Suatu hari limabelas tahun yang lalu. Saya mengantar teman saya seorang Kabid 
di Kanwil DJA ke bank untuk transfer uang kepada anaknya yang semuanya sudah 
kuliah. Maklum Bapak itu kala itu sudah mendekati pensiun. Sehingga anak2nya 
sudah pada jadi mahasiswa.  Ada yang kuliah di Unpad Bandung, ada yang di USSU 
Medan, ada yang di Unsyiah Banda Aceh. Itu yang sudah pada kuliah. Terus masih 
ada yang di SMA dan SMP yang ikut bersamanya dan  dg ibunya tentunya. 

Saya dengan serius bertanya kepada beliau, bagaimana caranya mendistribusikan 
gaji dan TC (ejaan lama untuk Tunjangan Khusus) untuk membiayai kuliah anak2 
dan biaya hidupnya? Beliau tersenyum dan tertawa lepas berderai, sambil 
mengatakan "numpang lewat aja gaji dan TC, yang diterima tinggal amplopnya yang 
tersisa". Satu rahasia di bisikkan pada saya "gali lobang tutup lobang", pinjam 
bank! Menjerang dan memperpanjang jatuh tempo pinjaman dengan mencicil. Ketika 
itu saya masih begitu "muda", Anak-anak masih kecil2 baru saja lulus SD dan 
SMP. Anak ada dua. Biaya belum begitu banyak. Mereka sekolah di sekolah negeri 
yang ketika itu biayanya masih sangat murah.
 
Sejak saat itu saya berpikir, bagaimana saya nanti dapat membiayai sekolah 
anak2, ketika mereka sudah dewasa. Beberapa tahun sebelumnya, sebelum ktm 
dengan teman saya itu mm saya telah berpikir kearah sana dg menyisihkan 
sebagian gaji untuk ikut asuransi pendidikan bg anak2, asuransi jiwa (siapa 
tahu umur tidak panjang), ambil cicilan rumah perumnas/BTN (bunga disubsidi 
negara dan tanpa uang muka, termasuk asuransi). Hal ini didasarkan pemikiran 
harga rumah pasti akan terus naik, sehingga suatu ketika bisa di jual dg harga 
yang layak untuk masanya.

Seiring waktu berjalan, anak saya yang pertama, tidak terasa, lulus SMA, 
prestasi sekolahnya stabil bagus nilainya, dan bisa ikut program PMDK pada 
universitas negeri ternama di negeri ini. PMDK nya tidak di pungut biaya apa2 
(berbeda dg saat ini yg juga membuka peluang bagi yg dapat menyumbang cukup 
besar, maklum sudah menjadi Badan Hukum), tapi biaya kuliah per semester terasa 
cukup mahal dan berat bagi PNS Esln 3 (Dep Keu sekalipun). 
Anak ke 2, mencoba untuk ikut UMPTN, tetapi gagal dan akhirnya kuliah di Un 
Swasta terkenal di Jakarta. Ternyata biayanya sangat mahal dan makin terasa 
berat. Masih ada untungnya krn ibu anak2 jg bekerja. Beruntung sebagian biaya 
dapat dibantu dari asuransi pendidikan yang telah jatuh tempo, dan dari 
pinjaman. tanpa belum perlu jual aset rumah BTN yang juga sudah lunas ketika 
itu.

Jadi bukan hanya ibu menteri yang heran ketika ada pejabat2 yang bisa 
menyekolahkan anaknya ke luar negeri dg biaya sendiri (kecuali bea siswa ), 
untuk membiayai sekolah dalam negeri saja, yang tidak terpengaruh dg nilai 
tukar rupiah, dan biaya hidup relatif rendah, aduh betapa beratnya dan  harus 
ada persiapan puluhan tahun sebelumnya.

Syukur alhamdulillah, saat ini anak2 telah selesai semua sekolahnya, mereka 
telah bekerja dan mandiri.

Saya kira planning begitu penting untuk suatu kegiatan apapun termasuk untuk 
mempersiapkan masa depan anak-anak kita. Mudah2 an yg disampaikan ini ada 
manfaatnya dan dapat jadi bahan renungan bagi yang muda-muda. 

Subasita.


 16/1/09, Ary Nugroho <[email protected]> menulis:

> Dari: Ary Nugroho <[email protected]>
> Topik: [Forum Prima] we are all committing this crime
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Jumat, 16 Januari, 2009, 3:56 PM
> Saya kira pernyataan yang dicetuskan Ibu Sri Mulyani di
> bawah sangat pantas
> untuk direnungkan, untuk Indonesia yang lebih baik.
> 
> Yet Mulyani stands out for her toughness. She says her
> staff had to "swallow
> a lot of very bitter reality" during her first six
> months on the job. After
> landing there, for example, she confronted senior staff:
> "How can you send
> your daughter or your son to study abroad when you earn
> only this kind of
> salary? Where did you get the money?" To which she
> added: "You have to
> admit: we are all committing this crime."
> 
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------------
> 
> Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
> Hentikan sekarang juga.Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 

      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke