Assalam'mualaikum,
 
Yth. Rekan Miliser Forum Prima
 
Semula ada niatan hanya sekedar turut baca2 milis forum prima. Teringat 
ungkapan pa Hari Ribowo, tergugah untuk memberanikan diri menyampaikan 
pendapat. Ya... benar... kalau bukan kel DJPB siapa lagi yang mo meramaikan 
forum prima.
 
Ada ungkapan, sekali layar berkembang pantang surut kembali. Begitu juga layar 
reformasi yang telah dikembangkan Pimpinan DJPB, wajib didukung seluruh 
keluarga DJPB. Hal yang telah bagus... mari tingkatkan... mari 
sempurnakan... supaya lebih bagus dan lebih baik lagi. Dan kalau masih terdapat 
kelemahan... kesalahan... marilah perbaiki... marilah luruskan... agar 
kelemahan/kesalahan itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. 
 
Reformasi memang semestinya disikapi dari dua sisi: (1) Kebenaran/kebaikan dan 
kesalahan/kelemahan. Kebenaran/kebaikan harus terus ditingkatkan karena 
kebenaran/kebaikan haqiki hanya milik Allah SWT. Mengakui atau melaporkan 
kesalahan, suatu perbuatan positif dibanding menutupi/menyembunyikannya. Dengan 
demikian, kesalahan/keburukan setidaknya dapat dikurangi yaitu mencari solusi 
pemecahannya atau mungkinkah dikenakan hukuman???  (2) Atasan dan bawahan sama2 
siap melakukan reformasi... sama2 siap dikoreksi bila berbuat tidak benar. 
Kritik bukan suatu yang tabu, tapi suatu cara melakukan check and balance.
 
Hasil survey KPK terhadap pelayanan KPPN marilah dijadikan cambuk bahwa  banyak 
tugas yang masih harus dibenahi. Atau mungkin kurangnya sosialisasi pelaksanaan 
tugas KPPN kepada para pihak, sehingga penilaian rendahnya realisasi APBN 
melulu sebagai kekurangan pelayanan KPPN. Proses realisasi APBN telah melalui 
proses panjang, sejak perencanaan, pelaksanaan (realisasi), sampai pelaporan.
 
Dalam proses perencanaan APBN menggunakan program aplikasi dengan BAS, dan ada 
keterlibatan DJA, DPA, dan Kwl DJPB dengan produknya DIPA. Data DIPA ini 
diterima KPPN dalam kondisi matang dengan transfer data berupa CD. Semestinya 
dalam suatu perencanaan telah melibatkan Satker di daerah. Namun seusai dengan 
bincang-bincang dengan teman Satker, masih terdapat penyusunan RKA-K/L (dulu 
DUPA), Satker di daerah tidak tahu menahu penyusunan ini, istilahnya DIPA tiban 
dari atasnya (Kanwil atau KP-nya).
 
Dalam proses realisasi APBN juga menggunakan program aplikasi dengan 
menggunakan BAS, baik setoran melalui bank maupun pencairan dengan pengajuan 
SPM. Tidak jarang pengajuan SPM tidak sesuai BAS dalam DIPA, apakah itu kode 
MAK, Lokasi, dll. Penyebabnya referensi pada SAI tidak sesuai DIPA. Karena pada 
saat transfer diberi tanda tanya maka SPM tertolak, atau diperbaiki bila itu 
pembayaran gaji bulanan. Apalagi penggunaan kode BAS pada setoran melalui bank. 
Yang terisi pada umumnya nama kantor dan kode MAK saja, itupun belum tentu 
benar.
 
Menghadapi kendala seperti itu, KPPN membentuk Tim Rekon Internal, menyisir.... 
menganalisis... dan memperbaiki database. Apabila ini tidak dilakukan maka akan 
bermasalah pada penyusunan laporan. Memang tugas ekstra yang sifatnya 
sementara, karena sumber masalah dari ketidaklengkapan... atau katakan 
ketidaktahuan Satker mengisi BAS. Yang menjadi pertanyaan tugas siapa untuk 
melatih Satker??? Bila diserahkan KPPN, dengan keterbatasan SDM baik jumlah 
maupun mutu, maka akan berimbas pada pelayanan. Mungkin akan lebih tepat bila 
dilaksanakan Kanwil DJPB dengan berkoordinasi Kanwil Kementerian/Lembaga 
setempat. Dengan pertimbangan SDM di Kanwil DJPB cukup banyak dan cukup handal. 
Kalau tidak dapat dilakukan juga, mungkin dapat diserahkan ke Pusdiklat 
Perbendaharaan (Pusdiklat Anggaran) atau BPPK.
 
Pada sisi lain, KPPN sebagai KBUN juga perlu diberi pencerahan apa sajakah yang 
menjadi tugasnya, sekalipun telah dinyatakan dalam UU No. 1/2004 dan PerDJPB 
No. 66, sehingga dalam melaksanakan tugas terjadi keseragaman. Seperti kasus: 
pertanyaan sejauh mana pengujian substantif dan pengujian formal, atau 
pernyataan bahwa SKPA hanya dari KP tidak boleh dari kantor daerah kecuali 
tugas dekonsentrasi, atau apakah persetujuan TUP oleh KPPN berupa surat, 
dsbnya. Ketidakseragaman dalam menginterprestasikan ketentuan akan berdampak 
pada pelayanan. Namun pendapat pribadi kata kunci yang dapat diterapkan yaitu: 
(1) Tidak ada KKN, (2) Yakinkan pendapat diri, ini benar dan itu salah (3) 
Jangan campur aduk suatu yang khusus (kasus) menjadi umum, tapi jangan 
juga yang umum diberlakukan ke khusus.
 
Dengan peningkatan SDM baik kepada Satker maupun KPPN, semoga pelayanan KPPN 
pada survey mendatang mendapat penilaian yang lebih baik lagi.
 
Mohon maaf kalau tidak tepat, semoga bermanfaat.
 
Wassalam'mualaikum.
 

--- On Wed, 2/18/09, yondi_l <[email protected]> wrote:

From: yondi_l <[email protected]>
Subject: [Forum Prima] Menyikapi Setiap Perubahan
To: [email protected]
Date: Wednesday, February 18, 2009, 11:01 PM






Setiap menghadapi tantangan akan perubahan mestinya dihadapi dengan
optimisme penuh pengharapan akan perbaikan. Respon akan perubahan
adalah tanda bahwa setiap insan birokrasi termasuk didalamnya jajaran
warga DJPBN pada dasarnya adalah "pendukung" perubahan/reformasi
birokrasi.

Optimisme tanpa dibarengi dengan kehati-hatian berujung pada
ceremonial yang berulang. Karena kita diwariskan kebijakan keliru dari
masa lalu dan perbaikannya membutuhkan waktu, tidak bisa instan meski
jaman yang kita hadapi serba instan dan menawarkan serba jalan pintas
(iming-iming) . Hemat saya disinilah tantangannya dan
hambatannya. sekaligus yang menggoda konsistensi kita dalam berkomitmen
pada perubahan yang membawa perbaikan.

Kalaulah punya cita-cita tertinggi untuk diraih jangan berhenti untuk
mengerjar cita-cita itu hanya karena lingkungan tidak mendukung.
Perubahan yang memberi makna selalu dimulai dari dalam diri. Betapapun
begitu sulit dijalani tetap memiliki nilai di kehidupan nanti. Wisuda
selalu menjadi ceremonial di akhir ujian berat yang menghadang bukan
sebaliknya. Wisuda bukan menjadi awal yang baru sekedar melekatnya
predikat yang harus disandang.

Marilah kita jaga apa-apa yang baik yang sudah kita mulai. Tidak perlu
berkecil hati, hanya karena kondisi tidak mendukung untuk mendapat
predikat pelayanan terbaik. Bukanlah tujuan utamanya untuk mendapat
predikat-predikat itu. Tujuan utama yang bisa dipahami adalah agar
kita saling menjaga optimisme kita masing-masing sehingga dapat keluar
dari berbagai krisis yang membelenggu bangsa ini.

Mengapa selalu gagal dalam implementasi: jawabnya karena terlalu mudah
untuk melupakan komitmen. Setiap kali kita melanggar komitmen
(janji-janji) selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri untuk
membuat komitmen baru. Siklus tahunan (tahun anggaran) dan siklus lima
tahunan (pemilu) sering kali memaksa kita berada di simpang jalan.
Namun sekali kita kuat dan konsisten (istiqomah) dan tetap netral
suatu saat nanti perubahan itu membuahkan hasil. 

Perlu dingat jika ada perselisihan kembalilah pada pedoman pokok.
Dengan memakai idiom Islam "Kembalilah kepada Qur'an dan As Sunnah
jika mengalami kegamangan hidup" UUD 1945 tentu pedoman tertinggi
dalam setiap aturan implementasi dibawahnya. Jika tidak punya kepekaan
dan komitmen pada aturan tertinggi itu apakah pantas masih berkomitmen
untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas serta adil dalam kemakmuran.

Ide dasar pembentukan Kejuruan sama dengan Diploma yaitu menciptakan
tenaga profesional di bidangnya. dimana sudah terspesialisasi
sedemikian rupa. Sehingga bukan saja diharapkan mampu bekerja sesuai
spesialisasinya tetapi sangat fungsional dalam tupoksinya
masing-masing dengan pembinaan terus-menerus melalui diklat yang
terencana Tugas fungsional sangat terkait erat bagi jajaran dalam
struktural karena diharapkan keputusan yang diambil tidak keluar dari
apa yang dihasilkan jajaran fungsional dalam hal ini tidak ada
dikriminasi reward yang harus diterima masing-masing pemangku baik di
fungsional maupun struktural. Kenyataan godaan struktural begitu besar
disisi lain jajaran fungsional tidak dapat fokus karena tidak ada
pembinaan yang secara konfrehensip berpihak/melindungi karier dan masa
depan mereka. Karena dibiarkan berlanjut tanpa terencana hingga
jadilah kelebihan pegawai. Hemat saya masalah klasik ini agar segera
diselesaikan. Karena sudah bukan jamannya menutup mata terhadap
berbagai tuntutan agar kita memberikan pelayanan terbaik transparan
dan akuntabel. 

Kalau saya boleh usul atas kelebihan pegawai DJPBN mungkin juga eselon
lain atau Kementerian/ Lembaga lain. Adalah peningkatan pelayanan
kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. "kesediaan penyediaan dana
pendidikan 20% dari APBN" meski sebatas approval belum menjadi
komitmen kita bersama sudah merupakan kemajuan yang luar biasa.
Keberhasilan dari komitmen tetap harus diuji dengan tahapan
imlementasi baru kemudian dievaluasi. Pada implementasi sering kali
kita mendapat kendala karena mindset. Mengubah mindset (Pola Pikir)
adalah inti dari self learning atau pembelajaran diri. Inilah yang
menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, tantangan dan
peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan,
kerja keras, komitmen untuk tercapainya keberhasilan visi dan tujuan
hidup kita.
Proses pembelajaran diri selalu dimulai dari perumusan visi dan misi
hidup. Inilah yang akan memandu arah dan jalan keberhasilan kita.
Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita dan menjadi seperti
apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu sebuah mindset yang
berkembang (growth mindset) yang akan menjadi katalisator dalam
merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan mengubahnya
menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan ketelatenan, usaha, dan
komitmen yang berkelanjutan, untuk menjadi berhasil, berkembang,
efisien, efektip, dan berkualitas.
Jawaban ini masih kurang fokus (bias) karena memang begitu luasnya
dimensi persoalan yang kita hadapi. 
Mohon maaf atas segala kekurangan semoga bermanfaat.

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke