Di depan rumahku terbentang luas hamparan salju.
Setiap sore aku duduk di depan Jendela.
Sambil menikmati secangkir kopi Java yang hangat dan sepotong coklat Delfi.
Kuperhatikan makhluk-makhluk mungil bernyanyi riang dan berlarian kesana kemari.
Alangkah bahagianya si Mungil dapat bergerak dengan bebasnya.
Sesekali aku mencoba berkomunikasi dan bertutur sapa dengan mereka.
Sesekali pula aku diajak bermain di hamparan salju itu.
Sebaliknya, sesekali pula kuajak dia mampir ke rumahku.
Memang habitat kami berbeda.
Aku selalu kedinginan jika berada di tempatnya.
Sebaliknya dia selalu kegerahan jika kuajak duduk di dekat Jendela.
Seperti sore sebelumnya aku kembali duduk di depan Jendela.
Kuperhatikan lagi si Mungil itu.
Kudatangi tempat bermainnya.
Dengan tertatih-tatih aku mulai belajar berjalan di hamparan dingin dan licin itu.
Dengan ramah mereka membimbingku agar bisa berjalan dengan benar dan mulai belajar
berlari.
Suatu saat ketika cuaca cerah, kuajak si Mungil ke rumahku.
Kuajak melihat pemandangan dari Jendelaku.
Kuajak terbang tinggi ke awan dengan Jendela ajaibku.
Dari ketinggian kutunjukkan pemandangan yang jauh lebih eksotis.
Ya.. kuingin mengajarinya terbang.
Kuingin memberinya rahasia keajaiban Jendelaku.
Mimpikah aku?
DSU