke komunitas TI. MS masih menempati raport rendah
(lha mereka udah segede gitu masih sedikit kontribusinya ke komunitas...
koq 8-), vendor Open Source relatif lebih baik raportnya karena secara
tidak langsung mereka telah memberikan kontribusi ke masyarakat luas.  
Bahkan beberapa vendor Linux telah secara nyata memberikan kontribusi itu
(walau belum meraup untung sama sekali..he.he)

> bonak:

> sama dengan proyek China membentuk proyek Linux RedFlag.. Apa yang
> mendasari Anda melakukan hal ini? Kapan Indonesia akan memilikinya?
> Mungkin melalui wawancara ini Anda bisa sedikit mempublikasikan
> mengenai hasil kerja tim Anda dalam proyek yang mungkin bisa dibilang
> prestisius ini, karena bisa dibilang masih sedikit yang mengetahui hal
> ini ... silahkan ...

> IMW:

Sudah ada beberapa proyek distribusi ini.

Ada persh (saya tidak bisa menyebutkan namanya karena kurang etis, belum
press release resmi), yang akan membuat Distro Desktop Linux Indonesia
(distro ini sudah ditune dg kebutuhan pengguna Desktop di Indonesia).  

Ada juga persh yang membuat disro seperti RedHat. (multi purpose)

Ada beberapa  mahasiswa membuat distro yang khusus untuk router dsb (mini
distro)

Saya sendiri (sebagai pet project) sedang membuat distro untuk belajar
membuat distro 8-)  Jadi tujuannya untuk mahasiswa agar bisa membuat
"Linux-nya sendiri".

Jadi mungkin tidak sampai 1 tahun lagi kita sudah memiliki Linux versi
Indonesia 8-).  Dan nama TI Indonesia mulai dikenal.. (seperti salah satu
vendor Linux Internasional sudah membuka development centernya di
Jakarta).

> bonak: Mungkin pertanyaan ini tidak terbayang dalam pikiran Anda,
> namun karena banyak juga pemirsa yang bertanya-tanya, sejak umur
> berapa Anda mengenal dunia komputer, dan bagaimana ceritanya Anda bisa
> mengenal komputer ....
> 
> IMW:

Hm... sebetulnya secara tidak sengaja 8-)

Saya kenal komputer waktu jaman SMP/SMA (waktu itu masih pakai ZX
Spectrum) memori 4-8 K, monitornya TV.  Bahasanya BASIC.  Memang waktu itu
hobby elektronik, jadi apa saja yang "berbau elektronik" dicoba dikenal
(termasuk ngebreak, dll)

Jaman kuliah saya kenalan dg Apple IIe, dan mainan assembler di MPF (Z80),
dan juga modul 8085.  (di Apple pakai BASIC, dan Assembly), sedangkan di
MPF dan 8085 tentu pakai Assemby.  Baru setelah itu kenal ama IBM PC
8088 (256 KByte). 

Meneruskan kuliah ke negeri orang pengalaman komputernya lain lagi (saya
cuplikan saja dari cerita saya) :

Saat saya menempuh studi S2 di Universitas Edith Cowan - Perth Australia.
Saya masih menggunakan MS Windows 3.11 (dg DESQVIEW) dan OS/2 untuk PC
saya. Di kampus saya sering memakai AIX (dg XWindow) untuk aplikasi
theorema prover dan juga untuk prolog saya pakai SICSTUS di AIX tersebut.
Sedangkan untuk animasi saya memakai ALIAS di Silicon Graphics dengan
IRIX-nya.

Bisa dikatakan pergaulan erat saya dengan Unix dimulai saat itu. Saya
merasakan mudah dan enaknya UNIX itu, saya bisa mengatur prioritas
pekerjaan dengan nice, meletakkan job di background, membuat job tetap
bekerja sementara saya logout (nohup), juga saya bisa login ke satu mesin
menjalankan aplikasi X, login dari rumah untuk mengecheck pekerjaan saya.
Bahkan dari mesin IRIX saya bisa mengirim file hasil render ke mesin PC
dan memerintahkan video U-Matic untuk merekam, semua itu serba otomatis
via script. Jadi mungkin definisi mudah bagi saya sedikit berbeda dengan
pengguna generasi GUI ..he..he.he. Mudah bagi saya lebih kepada seberapa
mudahnya sistem dapat membantu saya mengerjakan tugas, bukan sekedar mudah
interaksinya saja.

Saya juga merasakan stabilitas sistem operasi UNIX ini sangat baik sekali,
jelas ini memudahkan bagi saya yang membutuhkan jalannya aplikasi tanpa
hang selama 1 minggu atau lebih (misal untuk aplikasi theorema prover dan
rendering). Begitu juga membandingkan OS/2 dengan MS Windows 3.11 saya
menjadi mulai terasa bahwa kestabilan sistem operasi desktop juga sangat
memudahkan kerja. Sehingga saya mengharapkan memiliki sistem operasi
seperti itu di komputer saya di rumah.

Terus terang keinginan ini bertambah lagi ketika saya ingin menginstall
SNNS (Stuttgart Neural Network Simulator), karena riset saya yang
berkaitan dengan Neural Network ingin mencoba software ini. Sehingga saya
bisa dikatakan ngebet sekali dengan si Unix ini. Memang saya sempat
membeli MINIX dengan buku Tannenbaum, tetapi tidak berhasil saya instal
karena menuntut sistem yang 100% kompatibel dengan IBM PC. Juga saat itu
saya nyaris membeli Coherent.

Saat itu di Perth, saya bergabung dengan ISP yang bernama Dialix
(www.dialix.oz.au), setiap bulan kita punya acara branch - breakfast and
lunch bersama. Di sana para administrator Unix sering bertemu dan saling
bertukar pengalaman. Mendengar para administrator bertukar pengalaman
tentang tip dan trick di UNIX terus terang saya jadi terbuka tentang
kemampuan Unix ini. Dari acara ini pula saya mendengar WAUUG (Western
Australian Unix User Group), yang ternyata bermarkas di kampus saya), Dan
saya mengenal Linux dan FreeBSD. Saat itu juga saya sudah mulai
membaca-baca tentang Windows NT dan segala hype-nya. Terus terang saya
sempat jatuh cinta dengan konsepnya, yaitu yang berbasiskan microkernel
dan sebagainya. Sayangnya ini hanya janji saja, setelah saya mencoba, saya
tetap tak mendapatkan kemampuan seperti pada lingkungan UNIX.

Perkenalan saya dengan Linux, dimulai dari server di kampus Edith Cowan
Uni saya mendownload ke lebih dari 50 disket, Linux yang pertama kali saya
install (saat itu belum ada istilah distribusi). Saat pertama ya
meraba-raba juga, dan bermodalkan FAQ dan beberapa informasi dari
newsgroup dan beberapa mailing list (termasuk pau-mikro) membantu untuk
bertukar pengalaman. Sejak itulah saya memakai Linux hingga saat ini.
Pulang ke Indonesia saya memakai Linux dan untuk desktop masih bertahan
dengan Windows 3.11 walau telah ada Windows 95.

Pengalaman membangun jaringan Internet di Universitas Gunadarma menjadikan
saya yakin dengan kemampuan Linux dan program Open Source. Saat itu kami
memutuskan (dengan alsan biaya dan perangkat keras) untuk menggunakan
Linux daripada Windows NT. Termasuk untuk fitur Network Address
Translation Table yang tersedia di Linux (IP Masquerading) dan saat itu
Wingate belum ada.

Setelah saya memulai riset saya di Jerman saya memakai Linux secara total.
Lingkungan kelompok kerja saya memakai Sun dengan Solaris. Jadi bisa
dikatakan Unix-based. Saya memilih memakai Linux ketimbang Solaris karena
alasan ketersediaan source code dan kemudahan utak-atiknya. Sistem operasi
seperti Windows bisa dikatakan minim sekali digunakan di kelompok kerja
kami. Rata-rata hanya sebagai konverter saja, yaitu ketika menerima file
dari pengguna Windows dalam format MS Word atau Power Point. Kami lebih
suka memanfaatkan format standard seperti SGML, LaTEX atau HTML, karena
lebih menjamin file tersebut berusia lama, dan bisa diolah di platform
manapun.

> 
> tetap simak, acara "Interviewe with IMW" tetap di saluran kesayangan
> Anda BONAK Cyber News. Saya Made Sathyabudi Adnyana beserta seluruh
> kerabat staff mohon undur diri dulu, dan tetap panteng terus di
> frekuensi 14.4-56kbps... BONAK Cyber News
> 
> =========================

Mudah-mudahan cukup menjawab pertanyaan anda 8-)

Salam hangat dari Jerman

IMW


------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] - Mailing List MIKRODATA

Informasi : http:[EMAIL PROTECTED]
Arsip     : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/

Milis ini menjadi kontribusi beberapa rubrik yang diasuh tim MIKRODATA.
Termasuk rubrik-rubrik yang ada di media lain.

Kirim email ke