Assalamu'alaikum wr. wb.

Miliser sekalian,

Rasanya lama sekali tidak ada yang pernah ngisi forum kita ini dengan renungan 
yang dulu sering muncul meramaikan hampir tiap Jum'at.  Untuk itu kali ini saya 
mencoba untuk mengajak kita semua untuk sejenak melupakan "perang plagiator" di 
forum ini.  Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat bagi kita semua.

Tulisan ini bukan tulisan saya sendiri, tapi saya ambil dari media ternama di 
Jawa Tengah, di rubrik Resonansi.  Mudah-mudahan bermanfaaat bagi kita sebagai 
orang tua dan calon orang tua.

Maaf Kalau ada yang kurang pas dengan postingan ini, selamat membaca bagi yang 
tertarik. 

Terima kasih 

Wassalmu'alaikum wr. wb.


"JANGAN DURHAKA PADA ANAK" 

Seorang teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari dia 
menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa, sebagai orang 
Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. 
Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi, kecuali seorang ibu 
dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan, terdengar 
teriakan si ibu dari seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan. "Hei, hei, ke 
Sini!" 
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi-lagi 
sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti ada 
apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu itu, ia 
dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross? Tahukah kamu, 
kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya
melanggar peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar 
peraturan itu sesuatu yang biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia melanggar 
peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu yang mengaitkan 
pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih mengejutkan. Begitu 
pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu pentingnya ibu itu menjaga 
memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjaga dalam perbuatan baik. Bagaimana 
dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang tua 
dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan 
anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di sekolahnya dan dapat 
mengikuti test masuk SMP dengan mudah. "Mudah-mudahan anak saya bisa masuk 
pilihan pertamanya!" harap sang bapak. 
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih 
tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya sudah 
mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes, dan 
guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan 
jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga saya menolak untuk 
membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja.
"Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!" Menurut sahibul gosip, 
melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena ada beberapa anak lain yang 
nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar sekian rupiah. Tentu saja yang 
membayarnya adalah orang tua, dan yang menerimanya adalah guru yang terhormat. 
Marilah kita bandingkan sikap dan tanggung jawab kita pada anak-anak. Keputusan 
untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak tentu didasari pilihan untuk 
memberikan kasih sayang yang terbaik buat sang anak, namun pada saat yang 
bersamaan kita telah menanamkan racun pada kesadaran anak-anak itu. Racun itu 
adalah: 1) uang bisa menyelesaikan segalanya; 2) tak usah berprestasi, 
biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa menambalnya. 
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar kita 
melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan 
anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat di 
relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat. Terlebih 
lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan yang semua aspeknya 
merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani. 
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini datang dari 
salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu tempat. Karena 
acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk membawa mobil itu bagi 
keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu harus berada di sini, 
menjemput Bapak!" ujar sang ayah. 
Pada jam yang ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit sang anak 
belum juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam. Lalu, sang anak 
datang dan mengajukan permohonan maafnya. "Baiklah kalau begitu," ujar sang 
ayah, "naikilah mobil itu, bawalah pulang. Bapak akan jalan kaki ke rumah!" 
Sang anak protes dan merasa bersalah. 
Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil berpesan, "Mengingkari janji 
adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini, kamu sudah melakukannya padaku. 
Semua itu pastilah bukan kesalahanmu, itu semua karena saya salah mengajarimu, 
Nak. Karena itu biarlah ayah menghukum diri, menghukum kesalahan pendidikanku 
padamu!" Sejak saat itu, sang anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita. Benarkah kita serius 
merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai amanah (titipan) dari Allah? 
Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan) Allah". Pada istilah ini terlihat 
relasi antara Allah dan kita yang
sedemikian akrab, Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan sesuatu 
yang berharga. Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai awalnya. Nilai 
awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah. 
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga 
pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat 
bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu rapuh, butuh 
tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai takaran. Kecenderungan benih 
adalah terus mencari cahaya, tetapi putik
kecil bisa saja ditipu --diberi cahaya palsu-- dan memercayainya seumur hidup. 
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak pernah 
menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi. Benih padi yang 
ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima benih fitrah 
"anak kita" dan mengembangkannya menjadi fitrah yang lebih baik? Sebuah hadis 
menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak ada yang bisa menolong dari 
siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang anak. Tentu saja, maksud hadis ini 
bila sang anak, "titipan Allah" itu, telah kita jaga dan tumbuh tetap berada 
dalam fitrahnya, maka kita akan mendapatkan hadiah dari Tuhan karena telah 
menjaga amanahnya dengan baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan mengecup 
lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini telah 
memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan pertengkaran, serta tidak 
memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan pada Allah karena 
titipan-Nya belum dirawat secara baik. Tersenyumlah, anak-anak menunggu 
ketulusan kita!


Kirim email ke