Dear milliser,
Semuanya tentu sudah pernah melihat apa yang disebut traffict light 
atau lebih dikenal sebagai lampu bangjo (abang ijo). Tapi apakah Anda 
menyadari bahwa lampu "bangjo" dapat dipakai sebagai rujukan sebuah 
mutasi yang baik?

Jika Anda menyimak lebih seksama, maka Anda akan mendapat kesimpulan 
bahwa lampu merah selalu menyala lebih lama dibanding lampu kuning dan 
lampu hijau. Terus apa hubungannya dengan pola mutasi, saya akan coba 
uraikan. Mudah mudahan penjelasan saya sedikitnya dapat membuat Anda 
manggut manggut.

Selama ini kita hanya mengenal istilah Kantor Pusat dan Kantor Daerah 
(orang lebih suka memakai kata remote area...lebih keren 
kesannya..halah..). Setiap pegawai di DJPBN pasti mempunyai daerah 
favorit juga daerah daerah yang dianggap menyeramkan. Setiapa pegawai 
(saat ini) juga mengetahui bahwa kantor kita tersebar ke dalan 30 
Kantor Wilayah. Saya membayangkan, seandainya tiap pegawai diberi 
kebebasan untuk membagi ke 30 kanwil tersebut sesuai preferensinya, 
maka setiap pegawai akan mempunyai red, yellow dan green area masing 
masing (masing masing 10 kanwil). Mengadopsi lampu merah maka pola 
mutasi (normal) adalah dari red area menuju yellow area lanjut ke 
green area dan kembali lagi ke red area demikian seterusnya. Batasan 
waktu menjadi titik sentral pola ini. Batasan waktu harus dijalankan/ 
ditegakkan atau lebih tepatnya jangan sampai terabaikan. Green area 
(jika peminatnya tinggi) mestinya mendapat porsi waktu lebih singkat 
dibanding red area. Karena jika batasan waktu kurang diperhatikan maka 
segala keluh kesah, cc mk (bukan cuci muka he he he)  dll bakal 
beralamat ke bagian mutasi. Dengan mencantumkan red, yellow dan green 
area masing masing pegawai ke dalam situs tertentu, maka fungsi 
kontrol juga dapat dijalankan bersama.

Kenapa reg, yellow, dan green area diserahkan kepada setiap pegawai? 
Karena pada dasarnya diri kita sendiri yang lebih mengetahui mana 
daerah favorit dan yang paling kita hindari. Memang pola ini hampir 
serupa dengan pola lingkar dalam lingkar luar dengan sedikit 
modifikasi.

Semua itu demi terwujudnya pola mutasi yang sehat. Mutasi yang dapat 
diterima dan dimengerti semua orang dengan lapang dada, tanpa 
kesenangan yang menggebu gebu, tanpa kesedihan yang mengharu biru. 
Sehingga slogan mutasi adalah hal yang biasa dapat benar benar berlaku 
atas negri (DJPB) ini.

Salam hangat dari Kendari

HaBeWe 


Kirim email ke