Dear Milisers,
Bbrp wkt lalu gw baca Harian Terbit yg memuat brita dg judul serem: “Menkeu
didesak bubarkan Ditjen Perbendaharaan”. Stelah baca brita tsb, alih-alih
marah, gw justru kasian ma sang Ketua Umum LSM Deras. Prtanyaan gw, apa
aktivis LSM msti jd Spesialis Tukang-Kritik n ga prlu/boleh jd Spesialis
Tukang-Solusi? Apa jdnya klo usulan sang Ketua Umum LSM tsb dipenuhi? Yang
salah n prlu introspeksi itu ia yang asbun, or kta yang ga kasih sosialisasi
kpdnya sblmnya? Bagi mrka yg trtarik u mmbaca britanya, silakn klik
http://www.harianterbit.com/artikel/artikel.php?aid=68785
Wkt gw mnta sobat gw u komentar ttg brita tsb, ia bilng : “Jangan pahami apa
yang ia katakan secara harfiah, secara apa adanya. Ambil aja esensinya.
Mungkin yang ia maksud bukan ‘bubarkan’, tapi ‘reform’.”
“Apanya yang mesti direform, wong substansi pesannya aja ga jelas. Ga
nyambung”, cetus gw.
“Supaya nyambung, ya jelasin aja ke Ketua Umum LSM Deras dan Redaksi Harian
Terbit mengenai pasal 19 PER-59/PB/2007 tentang sanksi denda kepada BO Pusat.
Gitu aja kok repot”, komentar sobat gw.
>From Bayu Biru with Love
Ketik AJ spasi UTKD...Apa Jadinya kalau Usulan “Tukang Kritik” Dipenuhi?…