Tuntunan Dan Tontonan
   
  Terkadang kita mendengar ungkapan jangan jadikan tuntunan sebagai tontonan 
dan tontonan sebagai tuntunan. Tentunya tuntunan dalam posisinya sebagai AL Haq 
dan tontonan dalam posisinya sebagai Al Bathil. Meskipun dari sisi penulisan 
memiliki perbedaan yang kecil yaitu huruf vokal u dan o namun secara makna 
keduanya sangatlah bersebrangan . Tontonan secara bahasa berarti pertunjukan 
dan tuntunan secara bahasa berarti bimbingan, petunjuk atau pedoman. Walaupun 
dalam praktek lapangannya terkadang menjadi terbalik, tontonan menjadi tuntunan 
dan tuntunan menjadi tontonan. Bila ini yang terjadi maka kita bisa 
membayangkan apa yang akan terjadi.
   
  Tuntunan berarti tata nilai yang dengan tata nilai tersebut seseorang atau 
sekelompok orang akan beroleh petunjuk dalam menapaki jalan kehidupan. Dengan 
demikian tuntunan tidak akan berdiri sendiri, akan tetapi dia membutuhkan 
pembawa nilai yang akan menda’wahkannya ke tengah umat. Nilai dan pembawa niali 
ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan, yang satu menguatkan yang 
lain. Sebenar apapun nilai tuntunan manakala pembawa nilainya tidak 
merepresentasikan nilai yang dibawa maka nilai tersebut sulit dibumikan. Bisa 
jadi dalam kondisi seperti ini tuntunan akan menjadi tontonan alias dicemooh 
dan dilecehkan. Namun sebaliknya jika si pembawa nilai menghayati  nilai 
kebaikan yang dibawa meskipun nilai tersebut bukanlah kebenaran bisa jadi nilai 
tersebut tetap bertahan di tengah kehidupan.
   
  Sedemikian teramat penting dan strategisnya pembawa risalah dalam mengemban 
posisi sebagai juru da’wah. Ketauladanan menjadi harga mati buat mereka yang 
akan membawa misi mulia. Tidak ada satupun Nabi yang tidak menjadi tauladan 
bagi kaumnya. Mereka tidak akan bicara sebelum mereka mengerjakan sebuah seruan 
dan menyerukan kepada keluarganya. Pembawa risalah adalah bagian yang sulit 
dipisahkan dari tuntunan itu sendiri. Ketika dia mampu mempertontonkan nilai 
secara konsisten maka dia akan menjadi penguat tuntunan, dan dia akan menjadi 
tokoh yang mengagumkan.
  Empat puluh tahun bukanlah waktu yang pendek yang dibutuhkan Rasulullah SAW 
untuk mempersiapkan diri menjadi penyeru. Tidak cukup keturunan dan nasab 
mulianya yang disandang sebagai modal dalam berda’wah. Beliau harus membayar 
kepercayaan kaumnya dengan ketauladanan dalam berbagai sisi kehidupan. Bahkan 
gelaran Al Amin yang disematkan kaumnya terasa belum cukup ketika beliau 
menyeru da’wahnya di awal waktu. Namun konsistensi beliau terhadap nilai 
dalamposisi susah maupun senang membuat tingkat kepercayaan umat makin hari 
makin menguat. Di atas perilaku yang agung inilah nilai kebenaran mampu 
mengalami loncatan-loncatan besar karena kredibilitas  Rasulullah SAW tak 
pernah mengalami kecacatan. Wajar jika ketauladanan menjadi modal besar 
pengokoh risalah dan gerakan da’wah.
   
  Ketauladanan merupakan sunnatullah dalam da’wah yang tidak terbantahkan. 
Sepanjang sejarah da’wah dan pergerakan nilai ketauladanan menjadi nilai lekat 
yang tidak boleh tergadaikan. Wajar sekiranya Al Mawardi menempatkan Al Adalah 
(kesempurnaan secara moral) sebagai persyaratan pertama sebelum persyaratan 
yang lainnya. Karena orang yang tidak mampu mengekang nafsunya ke jalan yang 
dikehendaki Allah SWT akan lebih tidak mampu mengekang nafsu orang lain. Dan 
tugas pemimpin yang paling utama adalah mengarahkan umat ke jalan yang diridhoi 
Allah SWT. Ada ungkapan : “Orang yang tidak punya tidak akan memberi”
   
  Keteladanan seseorang di hadapan seribu orang jauh lebih baik daripada 
perkataan seribu orang di hadapan satu orang. Keteladanan adalah ruh 
penyemangat, spirit perjuangan, dan dorongan pengorbanan. Jangankan melihat 
episode keteladanan di medan nyata, membaca kisah keteladanan melalu kisah pun 
membuat air mata berlinang, bahkan dia mampu menghadirkan ruh baru dan semangat 
baru. Karenanya atsar keteladanan membuat tsiqoh makin kokoh dan kerja makin 
luar biasa. Ketaatan dan pengorbanan sebagai tungku pergerakan tak akan pernah 
padam, selama ketauladanan terjaga dan terpelihara. Jundi tidak akan 
mempertanyakan karena memang tidak ada yang pantas untuk dipertanyakan, tidak 
ada penolakan partisipasi apalagi sampai pada tingkatan mengkritisi dalam 
bentuk kecurigaan.
   
  Sudah menjadi kelaziman bahwa kepemimpinan tidak akan berarti tanpa dukungan. 
Para pendukung akan memberikan loyalitasnya dalam bentuk ketaatan jika 
pemimpinnya memiliki kelayakan untuk dipercaya. Di sinilah letak kekuatan Islam 
dan da’wahnya sebagaimana digambarkan oleh Umar bin Khothob. Tidak ada Islam 
tanpa jama’ah dan tidak ada jama’ah tanpa kepemimpinan dan tidak ada 
kepemimpinan tanpa ketaatan. Dari sini kita memahami bahwa ada hubungan imbal 
balik antara pemimpin dan yang dipimpin. Ikatan di antara kedu abelah pihak 
tersebut adalah ketaatan dan kepercayaan.
   
  Setiap pemimpin harus berani membayar dukungan yang diberikan kepadanya. 
Bayaran yang harus dikeluarkan bisa berupa material atau spiritual. Bayaran 
dukungan dalam bentuk material adalah bayaran termurah. Pada saat terjadi 
kesepakatan nilai material dan transaksi dilaksanakan maka selesai pula 
segalanya. Tuntutan setelah terjadinya transaksi tidak lagi menjadi keharusan. 
Transaksi tersebut ibarat transaksi perdagangan. Dukungan dengan bayaran 
material karena nilainya murah maka dukungannyapun bersifat sesaat dan tidak 
permanen.
   
  Dukungan spritual sekilas sepertinya dukungan cuma-cuma karena memang bisa 
jadi tak ada nilai material yang dikeluarkan dari pihak yang didukung. Karena 
tidak ada transaksi material, sebagian orang menganggap dukungan spiritual 
sebagai barang gratisan. Justru dukungan spiritual adalah dukungan yang 
permanen karena dia berangkat dari sebuah kesamaan visi. Pendukung dan yang 
didukung memiliki sebuah cita-cita besar yang sama-sama sedang diperjuangkan. 
Si pendukung bukan hanya tidak dibayar, bahkan dia rela mengorbankan segalanya 
karena dorongan cita-cita yangs edang diperjuangkan.
   
  Menjadi keharusan bagi tokoh yang didukung dengan dukungan spiritual untuk 
membayar dukungannya secara maksimal. Mengingat titipan cita-cita besar yang 
ada pada tokoh mereka, maka para pendukung selalu melakukan pengawasan dan 
evaluasi. Tokoh yang membawa nilai tuntunan kini sedang menjadi tontonan. 
Diminta atau tidak diminta, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, tokoh ini 
akan mendapat sorotan. Seluruh langkah hidupnya, mulai dari yang kecil hingga 
besar, akan selalu dalam pantauan. Setiap mata selalu tertuju kepadanya, setiap 
lisan tak akan lepas dari berbicara tentang ketokohan dirinya. Ketika tontonan 
yang diperlihatkan adalah tontonan yang bermutu, maka ada kepuasan yang telah 
tertunaikan. Namun jika sebaliknya, maka akan menyisakan kekecewaan.
   
  Di musim paceklik yang berkepanjangan, madinah mengalami krisis sandang dan 
pangan, hingga bantuanpun mengalir dari berbagai wilayah. Setiap orang berhak 
mendapat satu potong bahan pakaian tanpa kecuali dari bantuan yang diperoleh. 
Ketika Umar bin Khothob akan menyampaikan pidato di hadapan rakyatnya, ada 
pertanyaan keras tertuju kepada beliau, “Kami tidak akan mendengarkan pidato 
anda, sebelum anda menjelaskan dari mana baju yang anda peroleh?”. Begitu 
sergah si penanya. Hari itu Umar bin Khothob berpakaian sama seperti pakaian 
yang mereka kenakan meskipun beliau pemimpin negara. Karena badan Umar bin 
Khothob besar, si penanya curiga kalau beliau mengambil hak lebih dari orang 
lainnya. Meskipun di tengah kuasanya beliau tidak membangun rumah besar dan 
berkendaraan mewah, namun karena dirinya sedang memerankan tokoh harapan, maka 
dirinya tak luput dari sorotan.
   
  Keteladanan dan kebenaran adalah dua sayap yang tidak dapat dipisahkan. 
Ketika krisis ketauladanan melanda apalagi mewabah, maka guncangan tsiqoh tidak 
dapat dihindari. Wibawa pemimpin akan sirna dan kesakralan jama’ah berikut 
lembaganya akan memudar. Patahnya sayap ketauladanan bahkan membuat sebagian 
orang meninggalkan kebenaran. Padahal ketauladanan bukanlah kebenaran itu 
sendiri. Kehidupan berjama’ah terasa hambar, bahkan sebagian orang merasakan 
berjama’ah sebagai hambatan dan beban. Luapan isu akan tumpah ke mana-mana, 
saling curiga mencurigaipun akan terjadi. Keterikatan dan keterlibatan dengan 
jama’ah makin mengendur, partisipasi sulit diharapkan. Andaikan pada hari itu 
ada kerja dalam jama’ah, maka kerjanya tidak seheroik di masa sebelumnya. Kerja 
yang etrjadi pada hari itu tidak lagi termaknai sebagai sebuah perjuangan, 
karena bukan berangkat dari ghiroh dan perasaan riho. Boleh jadi orang yang 
bekerja pada hari itu berangkat karena perasaan terpaksa.
 Na’udzubillah.
   
  Dikeluarkan oleh : Deputy Kaderisasi, Bidang Pembinaan Kader, DPW PKS DKI 
Jakarta.


 
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke