Note: forwarded message attached.
       
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.
--- Begin Message ---
 
  Tahun 2008 merupakan tahun impian bank syariah, sebab di tahun tersebut bank 
syariah harus mencapai share market sebesar 5% dari jumlah share market saat 
ini yang hanya berjumlah 1,7%. Target tersebut--merupakan  ambisius oleh pelaku 
perbankan syariah melihat dari asset perbankan syariah yang masih kecil. 
   
  Apa boleh buat? Genderang akselerasi telah di tabuh oleh  Bank Indonesia (BI) 
dengan membuat blue print yang di patok 5%. Patokan 5% yang dilakukan oleh BI 
dianggap beberapa pengamat ekonomi--sesuatu yang sangat tidak rasional. Faisal 
Basri pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) saat berbicara di Bank 
Syariah Mandiri (BSM) mengatakan sangat imposible terget tersebut. Dia 
memprediksikan tahun 2008 hanya 3% saja dan tidak lebih. 
   
  Faisal memberikan alasan kenapa 3%, sebab  pemahaman masyarakat tentang 
ekonomi syariah masih kurang selain itu edukasi masyarakat tentang ekonomi 
syariah belum sepenuhnya diperoleh. Praktis katamya, 1,7% merupakan segmentasi 
emosional market dan bukan rasional market. Dalam konteks ini, lembaga keuangan 
syariah belum mampu memberikan rasional market.
   
  Lebih jauh dalam acara Indonesia Sharia Expo yang diselenggarakan di JCC 
kemarin 28 Oktober, Faisal menuturkan, bahwa pelaku perbankan syariah masih 
mengacu kreatifitas konvensional. Seperti ketika bank konvensional membuat 
kartu kredit, bank syariah juga membuat kartu kredit. Dalam konteks ini bank 
syariah belum memiliki ceruk yang tepat untuk dikembangkan dan manarik bagi 
rasional market.
   
  Melihat realitas itu, bagaimana berbicara tentang akselerasi bank syariah? 
Dalam hemat penulis untuk mengembangkan perbankan syariah--strategi jitu patut 
diberikan pada Achmad Riawan Amien, Direktur Bank Muamalat Indonesia. Untuk 
mengembangkan perbankan syariah, dia membuat sistem Sharia Deposit Arrangement 
(SHADR), yaitu suatu sistem layanan perbankan interkoneksi antar perbankan 
syariah. Sehingga bank syariah yang tidak memiliki cabang, bisa melakukan 
transfer ke bank Muamalat atau ke bank yang menjadi jaringan SHADR diantaranya 
adalah Bank Riau, Bank SUMUT, Bank Bukopin dan Bank Jabar. Jadi apa yang 
dilakukan oleh Riawan Amin merupakan hal yang strategis dalam mengembangkan 
perbankan syariah di Indonesia.
   
  Begitu juga yang dilakukan oleh oragnisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)  
dan Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES). Dalam program-program mereka 
sangat progresif dalam mendukung percepatan pengetahuan dan pemahaman 
masyarakat terhadap ekonomi syariah. Dalam program kegiatannya MES melakukan 
Seminar bulanan dengan tema  perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Program 
tersebut bagian dari sosialisasi ekonomi syariah pada masyarakat dan patut di 
sayangkan seminar tersebut bersifat elitis dan para pembicara dan audian yang 
hadir dalam tiap bulan tidak pernah berubah sama sekali.(itu-itu saja). 
Tambahlagi tawaran-tawaran tema yang disodorkan hanya bicara masalah produk dan 
perbankan saja, tema-tema yang progresif  dan aktual seperti Bagaimana 
Indonesia Keluar dari Jeratan Neo-liberal (IMF) dan Bagaimana Pengemplang dana 
BLBI bisa di tangkap. Tema tersebut jauh dari kajian MES. Dan mereka kalah 
dengan kajian yang diberikan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pimpinan Ismail
 Yusanto, yang sangat kritis membuat kajian dan seminar tentang ekonomi yang 
aktual dan progresif seperti, Rontoknya Saham-Saham Dunia dengan menghadirkan 
Rizal Ramli dan Fuad Bawazier, di hotel Sahid beberapa waktu yang lalu. 
   
  Langkah mensosialisasikan ekonomi syariah, menarik dilakukan oleh PKES, 
diantaranya masyarakat sudah banyak memperoleh buku-buku tentang pengenalan 
ekonomi syariah, seperti buku Lembaga Keuangan Syariah, Cara Mendirikan BMT, 
Gerakan Tiga-H, Tanya Jawab Ekonomi Syariah, Lembar Ekonomi Syariah (LES), 
Website Pkes_interactive. Palatihan Ekonomi Syariah. 
   
  Dalam hemat penulis, apa yang dilakukan PKES merupakan jawaban realitas dari 
masyarakat saat ini yang belum banyak mengetahui dan memahami ekonomi syariah. 
Dengan harapan banyaknya informasi baik dari buku, internet dan pelatihan dan 
sarasehan masyarakat dari berbagai lapisan bisa memahami ekonomi syariah. Sebab 
kenapa masyarakat tidak menggunakan jasa perbankan syariah karena mereka belum 
banyak mengetahui informasi  apa itu ekonomi syariah. 
   
  Lantas apa yang dilakukan BI dan Depkeu?
   
  Dalam dekade terakhir yang dilakukan BI dalam akselerasi perbankan syariah  
dengan menerbitkan logo IB (Islamic bank) sambil mengiklankan IB di berbagai TV 
yang materinya tidak jelas dan absurt. Selain itu persoalan akselerasi jauh 
dari rasa tanggung jawab. Mengapa? Untuk bank syariah membuat office chanelling 
sebagai program IB dibutuhkan modal IT yang sangat besar selain itu dibutuhkan 
kualitas SDM yang banyak dalam akselerasi. 
   
  Hanawijaya (Direktur BSM), dalam statemennya di  Republika mengungkapkan, 
untuk akselerasi bank syariah--BI harus memberikan subsidi pada perbankan 
syariah untuk digunakan dalam pelatihan SDM dan membuka jaringan. Jika 
akselerasi dibebankan pada bank syariah dan tidak ada dukungan   oleh BI dan 
Depkeu maka sangat berat itu dilakukan.
   
  Apa yang dikatakan Hanawijaya--merupakan rambu bagi BI khususnya Direktorat 
Perbankan Syariah untuk lebih komit dalam mendukung akselerasi. Sebab majunya 
bank syariah dan datangnya Investor Timur Tengah yang memiliki dampak adalah 
pemerintah khususnya BI dan Dapartemen Keuangan.
   
  Maka dalam hal ini, saya berharap dalam akselerasi bank syariah BI dan Depkeu 
lebih tanggung jawab bukan hanya sekedar moril tapi juga dana yang bisa 
menunjang bagi Bank syariah untuk mengembangkan akselerasi. 
   
  Jangan sampai BI dan Depkeu hanya bicara tentang kebijakan-kebijakan dan 
omong doang belaka. Tapi BI dan Depkeu lebih agresif dalam mendukung 
pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
   
  Begitu juga dalam melakukan sosialisasi ekonomi syariah--BI hanya sekedar 
berpangku tangan dan membuat sosialisasi yang tidak jelas arahnya. Dan 
lembaga-lembaga yang gigih berjuang untuk ekonomi syariah seperti, IAEI, AAKSI, 
AASI, PKES, MES, FoSSEI, Asbisindo mengalami kekurangan energi dalam berjuang.
   
  Sekali lagi tanggung jawab BI harus jelas dan mampu bersinergi dengan 
berbagai elemen komunitas ekonomi syariah sehingga akselerasi perbankan syariah 
mampu 5%.
   
   
  Wassallam.  
   
   
   
   .   
   
   
   
   
   
   
       
   
    
   
   
   
    

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

--- End Message ---

Kirim email ke