OBITUARY (A Tribute to Dhimas, M. Akbar Putratama)
Hari ini, minggu tanggal 15 Februari 2008 sebelum tengah hari, jenazah alm (aku msh tak percaya harus menambahkan ini di depan namanya) M. Akbar Putratama disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir. Di depan pintu utama rumah duhkita, berjajar karangan bunga yang berasal dari Dirjen PBN Herry Purnama dan atas nama pribadi, Bupati Batang dan Keluarga KPPN Samarinda. Menyusul berikutnya belasan lagi dari Kanwil DJPB Semarang, KPPN Pekalongan, dinas2 Pemkab. Batang, toko2, bahkan dari LSM. Secara pribadi Bpk. Herry Purnama jg mengirimkan tali asih kepada keluarga Dhimas, panggilan akrab Akbar. Pada hari ini, tiga belas bulan yang lalu, dia datang ke Samarinda untuk menjalankan tugas sebagaimana layaknya seorang abdi negara mendapatkan panggilan tugas. Menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi negeri ini. Berbekal foto copy sk yang didownload dari email yang dikirimkan oleh temannya, dia berangkat. Tak apalah. Email itu didapat secara berantai dari teman, entah yang mana, yang berbaik hati menscan dan menjadikannya format pdf yang sangat besar karena source-nya dari image. Dia harus ke warnet dan menunggu berjam-jam sampai proses downloadnya selesai karena jaringan di kantor tak mampu dipakai download sebesar itu pada waktu itu. Tak apalah. Dia tidak mengenal kota ini, dan tak ada rumah dinas yang disediakan untuknya. Hampir dua bulan dia tidur di kantor karena belum mendapatkan tempat kost yang sesuai dengan harapannya. Itu juga tak apa. Dia akhirnya bergabung dengan 4 orang temannya dan mendapatkan kontrakan seharga hampir 13 juta setahun. Itu masih tidak apa, karena temannya yang lain harus membayar 16 juta untuk mendapatkan kontrakan yang layak ditempati berempat. Kemudian sampailah hari itu. Jumat, 13 Februari 2009. Tuhan memanggilnya tiba-tiba, dan dengan cara yang tak pernah kita duga. Kamipun harus berkemas untuknya. Pilu hati ini melihat koper besar yang dulu dibawanya dengan bersemangat, kini harus dibawakan oleh teman-teman sekantor (merekalah sebenarnya saudaranya di sini) karena dia sudah tak mampu melakukannya sendiri. Katakan pada kami bagaimana caranya agar kami bisa menahan airmata ini tidak jatuh saat kami harus mengemasi barang-barang kesayangannya? Katakan pada kami, bagaimana kami mesti menyampaikan berita duhkita ini kepada bapak ibunya di seberang lautan sana? Bahwa putra bungsu tercintanya sudah tak ada lagi bersama kita? Katakanlah.. Karena kami yang bertanggung jawab atas kematiannya. Kami tak pandai menjaganya. Kami tak bisa menunaikan amanah yang dibebankan pada kami oleh kedua orang tuanya. Dan... Katakan kepada kami, Bagaimana kami harus merangkai kata-kata kami paling halus, saat menyerahkan jasadnya yang sudah dingin beku di dalam peti jenazah kepada keluarganya di rumah? Baiklah. Lupakanlah.. Kami punya cara sendiri untuk melakukan itu. Cukup katakan pada kami, bagaimana cara kami kami memberitahu keluarganya, bahwa negeri ini tidak menyediakan dana bagi pengurusan dan pemulangan jenazahnya? Katakanlah kepada kami bagaimana caranya membuat mereka paham kantor kita tak lagi punya dana taktis karena kita sekarang 'lebih baik'? Oh, itu juga tak perlu, Cukup dengan satu isyarat, keluarganya akan berkata: "Tolonglah kami, uruskan segala halnya di sana, sampai dengan pemulangannya, berapapun biayanya akan kami ganti". "Walaupun sudah tak bernyawa, dia masih tak ternilai bagi kami" Seperti itukah kita? Kami berusaha tak seburuk itu. Kami jilat lagi ludah kami untuk tidak minta apapun kepada satker. Kami pinjam ambulans-nya untuk mengantar sampai ke bandara, karena tak pantas rasanya membawa jenazah dengan mobil dinas. Ternyata kami bisa menyelesaikan semuanya sendiri kecuali satu hal: Mengapa saat berangkat bertugas di tempat yang jauh dari rumah kita dibiayai, kemudian kita meninggal di tempat tugas, negeri ini tak peduli? Ataukah yang sebenarnya mati tak lain adalah perasaan negeri ini? Bukankah untuk pensiun saja mendapat biaya pindah, kenapa yang meninggal di tempat tugas tidak mendapatkan hal yang sama untuk sekedar 'pulang'? Apakah untuk inipun kami juga harus mengikuti kepasrahan akbar yang selalu bilang: 'tak apalah'? Tidak. Kami tidak terima. (Tiba-tiba teringatku malam itu, dengan berlinangan air mata, reni, saudari kami yang lain, sambil terisak berkata di samping jenazah adik kami: "Kenapa kamu lakukan ini pada kami dik..? Bukankah belum kering air mata kami..?" Reni ditinggalkan suami tercintanya pada hari yang sama, empat minggu yang lalu. Dan harus mengurus sendiri biaya pemulangan jenazah suaminya puluhan juta. Kamu benar Ito... Belum juga kering air mata kami untukmu...) Samarinda, 15 Februari 2008 Nb: Tepat pada saat tulisan ini hendak saya posting, saya mendapat khabar bahwa biaya pemulangan jenazah bisa di klaim ke kantor pusat. Barangkali ada diantara teman2 yang tahu prosedurnya? [Non-text portions of this message have been removed]

