Met Pagi, Milisers.

Ada 2 hal yg mnrt gw mnarik dari tulisan Iman Sugema (IS) di Kompas 11 Mei 2010 
(Sri Mulyani “Outside”) trkait dg klemahan Sri Mulyani (SMI).  Klo forum milis 
ini dah biasa mnyiarkan hal2 positip ttg SMI, sbaliknya IS dah biasa mnonjolkan 
apa2 yg kurang dari SMI ato klompok lainnya yg (dnilai) berbau neolib.  As long 
as tujuannya bener2 tulus positip (demi ksejahteraan rakyat n kemajuan bangsa), 
mnrt gw sih, perspektik positip or negatip ga trlalu masalah. Yg jd masalah tuh 
klo the hidden goal is cma utk mlanggengkan/mnjatuhkan/mrebut/ mmpermainkan 
Kekuasaan. The problem is gmana cara ngebuktiin that the real goal is that one.

The first thing, mnrt IS, SMI tuh trlalu sering brsikap arogan.  Brikut kutipan 
tulisannya, “..terlalu sering SMI secara naïf dan berlebihan menampilkan 
superioritas akademis di hadapan para politisi dan pengusaha. Latar belakang 
akademis seperti doktor dan professor memang penting dalam mendongkrak 
kredibilitas, tetapi itu bukan instrumen untuk unjuk gigi. Terlalu sering saya 
mendapatkan keluhan dari para politisi dan pengusaha yang merasa gaya 
komunikasi SMI bernada melecehkan”      

Mnrt gw, ada 2 sifat manusia yg sulit ato ga mungkin bsa akur.  Yang satu klo 
bicara cnderung ceplas-ceplos n lbh trbuka/jujur, sdang yg lain klo bicara 
trlalu hati2 n ga mau mlukai prasaan orang (“tepo seliro”).  Yang satu sisi 
positipnya tuh ia jujur, polos n apa adanya. Tp negatipnya ia kadang/sering 
kelewatan n mlukai hati orang. Sedangkan yg lain sisi positipnya ia bsa 
kndalikan bicaranya so ga mlukai hati orang. Tp sisi negatipnya ia 
kadang/sering ga jujur n cnderung mnutup-nutupi ksalahan orang, trutama his/her 
Boss (“mikul nduwur mendem jero”), so that komunikasinya bsa ga nyambung.

Tentu yg kita mau sih bsa jujur n sopan skaligus. Tp ktika kita brhadapan dg 
orang2 trtentu, klo kita bicara jujur or apa adanya tuh pasti mreka akan 
menilai kita ga sopan. In other word, klo pun kita dah bsa jujur n sopan 
skaligus, ttap akan ada orang yg ga suka dg kita. Selain itu, sifat 
ceplas-ceplos n “tepo seliro” tuh kbanyakan emang mrupakan “sifat bawaan” 
genetik dari sononya yg sulit or ga mungkn bsa diubah.  Regarding sifat arogan 
SMI yg dsebut IS, klo aja ada contoh kongkrit kalimat2 SMI yg dmaksud, mungkn 
kita bsa diskusi ttg to what extent SMI mnggunakan superioritas akademisnya utk 
unjuk gigi n melecehkan lawan bicaranya.  Well, I think that is debatable.

The second thing, mnrt IS, SMI mnafsirkan jabatan Menteri sbg murni jabatn 
profesional padahal udah jelas jabatan tsb adalah jabatan politis n at the end 
jabatan itu hrs dprtanggungjwbkan scara politis. Based on that IS heran wkt 
kasus Century dbawa ke ranah politik kok SMI n her gang jd uring2-an. Mnrt IS, 
“setiap keputusan dan kebijakan di bidang ekonomi dan keuangan harus bisa 
dipertanggungjawabkan secara politis.”

Jujur aja gw mash blm ngerti apa persisnya yg dmaksud dg “pertanggungjawaban 
secara politis”.  Klo “pertanggungjawaban secara profesional” sih gw rasanya 
ngerti bangt. IS ngasih contoh “pertanggungjawaban politis” dg mnunjuk kasus 
prtanggungjwbn Presiden Habibie dan Presiden Gus Dur yg dtolak oleh “Wakil 
Rakyat”.  Tp setau gw, dlm sistem presidensial, Menteri brtanggungjwb (secara 
politis) kpd Presiden n Presiden punya hak prerogatif utk mmbrentikannya. The 
question is siapa yg hrs mmpertanggungjwbkan suatu kebijakan publik n kpd 
siapa?  It coud be debatable.

Tp mnrt gw, kebijakan publik tuh kebijakan pemerintah. Overall, Presiden (bukan 
Menteri) yg hrs mmpertanggungjwbkannya kpd publik (rakyat). Klo pun kebijakan 
publik itu diteken oleh Menteri or pmbantu Presiden lainnya (krn ia terima 
mandat dari Presiden), ttap Presiden yg hrs mmpertanggungjwbkan kebijakan 
publik (secara politis) kpd rakyat. Of course, Presiden punya hak utk tdk 
mnyetujui or mmbatalkan kebijakan publik yg sdh dteken/dputuskan oleh 
pmbantu2nya.  The question is kapan Presiden hrs mnyampaikan pertanggungjwban 
kebijakan2 publiknya kpd rakyat, n apakh prtanggungjwban tsb dpt berimplikasi 
pd dilengserkannya Presiden oleh “Wakil Rakyat” sblm masa jabatnnya berakhir?  
I think it remains debatable.  

Btw, gw sengaja ga jawab prtanyaan tsb spy gw ga distempel “TSJS” (Tanya 
Sendiri n Jawab Sendiri) oleh Pembaca.  Kata Sutradara juga, skenario film yg 
bagus tuh klo ceritanya Never Ending.  Biarkan penontonnya berimajinasi 
sendiri.  


>From Bayu Biru with Love,

Ketik : SD coz INCS in D & in R…...Something Debatable because It’s Not  
Clearly Stated in Discussion as well as in Regulation…...


      

Kirim email ke