Sumber : www.taushiyah- online.com
  Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian 
sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, 
tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. 
Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai. 
  Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu 
lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut 
tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang 
menutup hampir seluruh tubuh. 
  Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia 
saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah 
banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan 
sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin 
teranggap kecil, tapi berdampak besar. 
  Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau 
sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan 
Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan 
ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt. 
  Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah 
r.a. “Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap 
malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba 
kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka 
menukar agama karena sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) 
  Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. 
Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan 
istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. 
Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh. 
  Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang 
dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya 
seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan 
selama ini. 
  Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu 
taubat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah 
mengatakan, “Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa 
sebagaimana kamu mencintainya.” 
  Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan 
Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan 
Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan 
mensucikan diri. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan 
menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) 
  Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas 
tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi 
hamba-hamba- Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis 
riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. “Sesungguhnya Allah membentangkan 
tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan 
pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”
Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan 
membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu 
terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah 
yang Maha Pengampun lagi Penyayang. 
  Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. 
Orang model ini selalu mengatakan, “Besok saya akan taubat.” Ibnu Abas r.a. 
meriwayatkan, berkata Nabi saw. “Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan 
taubat (musawwifuun).” Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, 
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.“ 
  Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., “Iblis berkata, aku 
hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. 
Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. 
Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa 
nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.” 
  Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat 
kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. 
Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki 
kembali maksiat. 
  Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah 
dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, 
atau taubat yang sungguh-sungguh. 
  Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan 
dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang 
telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa. 
  Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan 
dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah 
dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajiban nya terhadap 
Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang tumbuh di dalam 
dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan 
mujahadah. 
  Hanya Alahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan 
sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari 
orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak 
orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal 
baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban. 
  Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. 
Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh 
berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar. 
  Sumber : www.taushiyah- online.com

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke