Tiga Poin Kandungan Surat Al Maidah Ayat 3  Setiap yang berawalan pasti 
mempunyai akhiran, sebagaimana kita ketahui, ada awal bulan , pasti ada akhir 
bulan. Ada awal tahun ada akhir tahun. Seperti halnya ada kelahiran pasti ada 
kematian. Sesaat pada tanggal 9 dzulhijjah, merupakan tahun ke 10 Hijriyah, 
ketika Rasulullah berada di padang arafah, beliau berada di atas onta yang 
diberi nama Lebbah. Beliau menerima wahyu terakhir, di akhir tahun ke-10 
Hijriyah, yaitu surat Al Maidah ayat 3, yang mana di ayat terakhir ini 
mengandung tiga poin penting yang merupakan pemberitahuan sekaligus peringatan 
buat Rasulullah sekaligus bagi umatnya.
  Poin pertama : “Hari ini aku sempurnakan bagimu Agamamu”. Maka sejak saat itu 
syariat Islam telah sempurna, tidak perlu ada revisi, baik pengurangan, maupun 
penambahan. Syahadadnya, Salatnya, Zakatnya, puasa dan hajinya semuanya telah 
disyariatkan secara sempurna.
  Akan tetapi dalam kenyataannya, pada akhir zaman ini, ada yang menyatakan 
salat tidak perlu lagi dengan gerakan rukuk, sujud, tidak perlu lagi tasyahud 
awal dan akhir, cukup dengan niat. Ini adalah pemahaman baru (memasuki 
pemahaman aliran kepercayaan -red), niat adalah merupakan rukun dari salat dan 
tidak berarti salat orang yang mengerjakan salat tanpa niat. Rasulullah 
menyatakan: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu digantungkan pada niatnya”. 
Akan tetapi jika salat itu hanya niat saja sudah cukup, itu bukan salat namanya.
  Sebagai lukisan sederhana kami mengutip buku Islam Agama Rasional, karya 
Mehdi Khorasani-A.F.B. Baines-Hewitt, tentang pengalaman Mohammad Asad. Sebelum 
masuk Islam bernama Leopold Weiss. Dalam perjalanannya ke Negara-negra Islam. 
Leopold Weiss melihat kaum muslimin sembahyang berjamaah di suatu desa. 
  Ia bertanya pada imam desa itu: “Apakah Tuan sesungguhnya bahwa Tuhan 
menghendaki supaya tuan-tuan perlihatkan penghormatan kepada-Nya dengan 
berulang-ulang, Rukuk, dan sujud kepadanya? Tidakkah lebih baik apabila hanya 
dengan melihat kedalam hati dan menyembahnya dengan diam-diam?” 
  Imam desa itu menjawab: ”betapa pula kami akan menyembah Tuhan? Bukankah ia 
menciptakan manusia dalam bentuk jasmani dan rohani, tidakkah patut orang 
menyembah Dia dengan rohani dan jasmani.
  Agama Islam bukan saja menganggap jiwa manusia itu sebagai struktur, tertapi 
seluruh wujud kemanusiaan merupakan suatu struktur yang bulat. Istilah ‘hati’ 
dan ‘akal’ lebih merupakan pengucapan simbolik.
  Di sinilah kesempurnaan Islam yang menghargai kegiatan lahir dan juga 
kegiatan batin dan kedua-duanya membutuhkan makan dan perawatan kesehatan yang 
sama agar sehat badan jasmani dan rohaninya, sehingga firman Allah: “carilah 
kebahagiaan akhirat , akan tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia ini”. 
(Qs.al-qashas.77)
  Rasulullah bersabda: ”Salatlah kamu semua seperti saya salat”. Dengan 
demikian berarti Rasulullah mengerjakan salat. Akan tetapi mengapa agama 
sekarang diartikan secara dangkal? Perintah Rasulullah itu adalah merupakan 
ibadah praktik dan umat Islam tidak boleh begitu saja meninggalkan praktik 
ibadah tersebut. Mereka menganggapnya ritual itu bisa diubah-ubah, disesuaikan 
dengan zaman dan kesibukan manusia, sehingga mereka yang tidak mengerti syariat 
secara sempurna dianggapnya hal itu tidak efektif, dan efesien. Ini adalah 
Dajjal (pembohong besar), yang sangat perlu diwaspadai dan dicermati, sehingga 
tidak menjalar kepada masyarakat Islam awam lainnya.
  Konsekwensinya, jika salat hanya cukup dengan niat saja, maka masjid-masjid 
di seluruh duania harus dibongkar dan diganti dengan mall dan supermarket. 
Paham ini dipersilakan jika berani menghadapi umat Islam di seluruh dunia, 
sebab efeknya seakan tidak perlu lagi ka’bah dan masjid Nabawi, serta Masjidil 
Haram. Itu semua harus dibongkar karena tidak efektif dan efisien.
  Jika salat tidak perlu rukuk dan sujud dan cukup hanya dengan niat saja, 
padahal masjid adalah merupakan tempat untuk rukuk dan sujud, demi kemulyaan 
Islam dan Al-Islamu Yaklu wala Yukla alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang 
melebihinya), maka Dengan rendah hati saya tantang, siapa pun yang mempunyai 
faham salat tidak perlu rukuk dan sujud. Hanya cukup dengan niat saja. Marilah 
kita cari kebenaran, mari kita adakan dialog terbuka dan saya sanggup 
menghadirinya. Asalkan berdasrkan Alquran dan sunnah rasul. Maaf tidak 
berdasarkan primbon.
  Semua syariat Islam itu sudah sempurna, yang dikumpulkan dalam suatu wadah 
yang bernama ‘agama’ yang artinya ‘tidak kocar kacir’ atau dalam arti lain 
dalam bahasa sansekertanya: A = tidak, dan Gama = rusak. Artinya (orang yang 
beragama tidak akan mengalamai kerusakan). Atau disebut juga 
”Addienun-Naasihah”; (agama itu adalah nasihat). Di sini siapa pun yang dalam 
hidupnya tidak ingin kocar-kacir, rusak dan mendapatkan petunjuk maka 
beragamalah.
  Poin kedua : “Dan aku cukupkan nikmatku bagimu”. Sejak kurang lebih 1500 
tahun yang lalu, nikmat yang telah diberikan Allah itu sudah sempurna, dan 
bahkan seandainya kita diperintahkan untuk menghitung-hitung nikmat yang 
diberikan oleh Allah, kita tidak akan mampu menghitungnya. Saking besarnya 
karunia nikmat itu, dan itu wajib kita syukuri.
  Allah berfirman :”wamaa uutiitum minal ilmi illa qoliila”, (Dan tidaklah aku 
berikan kepada kamu semua ilmu, kecuali sedikit). Ahli tafsir mengatakan jarum 
dimasukkan ke dalam lautan, kemudian diangkat. Tetesan air yang ada pada jarum 
itulah yang diberikan Allah, yang diperebutkan oleh seluruh manusia di dunia.
  Akan tetapi nikmat itu tidak akan cukup jika tidak digabungkan dengan agama. 
Dengan Agamalah nikmat itu terasa sebagai anugerah dari Allah Swt. Disinilah 
kita akan menemukan kepuasan batin didalam pengabdian sebagai hamba.
  Poin ketiga : “Dan aku ridho Islam itu sebagai Agamamu”. Kita hidup di dunia 
ini adalah sebagai konsumen nikmat Allah. Jika kita beriman, kemudian beramal 
salih, saling berwasiat kepada kebenaran dan saling berwasiat kepada kesabaran, 
maka Allah telah bersumpah demi masa, manusia tidak akan merugi.
  Marilah kita menjaga agama ini dengan ibadah sesuai dengan syariatnya yang 
benar, sesuai dengan yang telah disyariatkan oleh Rasulullah Saw. Mudah mudahan 
anak keturunan kita menjadi generasi yang salih dan salihah dan menjadi 
pemimpin bagi umat yang bertakwa, dan keluarga kita menjadi keluarga yang 
sakinah, mawaddah, warahmah serta selamat dunia dan akheranya. Amiim ya robbal 
aalamiin
   
   
  KH. Machmud Thowi
  mambaussholihin.com 

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke